ACT Resmikan Integrated Community Shelter untuk Pengungsi Lombok

TEPAT sebulan yang lalu, Ahad (19/8), Komplek Integrated Community Shelter (ICS) mulai dibangun di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Tiang fondasi bangunan didirikan. Rangka demi rangka bangunan disambungkan, dilengkapi dengan atap, lantai, dinding, jendela, hingga pintu. Sebulan setelah awal pembangunannya, kini ICS telah rampung dan resmi diluncurkan untuk pengungsi Lombok.

SELASA (18/9/2018), peresmian ICS dihadiri oleh Presiden ACT Ahyudin beserta Bupati Lombok Utara Dr H Najmul Akhyar. Dalam sambutannya, Ahyudin menyampaikan, peresmian ICS di Desa Gondang ini bukan akhir pekerjaan, namun awal babak baru penanganan pascagempa Lombok. Dalam rangkaian pascabencana, ini tanda peralihan dari “Penyelamatan Kehidupan” ke “Pembangunan Kehidupan”

“Sesuai namanya, Integrated Community Shelter, dimaksudkan sebagai penanganan komunitas penyintas bencana secara terpadu. ACT mengolaborasikan potensinya dalam pengelolaan pemberian pertolongan. Karena Allah berbuat total dalam mengurus hamba-hambanya, kita juga tidak setengah-setengah dalam menangani krisis kemanusiaan, termasuk dalam kebencanaan ini,” papar Ahyudin.

Sementara itu, Najmul Akhyar pun mengajak setiap keluarga terdampak gempa menanamkan semangat untuk bangkit kembali bagi Lombok Utara. “Mari kita bersama mengucapkan dalam doa-doa kita bahwa Lombok Utara bangkit, Lombok Utara bisa bangun kembali. Melalui musibah ini, Allah meminta kita untuk bermimpi lebih hebat lagi daripada mimpi yang kemarin, mimpi untuk membangun Lombok Utara,” ujar Najmul Akhyar.

Hadir di tengah-tengah proses peresmian Integrated Community Shelter ACT, Najmul mengucapkan rasa terimakasihnya kepada setiap lembaga yang mampu menghimpun amanah yang luarbiasa, salah satunya seperti apa yang dilakukan ACT.  “Amanah yang dititipkan ke ACT adalah sumber daya yang luar biasa. Dari umat dan kembali untuk umat,” tuturnya.

Satu hal yang membuat Najmul Akhyar mengaku penuh dengan rasa syukur di hari Selasa ini adalah bisa melihat hunian-hunian baru ICS bisa ditempati, rumah baru yang layak untuk para pengungsi.

“Hari ini, apa yang saya syukuri adalah rumah bapak dan ibu di sini sudah lebih hebat dari rumah saya. Ini berkah yang luarbiasa. Saya kalau malam masih harus kembali pulang ke tenda. Rumah saya masih tenda. Beda dengan rumah bapak dan ibu yang sudah tinggal di hunian terintegrasi ACT ini, Alhamdulillah,” ucap Najmul Akhyar.

Kompleks ICS menyediakan 224 unit shelter untuk 224 keluarga pengungsi. Tidak hanya itu, kompleks hunian terpadu ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum seperti masjid, MCK umum, dapur umum, sekolah, taman bermain, sekretariat ICS, serta klinik kesehatan untuk para pengungsi.

Syuhelmaidi Syukur selaku Senior Vice President ACT menerangkan, di kompleks ICS ini juga terdapat sarana untuk membangun perekonomian pengungsi. “Kami juga membangun Warung Wakaf dan ACT Humanity Store,” kata Syuhelmaidi.

Bekerja sama dengan Global Wakaf, Warung Wakaf merupakan unit usaha untuk para pengungsi di mana pengelolaannya ditopang dari dana wakaf yang disalurkan melalui Global Wakaf. Hasil pengelolaan Warung Wakaf di ICS ini nantinya akan diperuntukkan untuk mengurus biaya operasional masjid pengungsi di ICS.

Sementara itu, ACT Humanity Store merupakan layanan gratis untuk pengungsi, di mana pengungsi bisa mendapatkan sembako untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Ada lebih dari 3.500 keluarga pengungsi yang bisa menikmati fasilitas ini. “Pengungsi kami beri Humanity Card. Dengan kartu ini, mereka bisa berbelanja di ACT Humanity Store tanpa perlu mengeluarkan biaya,” jelas Syuhelmaidi.

Baik Warung Wakaf dan ACT Humanity Store turut dibuka untuk umum berbarengan dengan peresmian ICS, Selasa (18/9). Peresmian kompleks ICS ini pun ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Presiden ACT Ahyudin serta pemberian kunci shelter secara simbolis kepada pengungsi di ICS.

“ACT, bersama Anda, dengan ICS menyelamatkan kehidupan. Dengan AHS, kita menyempurnakan ikhtiar penyelamatan, menopang program membangun kehidupan. Indonesia Bersama Lombok, Dunia Bersama Lombok,” pungkas Ahyudin.

Sebelumnya, ICS juga telah dibangun untuk korban bencana di Padang, Sumbar; korban longsor di Banjarnegara, Jateng; dan pengungsi Rohingya yang terdampar di Lhokseumawe, Aceh pada 2015 silam.(jejakrekam)

 

Penulis Rilis
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...