Ada Anggrek Tebu dan Sendok, Kekayaan Plasma Nutfah Pegunungan Meratus

KEINDAHAN anggrek bulan, mungkin sudah biasa. Namun, ada spesies plasma nuftah khas Pegunungan Meratus yang menawan. Ada anggrek hitam, anggrek tebu, dan anggrek sendok yang menghiasi gugusan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan.

DIKUTIP dari Orchid of Borneo, ada beberapa jenis anggrek yang tumbuh liar di kaki Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, seperti anggrek jenis Acantheppium, Aerides, Arundina, Bulbophylum, Cymbodium, Calanthe, Coelogyne, Dendrobium, Eria, Grammothphylum, Phapiopedilum, Spathoglottis, Vanda dan banyak jenis lainnya lagi. Termasuk, Grammatophyllum Speciosum ( anggrek tebu) dan Spathoglottis Urea ( anggrek sendok).

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Hanif Nurofiq Faisol mengakui habitat asli anggrek kebanyakan berada di wilayah Pegunungan Meratus. Tercatat, ada sekitar 2 ribu jenis anggrek yang tumbuh liar dan berkembang secara alami di hutan-hutan tropis yang ada.

“Makanya, akan sangat bersalah, jika kita tidak bisa mengembangkan potensi anggrek yang belum kaya di kawasan Pegunungan Meratus dengan serius,” ucap Hanif Nurofiq Faisol kepada wartawan, usai mengikuti pembukaan Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja, Jumat (7/9/2018).

Menurut dia, para penghobi, pencinta termasuk pebisnis anggrek sudah sepatutnya menguasai budidaya dan memelihara anggrek dengan benar. Saat ini, kata Hanif, telah dikembangkan penangkaran anggrek khas Meratus di Taman Hutan Raya (Tahura) Mandiangin, Kabupaten Banjar.

“Memang, bukan hanya anggrek dari Pegunungan Meratus. Tapi, juga berasal dari daerah lain. Ini untuk menambah koleksi anggrek yang bisa memperkaya khazanah plasma nutfah Kalsel,” katanya.

Kata Hanif lagi, ada beberapa spesies anggrek yang terbilang langka dan berkualitas dunia dimiliki Kalsel. Ia mengatakan dalam setiap pemantauan dan pengamatan di hutan-hutan yang ada di Kalsel, selalu didata jenis anggrek. “Dengan begitu, ketika mengetahui jenis anggrek secara detail, tentu masyarakat bisa diajak untuk turut melestarikannya,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s