Gapki Klaim Tak Ada Kebakaran Lahan di Konsensus Perkebunan Kelapa Sawit

SEBAGIAN wilayah Kalsel mulai dihinggapi kabut asap akibat terbakarnya lahan.

SEKRETARIS Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalsel Hero Setiawan memastikan anggota Gapki memiliki sistem penanggulan kebakaran hutan dan lahan sesuai intruksi Permentan Nomor 5 tahun 2018, yang mewajibkan pelaku usaha perkebunan memiliki sistem, sarana dan prasarana pengendalian kebakaran lahan perkebunan, yang meliputi organisasi, sumber daya manusia, dan operasional pengendalian.

“Kami selalu menyosialiasikan bahaya kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat. Hingga kini, belum ada laporan kebakaran lahan berada di kawasan konsesi perkebunan anggota Gapki Kalsel,” kata Hero Setiawan.

Ia menuturkan, sesuai dengan amanah pengurus Gapki Nasional yang mewajibkan anggota Gapki di daerah untuk bisa terlibat proaktif memadamkan kebakaran, jika terjadi kebakaran hutan dan lahan di sekitaran perkebunan kelapa sawit.

“Perusahaan anggota Gapki terlibat aktif dalam Masyarakat Peduli Api ( MPA) dan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA). kami selalu menyosialisasikan bahaya kebakaran hutan dan lahan,” bebernya.

Diungkapkannya, Gapki turut melakukan pelatihan peningkatan skill pemadam kebakaran swadaya masyarakat. “Kami membantu peralatan pemadam kebakaran untuk bisa digunakan di lahan dan di hutan. Alhamdulillah, titik hotspot di sekitaran perkebunan kelapa sawit jauh berkurang,” ucapnya.

Ia menyesalkan banyak yang menuding perusahaan kelapa sawit sebagai penyebab kebakaran lahan, padahal merujuk data dari Global Forest Watch hanya ada 4-5 persen dari total wilayah yang terbakar pada 2015 lalu, berada dalam konsensus perkebunan kelapa sawit.

“Setahu saya, peristiwa kebakaran lahan terjadi di wilayah Banjar, Tanah Laut, dan Hulu Sungai Selatan (HSU). Tahun 2018 lebih sedikit hotspot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Husaini
Editor Andi Oktaviani