Dedikasi Agus Bei dari Balikpapan, Adakah Figur Itu di Banjarmasin?

Oleh: Didi G Sanusi

AGUS Bei mungkin hanya orang biasa. Lahir dari Banyuwangi, Jawa Timur, namun begitu cinta dengan mangrove di bibir pantai Kalimantan Timur. Dalam kamus Agus Bei, mangrove adalah garda terdepan sebagai penyelamat lingkungan. Ibarat sebuah barisan pertahanan dalam perang terbuka, mangrove layaknya barisan infanteri yang siap menghadang serangan lawan.

BAYANGKAN saja, ketika Agus Bei datang ke Balikpapan. Khususnya di kawasan Mangrove Center Graha Indah, Balikpapan Utara, sebelumnya bukanlah apa-apa. Kerusakan lingkungan terbilang sangat parah.

Dari 150 hektare luasan hutan mangrove yang dihuni 23 spesies itu, 60 persen telah rusak, akibat tambang. Sebagian besar lagi, pepohonan itu mati. Mirisnya lagi, kepedulian warga terhadap sang garda terdepan ini seakan tak tercerahkan.  Atau malah mereka sengaja mengambil keuntungan sesaat. Mereka merambah mangrove, yang ternyata bernilai ekonomis tinggi. Kabarnya, kayu mangrove itu menjadi arang terbaik dan berbandrol mahal di pasaran dunia. Apalagi, jika batangnya besar, bisa dijadikan bahan bubur kertas HVS terbaik di dunia.

Kegilaannya terhadap mangrove, membuat Agus Bei seperti menjadi orang yang tak waras di mata masyarakat, ketika itu. Dia banting tulang, menanam dan menyemai mangrove hingga bisa bersemi kembali. Berjuang hampir 18 tahun, tekun, giat dan ikhlas, membuat warga sekitar Mangrove Center, rupanya terpanggil.

Bagi Agus Bei, dalam hidup yang sebentar saja di dunia fana, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak adalah tujuan sejatinya. Tak mengherankan, jika pria berkumis tebal ini, tak begitu peduli dengan cibiran dan cemoohan orang. Dia terus memompa semangat warga sekitar untuk peduli dan menjaga anugerah Tuhan berikan kepada Balikpapan.

Selama 8 tahun, ketika tahun 2009, mangrove menjadi isu yang booming dalam penyelamatan lingkungan. Mangrove seperti idiom yang dipakai Agus Bei, adalah lini pertahanan ketika laut dan darat bertemu. Tentu, dua arus yang berbeda, dan memiliki daya tak sama pula. Di tengah langit Balikpapan yang menjadi kota metropolitan, tentu udara yang dihirup warga tak jaminan sehat.

Mengutip hasil riset dari Litbang, Agus Bei mengungkapkan serapan karbon (Co2) dalam tanah mangrove yang hijau ranum, adalah 40 ton per hari untuk ukuran setara satu hektare. Kalkulasinya, jika ada 150 hektare mangrove di kawasan itu, berarti 6.000 ton udara kotor diserap. Terbilang cukup untuk membersihkan udara Balikpapan dengan kehadiran hutan mangrove itu.

Keikhlasan Agus Bei untuk berbagi, meski hanya dari mangrove benar-benar menginsprasi.  Warga Balikpapan Utara ini akhirnya mendapat ganjaran yang setimpal. Dia dianugerahi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai peraih Kalpataru 2017 dalam kategori perintis, awal Agustus 2017 lalu. Di Manggala Wanabakti, Jakarta di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017, Agus Bei bisa menjabat orang nomor satu di negeri ini. Sesuatu yang mungkin tak pernah dibayangkan Agus Bei, sebelumnya.

Ada sebuah pelajaran berharga dari seorang Agus Bei, dalam menyelamatkan lingkungan mangrove. Bukan hanya mangrove, tapi makhluk hidup yang bergantung di tempat itu. Ya, bekantan sebagai primata endemik Kalimantan, kembali bermigrasi ke kawasan Mangrove Center Balikpapan. Tentu saja, masyarakat sekitar hutan bibir pantai yang kini berdetak dengan roda perekonomian. Ada yang membuat warung, menjadi guide, penarik perahu, hingga kini diadakan sekolah berbahasa Inggris bagi warga sekitar.

Dan, manfaat itu sangat dirasakan Herman. Seorang penarik kapal katamaran di kawasan Mangrove Center, terinspirasi dan tercerahkan dalam sebuah keikhlasan Agus Bei. Herman pun mengaku sangat senang, ketika akhirnya bisa mendapat bantuan dari Pudji Astuti, Menteri Perikanan dan Kelautan yang nyentrik itu.

Ya, kapal katamaran yang bernilai ratusan juta, kini bisa dipakai mengantar para wisatawan menikmati panorama Mangrove Center Balikpapan. Bagi Herman, kalau dari kocek sendiri, tak akan sanggup, karena harus mengumpulkan uang bertahun-tahun lamanya. Kini, tanpa waswas dan harus putar otak untuk membayar sewa, Herman pun bisa menikmati jerih payah seorang Agus Bei.

Dedikasi Agus Bei yang berprinsip sederhana, menjadi orang yang berguna bagi khalayak, patut diapresiasi. Apalagi, bagi Kalimantan Selatan, yang kini tengah giat menggelorakan isu penyelamatan bekantan dan hutan mangrove yang rusak. Ya, seperti di kawasan Jembatan Barito, tepatnya di Pulau Bakut sebagai kawasan konservasi bekantan. Atau Pulau Kembang di Sungai Barito dengan hutan mangrove atau rambainya. Terakhir, seperti Pulau Kaget yang menjadi habibat monyet Belanda itu. Sekarang, upaya menanam kembali pepohonan endemic khas sungai di Banjarmasin, juga digaungkan masyarakat, melalui Komunitas Melingai.

Tentu saja, Banjarmasin, umumnya Kalimantan Selatan juga sangat butuh Agus Bei-Agus Bei yang lain. Mereka siap menerima pahit getir dalam berjuang menyelamatkan garda terdepan penuh manfaat ganda bagi warga ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Ya, Banjarmasin laiknya Balikpapan juga menuju kota yang sibuk dan penuh polutan. Tentu saja, butuh sang penyelamat dan sang perintis lingkungan, setidaknya sekaliber Agus Bei.(jejakrekam)

Penulis adalah Pimred Jejakrekam.com

Koordinator AJI Biro Banjarmasin Cabang Balikpapan

Anda mungkin juga berminat
Loading...