Pilih Jalan Dakwah, Keteladanan Surgi Mufti Tetap Dikenang Hingga Kini

RIBUAN jamaah menghadiri haul akbar ke-92, Syekh Jamaluddin Al-Banjary yang juga dikenal dengan julukan Surgi Mufti di kawasan Kubah Surgi Mufti, Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Selasa (18/9/2018). Julukan Surgi Mufti disematkan Belanda. Surgi berarti suci dan Mufti sinonim dengan pemimpin. Sikpanya yang istiqomah dengan memiliki kesucian hati dan tekun beribadah, memuat segan Belanda di era kolonial.

JAMAAH yang datang bukan hanya dari Banjarmasin. Ada pula berasal dari daerah lain di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Karomah yang paling masyhur dari Surgi Mufti itu, ketika aulia Allah ini mengatakan setiap air itu pasti ada ikannya.

Rupanya, seorang petinggi Belanda penasaran. Dia pun mengambil sebiji kelapa muda dan dibawa ke hadapan Syekh Jamaluddin. Benar saja, ketika sebiji kelapa muda ini dibelah, air muncrat, seekor ikan sepat pun menggelepar ke luar dari buah tersebut.

Manaqib atau riwayat hidup Syekh Jamaluddin Al Banjary dibacakan di hadapan ribuan jamaah yang memadati kawasan Kubah Surgi Mufti di tepian Sungai Martapura tersebut.

Lahir di Desa Dalam Pagar, Astambul, Martapura pada 1817, putra pasangan Haji Abdul Hamid Kosasih dan Hj Zaleha, dididik dalam lingkungan agama yang kuat.

Sebagai buyur dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, sejak remaja Jamaluddin muda telah menimba ilmu di Tanah Suci Makkah Al Mukarromah. Saat kembali ke Banjarmasin pada 1894, sang ulama ini harus berhadapan dengan masa sulit. Saat itu, tengah berkecamuk Perang Banjar, antara pasukan Pangeran Antasari versus Pemerintah Kolonial Belanda.

Jalan tengah diambil Syekh Jamaluddin Al Banjary. Beliau tetap meneruskan jalan dakwah, hingga akhirnya diangkat Belanda pada 1899 sebagai mufti yang menjadi pemimpin tegaknya syariah Islam di Banjarmasin. Sebagai seorang mufti, banyak fatwa yang dikeluarkan Surgi Mufti.

Tak hanya itu, Surgi Mufti juga ahli falakiyah (astronomi), sehingga menjadi rujukan dimulai dan berakhirnya bulan Ramadhan, maupun terkait dengan pertanian, terkait dengan waktu bertani bagi warga Banjar.

Meski berjuang dengan tidak mengangkat senjata, Surgi Mufti tetap dikenang sebagai ulama besar yang berpengaruh di Tanah Banjar. Beliau juga tetap menempuh jalan dakwah, demi menjaga kemashlatan umat di Tanah Banjar.

Pembacaan biografi Surgi Mufti oleh KH Mulkani dan Habib Fathurrahman Bahasyim. Sementara, ceramah agama diisi Habib Husin dari Malang. Banyak kisah karomah yang dibacakan kedua penceramah. Seperti menolong seorang warga saat kehilangan emas, dalam perjalanan Surgi Mufti dari Sungai Jingah menuju Desa Dalam Pagar.

Emas yang terjatuh di Sungai Martapura, bisa didapat hanya dengan merentangkan salah satu tangannya ke sungai. Tiba-tiba perhiasan itu muncul di tangannya. Kemudian, saat mengayuh jukung yang bocor dari Sungai Jingah ke Desa Dalam Pagar, baru tenggelam ketika sudah sampai ke tujuan.

Atas jasa Surgi Mufti, akses jalan terbuka dari Sungai Jingah menuju Desa Dalam Pagar, terbuka. Syekh Jamaluddin pula yang meninggi makam sang datuk, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary alias Datu Kalampayan.

Hingga pada 8 Muharram 1348 Hijriyah, Surgi Mufti wafat pada hari Sabtu, pukul 15.00 Wita jelang shalat Ashar di Sungai Jingah. Makamnya kemudian dibangunkan kubah, yang dulunya merupakan tempat sang ulama mengajarkan para muridnya.

“Kami datang untuk mengikuti haul akbar ke-92, karena panggilan hati. Sebagai keturunan Surgi Mufti, kami terus menjalankan wasiat-wasiat beliau,” ucap H Baniansyah, warga Palangka Raya kepada jejakrekam.com, Selasa (18/9/2018).

Begitupula, Saiful Al Banjary, yang kini menggeluti profesi sebagai advokat ini mengaku tiap tahun bisa berkumpul dengan keluarga besar keturunan Surgi Mufti, saat haulan akbar. Menurut Saiful, walau berjuang tanpa mengangkat senjata terhadap Belanda, namun kiprah Syekh Jamaluddin Al Banjary, sangat besar dalam menjaga dan menjalankan syariat Islam yang tetap diberlakukan meski berada dalam cengkeraman kolonial Belanda.

Usai pembacaan syair maulid Nabi Muhammad SAW yang dibawakan Majelsi Bani Israil, serta pembacaan ayat-ayat suci Alquran, tahlilan dan ritual lainnya,  salah satu keturunan Surgi Mufti, Usman Jamaluddin Al Banjary mengingatkan pentingnya umat Islam, khususnya di Banjarmasin untuk terus meneladani jejak hidup sang ulama ini.

“Kami juga berterima kasih karena selama Langgar Tuan Guru Syekh Jamaluddin Al Banjary yang sudah berusia 200 tahun lebih teta terjaga, dan kini bisa difungsikan menjadi masjid,” ucap Usman Jamaluddin Al Banjary.

Pesan moral juga disampaikan Habib Husin dari Malang yang mengajak agar selalu meniru keteladanan Syekh Jamaluddin Al-Banjary, untuk menjaga hati tetap bersih dalam kehidupan sehari-hari.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS