Jika Bisa Tingkatkan Ekspor, Melemahnya Nilai Rupiah Tak Berpengaruh bagi Kalsel

TERJADI pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel Herawanto optimis perekonomian Kalsel tetap kokoh.

MENGINGAT, perekonomian Kalsel lebih berbasis pertambangan, serta didukung sektor pertanian dan perkebunan. Apalagi jika Kalsel bisa meningkatkan volume ekspor barang, maka pelemahan nilai rupiah menjadi tak berpengaruh bagi Kalsel

“Ini menjadi kekuatan bagi perekonomian Kalsel, dan pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah tidak terlalu signifikan,” ujarnya kepada jejakrekam.com.

Terkait kenaikan nilai tukar dolar, menurutnya, justru akan meningkatkan harga jual komoditas ekspor. Hanya saja, memang ada pengaruh bagi konten impor yang tinggi, seperti peralatan mesin.

Namun, lanjutnya, penghitungan kenaikan tersebut juga tak serta merta saklak, misalnya selisih dolar Rp 2.000, lantas barang juga akan naik Rp 2.000 rupiah, tetapi selisih kenaikan tersebut menghitung sejumlah komponen lokal yang ada di dalamnya, seperti barang makan maka akan naik hingga 3 persen dari harga semula. Hanya saja untuk barang-barang seperti mesin kenaikannya cukup tinggi.

Karenanya, ia menilai bahwa perekonomian Kalsel cukup kokoh. Namun, seiring menipisnya sumber daya alam, maka sudah saatnya daerah memberdayaan komoditas di sektor lainnya, terutama pertanian dan perkebunan yang kemudian terus meningkatnya, ekspornya. “Ini langkah yang harus kita lakukan,” pungkasnya.

Data Dinas Perdagangan Kalsel, ekspor produk barang sejak Januari hingga Juli 2018 naik sebesar 9,94 persen dibanding tahun 2017.

Kenaikan ekspor barang Kalsel tersebut, yaitu karet alam, kelapa sawit, produk kayu, produk rotan, perikanan, produk tambang batubara, kliker, batu besi/biji besi pasir sirkon, semen, nikel dan produk lainnya, dengan total volume 82.949.899.585,04 kilogram dengan nilai 5.700.484.962,15 dolar Amerika. (jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Andi Oktaviani
Anda mungkin juga berminat
Loading...