Ulek Sungai Barito dan Denyut Kehidupan Masyarakat Bakumpai

Oleh : Setia Budhi, Ph.D

JANGAN langsung percaya dengan istilah ulek atau uleq sebagai alat untuk melumer rempah-rempah untuk membuat sambal pedas. Ulek dalam catatan ini  tidak ada padanan kata dengan pekerjaan emak-emak di dapur atau para chef di restoran tradisioal.

SAYA menceritakan sepenggal pengalaman sebagai Orang Bakumpai yang lahir di kampung di tepian sungai Barito. Penggalan kehidupan yang mungkin masih ada sekarang dan sudah jelas ia hanya akan menjadi sekilas catatan untuk masa akan datang.

Dalam bahasa Bakumpai Sungai disebut Sungey, Padi menjadi Parey dan Pangayuh  mereka sebut dengan Besey.  Ketika saya di Kuala Lumpur Malaysia, ada satu Super Market  yang didepan pintu masuknya tertulis Sungei Wang. Dalam hati saya, apakah tulisan itu mengambil istilah Sungei pada Orang Dayak. Entahlah sebab yang pasti uang yang beredar di situ pastilah miliaran rupiah tiap hari. Pembelinya kebanyakan turis dari Indonesia.

Postur Sungai Barito berkelok-kelok. Tiap kelokan akan membentuk gundukan tanah atau pasir, orang Bakumpai menyebutnya dengan gusung atau gosong (lagi-lagi ini tidak ada kaitan dengan istilah untuk menyebutkan misal terbakarnya benda yang menjadi gosong.)

Para juragan atau pengemudi kapal yang menelusuri Sungai Barito sudah terlatih bagamana caranya supaya menghindar dari Gusung ini, kalau tidak maka kapal akan kandas.

Di Sungai Barito, kita akan berjumpa dengan sungai sungai lain yang bersimpangan. Persimpangan sungai itulah ketika arus deras akan membentuk Pusaran Air dan Orang Bakumpai menyebutnya ulek.

Tahun 60-an dan 70-an, ulek Sungai Barito atau pusaran air yang paling kuat  ada di Taluk Babuih,  Ulek di depan Rumah Dinas Bupati Barito Kuala sekarang. Sebagian kecil di Ujung Panti. Sebagian lagi, ada di Kabupaten Barito Selatan dan Barito Utara Bagian Selatan.

Ulek di kawasan pertigaan Sungai Barito dan Sungai Nagara terkenal paling ganas. Sudah tidak terhitung berapa kapal dan jukung serta perahu tengelam di sini. Lanting atau rakit kayu sering hancur berantakan menghantam bibir sungai atau rumah-rumah penduduk yang ada di tepian Sungai Barito.

Bahkan, pelabuhan tempat kapal bersandar di depan Rumah Dinas kediaman Bupati Barito Kuala sudah sering roboh. Tidak hanya dihantam rakit kayu tetapi juga diterjang kapal tongkang, angkutan batu bara yang kehilangan kendali. Ulek Sungai Barito sudah banyak memakan korban jiwa.

Cerita kakek saya, di Ulek Sungai Barito persimpangan Sungai Nagara, beliau melihat betapa jukung tiung (perahu berbadan lebar) yang terperangkap ulek.  Jukung  itu akan diputar. Dalam sekejap posisi jukung menjadi vertikal. Seterusnya, jkung seperti ditelan masuk ke dasar sungai.

Itu sebab zaman dulu, orang Bakumpai percaya ada kekuatan lain di Sungai Barito. Bagi mereka yang percaya biasanya “melarung” gantal, ketika perahu mereka melewati ulek sungai ini. Gantal  adalah persembahan sederhana kepada “penguasa sungai”  seperti sirih kinang dan ketan dan cingkaruknya.

Kini, Sungai Barito sudah jarang dijumpai ulek yang mampu menenggelamkan kapal. Saya tidak ahli dalam ilmu topografi sungai, tetapi saya menduga bahwa Sungai Barito sekarang sudah kian dangkal.

Pun juga, tidak dapat dinafikkan bahwa Sungei Wang di Kuala Lumpur itu mengeruk uang dari para turis manca negara. Sementara Sungai Barito, mengalir uang jutaan dollar setiap hari dari angkutan batubara yang diekspor ke mancanegara.

Lingua Franca

Saya lahir di sebuah kampung di Sungai Barito. Sungai yang panjangnya tidak kurang 990 kilometer, di hulunya Kampung Tumbang Topus dan di muaranya Kampung Tabunganen. Dua kampung itu sudah saya kunjungi dalam sebuah ekspedisi singkat tahun 2005.

Sungai Barito adalah biodiversity, tetapi juga menyimpan ethnography yang sangat kaya. Sungai ini dihuni oleh paling tidak 10 etnik (yang saya ketahui) seperti Bakumpai, Biaju, Bawo, Maanyan, Oot Danum, Uut Murung, Tonjooy/Tunjung, Mengkatip, Siang, Lawangan. Sebagian mungkin adalah Murut dan Iban atau Heban.

50 tahun adalah penting bagi pengetahuan saya tentang bagaimana perkembangan masyarakat beserta kebudayaannya di Sungai Barito. Terpenting bahwa kehidupan antar etnik itu senantiasa rukun  dan damai.

Hubungan antar etnik di Sungai Barito merupakan contoh kecil dunia keberagaman di Nusantara ini. Tak ada perang, tak ada anak panah dan senjata sumpit atau mandau menyerang pada sasarannya yang salah. Semua jenis senjata itu fungsional pada tempat dan waktunya.

Bahkan ketika mandau pun terpaksa keluar dari “sarangnya”, itu adalah demi membela hak atas tanah leluhur di Camp Tambang Emas di Kampung Mangkahui. BegItupun juga tiga orang Bakumpai harus tersungkur tewas ditembus peluru dalam peristiwa itu.

Hari ini, relasi antar etnik di Sungai Bairito seperti yang saya lihat dan rasakan 40 tahun yang lalu, harmoni di tengah keberagaman.  Dan sungguh bagian penting bagaimana konstruksi komunikasi yang mereka terapkan. Ya, secara alamiah menjadikan salah satu bahasa (yang bahkan diluar bahasa ibu mereka) yaitu bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar atau Lingua Franca.

Mereka telah menyelesaikan salah satu hambatan komunikasi dalam perbincangan keseharian mereka. Walaupun memang tidak menafikan bahwa Orang Bakumpai lancar berbahasa Maanyan. Dapat berbahasa Oot Danum, bahkan Dayak Siang. Sebaliknya Orang Ot Danum dapat menggunakan Bahasa Bakumpai, ketika mereka duduk bersama dalam upacara adat.

Tetapi, saya tentu saja tidak berhenti di situ. Saya memberi pekerjaan rumah kepada pemerintah daerah di Sungai Barito ini guna menelusuri bahasa bahasa ibu mereka. Atau, dengan tantangan baru bagaimana pengaruh serapan bahasa terhadap bahasa ibu mereka.

Senja di Sungai Barito

Sebagian besar Orang Bakumpai bekerja menganyam rotan, purun (rumput rawa) dan akar pohon yang mereka sebut Uhat Kayu Jangang dan Kulit Pohon. Atau yang mereka sebut Kupak Kayu. Ini adalah pekerjaan sambilan setelah mereka berladang, bertani (malan) dan menangkap ikan (malauk).

Cara Orang Bakumpai menganyam, mungkin tidak jauh berbeda dengan cara Orang Dayak pada umumnya. Mereka memanfaatkan sumber daya alam di sekitar untuk menopang ekonomi rumah tangga keseharian mereka. Dalam krisis apapun, Orang Bakumpai hampir dapat dipastikan dapat melaluinya dengan baik, tingkat kebertahanan (survival) mereka sungguh hebat. Itu sebabnya krisis ekonomi pasca runtuhnya Orde Baru, Orang Bakumpai tetap tegar.

Sungai Barito sungguh merupakan anugerah Tuhan yang tiada ternilai untuk sebagian besar Orang Bakumpai. Sungai adalah pemberi penghidupan yang utama. Sebab tempat tinggal mereka kebanyakan berada di sepanjang sungai ini.

Berabad-abad sudah sungai ini tiada henti mengalir air ke muara (dari hulu ke muara). Tiada lelah riak dari riam riam terjal di hulu sampai menghempas gelombang laut di muara.

Menjelang tutup tahun 1970, saya dan kebanyakan penduduk di Sungai Barito masih senang meminum langsung dari air sungai ini. Mereka mereguknya melepas dahaga. Kami menyebut keaslian air dari Sungai Barito ini dengan istilah Danum Buai (air buaya), tak ada rasa takut sakit perut.

Dan, 20 tahun terakhir, keadaan sudah berganti musim sudah melapuk, sungai sudah keruh bahkan berpestisida. Saya dan juga sebagian orang Bakumpai terutama yang tinggal di Muara (baca Kuala) dihinggapi rasa takut terhadap Sungai Barito.

Selain pestisida, mercuri dan zat kimia yang tumpah dari lambung kapal-kapal besar. Juga terasa takut oleh bongkahan batubara yang mendapat julukan sempurna sebagai emas hitam itu terus ikut menjejali Sungai Barito.

Musim  berganti, keceriaan anak-anak sungai ini suatu ketika kelak boleh jadi akan berubah nestapa. Sungai berwarna coklat itu bukanlah air susu, tetapi mungkin racun yang mengancam ribuan jiwa manusia di hulu hingga ke muara.(jejakrekam)

Penulis adalah Antropolog FISIP Universitas Lambung Mangkurat

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...