Kadinkes Banjarbaru : Bukan Campak Rubella, Sampel Darah Penderita Dikirim ke Surabaya

KEPALA Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, Agus Widjaja kembali menegaskan sebaran virus yang menjangkit para santri, termasuk siswa SMAN 2 Banjarbaru bukan campak rubella, namun hanya campak biasa.

“KAMI sudah memastikan kondisi para santri yang terkena campak di dua pondok pesantren putri di Banjarbaru, bukan akibat campak rubella atau Jerman, tapi campak biasa. Kondisi mereka sekarang sudah mulai sehat,” ucap Agus Widjaja kepada jejakrekam.com di Banjarbaru, Kamis (6/9/2018).

Untuk membuktikan hal itu secara ilmiah, Agus mengungkapkan sampel darah yang diambil dari para penderita telah dikirim ke sebuah laboratorium di Surabaya, Jawa timur. “Melalui pemeriksaan laboratorium, bisa dipastikan apakah campak klinis atau rubella harus melalui uji laboratorium,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Agus menegaskan tak pernah memberikan keterangan bahwa campak yang terjangkit di dua ponpes putri Banjarbaru adalah rubella. “Saya tidak pernah mengatakan itu campak rubella seperti di koran itu. Walaupun gejala campak biasa dan rubella itu mirip seperti ruam-ruam merah pada kulit. Tapi tidak berarti setiap campak itu rubella,” jelasnya.

Dokter gigi ini mengungkapkan campak biasa itu biasanya berlangsung hanya sekitar 7 sampai 10 hari, begitu penderita dirawat akan sembuh. “Campak klinis atau morbili biasa terjadi,namun ia bukan campak rubella. Di SMAN 2 Banjarbaru, memang ada anak yang terkena campak dan tidak masuk sekolah, namun kondisinya sudah membaik. Sekali lagi saya tidak katakan itu campak rubella,” tegas Agus.

Menurutnya, untuk memastikan campak biasa atau rubella, pihaknya telah mengirim sampel darah penderita campak ke Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel. Selanjutnya, sampel darah tersebut akan diperiksa di laboratorium di Surabaya. “Yang dikhawatirkan adalah kalau mata merah dari campak dan infeksi, maka bisa terjadi kebutaan. Untuk itu perlu diobati,” cetusnya.

Agus menekankan setiap orang yang pernah imunisasi campak, tidak berarti ia bebas seratus persen dari serangan campak. Sebab, menurut dia, bisa saja seseorang terkena campak apabila tinggal di lingkungan yang banyak penderita campak.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi GS