ACT

Kalsel Tergolong Aman, Potensi Konflik Berbasis Isu Agama Patut Diantisipasi

0 403

HASIL survei nasional kerukunan umat beragama yang dilakukan Badan Penelitian Pengembangan dan Pendidikan Pelatihan (Badan Litbang dan Diklat) Kementerian Agama menyebutkan Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia pada tahun 2017 berada di angka 72.27 dengan kategori baik.

SEKRETARIS Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Selatan Ilham Masykuri Hamdi menjelaskan Indeks Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 pada posisi 12 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya di posisi 11.

“Ada tiga indikator utama yaitu toleransi, kesetaraan dan kerjasama antar umat beragama dan lembaga keagamaan. Nah, dalam indeks ini, kita masih ada sedikit masalah berkaitan dengan ketiga indikator tersebut. Misalnya, masih ada permasalahan dalam mendirikan rumah ibadah,” ucap Ilham Masykuri Hamdi kepada jejakrekam.com, Kamis (30/8/2018).

Dosen UIN Antasari ini menuturkan jika terjadi konflik antar umat beragama semata-mata bukan permasalahan teologis, tetap bisa didorong masalah lain, seperti ekonomi dan politik.

“Ada juga faktor sosial ekonomi, misalnya adanya kesenjangan sosial ekonomi antara penduduk asli dan para pendatang. Kemudian, masalah isu agama dibawa-bawa terkait kesenjangan sosial,” ungkap Ilham Masykuri.

Ia juga menjelaskan konflik agraria berpengaruh terhadap kerukunan antar umat beragama. “Permasalahan agraria  terkait perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batubara. Terkadang kelompok tertentu menggunakan isu agama untuk perebutan lahan,” katanya.

Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini menekankan jangan sampai konflik agama, dengan mengobarkan isu SARA justru terus diperbesar. “Agama seharusnya sebagai alat pemersatu dan alat perekat antar masyarakat, bukan malah agama sebagai alat untuk kepentingan tertentu,” paparnya.

Mubaligh muda ini menggarisbawahi Kalimantan Selatan masih relatif lebih aman dibandingkan provinsi tetangga yang masih ada potensi konflik antar kelompok dan golongan.

“Nanti, jika misalnya kelompok tetentu merasa ditindas, tentu cara dia untuk membela diri, melindungi diri dan mendapatkan solidaritas dengan menggunakan simbol-simbol agama. Ini yang patut diantisipasi,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.