Dirgahayu

Disengaja atau Tidak Disengaja, Pasar Terapung Kuin Kian Dilupakan Eksistensinya

KABID Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banjarmasin Mokhamad Khuzaimi mengungkapkan, berdasar analisa lapangan dan sumber informasi stakeholder terkait, ada beberapa penyebab kian sepinya pedagang dan pengunjung Pasar Terapung di kawasan Kuin.

SALAH satunya adalah makin terbukanya jalur transportasi darat. “Perdagangan yang dilakukan di darat lebih mudah dan murah,” katanya, Jumat (31/8/2018).

Selain itu, lanjutnya, pedagang sayuran dan buah di Pasar Terapung kawasan Kuin tidak merangkap sebagai petani, yang menjual hasil ladangnya sendiri. “Mereka mendapat pasokan sayuran dan buah-buahan dari petani. Jika bukan musim buah, maka terputus suplai buah-buahan ke Pasar Terapung,” ucapnya.

Regenerasi pedagang Pasar Terapung, dinilainya juga berpengaruh pada pasar yang ditilik dari sejarahnya kemungkinan sudah ada sejak masa Kerajaan Banjar.

“Sebagian besar generasi mudanya bila telah selesai sekolah atau kuliah akan mencari alternatif kerja lainnya. Selain itu, tutupnya beberapa perusahaan kayu di kawasan itu, juga mempengaruhi keberadaan pasar terapung itu,” katanya.

Pemkot Banjarmasin, bebernya, telah melakukan beberapa upaya mempertahankan keberadaan Pasar Terapung di kawasan Kuin, seperti memberikan insentif berupa bantuan dana bagi pedagang untuk berjualan di kawasan itu, termasuk memberikan perahu jukung bagi pedagang.

“Kami juga membuka rute wisata susur sungai yang menuju ke Pulau Kembang, agar melintas ke kawasan Pasar Terapung Kuin,” katanya.

Sebelumnya, beberapa kalangan menilai, daya pikat Pasar Terapung Kuin makin memudar. Pasar yang menjadi ikon Banjarmasin ini terlupakan. Apalagi, Pemkot Banjarmasin memilih jor-joran mempermak kawasan Sungai Martapura, tepatnya di kawasan Siring Tendean menjadi pesaingnya.

Kawasan tepian Sungai Martapura yang kini diklaim sebagai Pasar Terapung Banjarmasin, dan ramai dikunjungi khalayak di akhir pekan, melupakan ada pasar yang lebih asli warisan Kerajaan Banjar di Sungai Barito.

Keseriusan Balaikota untuk menjadi pusat kota yang menyuguhkan miniatur pasar terapung, ditandainya gencarnya wisata susur sungai, membangun dermaga bernilai miliaran rupiah plus prasarana yang ada. Sangat kontras dengan kondisi Pasar Terapung Kuin.

Bandingkan saja, dengan dermaga Pasar Terapung Kuin yang terkesan dibiarkan tanpa ada sentuhan perawatan. Ini belum lagi, titian ulin di samping rumah warga yang menjadi akses jalan utama ini banyak berlubang. Parahnya lagi, kondisi penginapan yang dulu disebut-sebut sebagai hotel terapung itu dibiarkan tak terurus. Lapuk ditelan zaman.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Andi Oktaviani