Panjat Pinang, Hiburan Warisan Kolonial Belanda untuk Menghina Kaum Pribumi

Foto : Dok KITLV Leiden

PERMAINAN panjat pinang identik dengan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Di mana-mana dihelat perlombaan demi memperebutkan sejumlah hadiah di sebatang pohon pinang yang dilumuri pelumas. Ternyata, hiburan rakyat sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, dan lestari hingga kini.

SEJARAWAN Kalsel Mansyur mengungkapkan lomba panjat pinang sebenarnya bukan hiburan baru. “Umurnya sudah hampir ratusan tahun. Sejak masa kolonial Belanda, lomba panjat pinang sudah ada,” kata Mansyur kepada jejakrekam.com, Sabtu (18/8/2018).

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya Kalimantan ini mengungkapkan dalam istilah Belanda, hiburan panjat pinang ini disebut De Klimmast. Secara harafiah berarti panjang tiang. “Hiburan De Klimmast adalah rangkaian acara dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau,” bebernya.

Dosen program studi sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini menjelaskan Ratu Belanda Wilhelmina lahir pada 31 Agustus 1880 dan wafat pada 28 November 1962 dalam usia  82 tahun. Nah, ketika Nusantara, sebelum bernama Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah, setiap tanggal 31 Agustus selalu diperingati di Belanda, maupun di wilayah jajahan yakni Hindia Belanda.

“Hal lainnya, karena begitu ramainya pagelaran De Klimmast, hiburan ini juga dilaksanakan ketika merayakan hari besar lainnya. Ya, seperti hari besar negara bahkan setiap pesta pernikahan,” bebernya.

Namun, menurut Mansyur, hal itu bergeser setelah masa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, sehingga De Klimmast atau panjat pinang tak lagi diperuntukkan bagi orang Belanda, tapi sudah menjadi bagian pesta kaum pribumi.

“Dalam panjat pinang, peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah dengan memanjat serta menangkap hadiah di atas pohon pinang. Hadiahnya pada masa lalu berupa benda-benda berharga. Di antaranya mulai dari pakaian, makanan, serta hadiah lain yang cukup mewah dalam ukuran pribumi,” tutur Sammy, sapaan akrabnya.

Adanya hiburan ini diungkapkan magister sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, justru menjadi bahan tertawaan orang-orang Belanda. “Mereka tertawa menyaksikan kaum pribumi yang miskin berebut hadiah mewah. Makanya, ketika masa kemerdekaan, banyak kalangan melarang hiburan panjat pinang karena dianggap sebagai penghinaan,” beber Sammy.

Mantan wartawan ini pelarangan ini menyangkut panjat pinang merupakan warisan budaya dari pemerintah kolonial Belanda, karena berisi penghinaan terhadap kaum pribumi. “Dalam arti, secara tidak langsung hiburan itu merupakan penghinaan atas penderita kaum pribumi di masa penjajahan,” ucap Sammy.

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar ULM menjelaskan pada masyarakat Banjar pada masa lalu, belum didapat data sejarah pagelaran De Klimmast setiap tanggal 31 Agustus pada masa Hindia Belanda.

“Dari sumber foto foto Hindia Belanda pada masa lalu Ulang Tahun Ratu Wilhelmina selalu diperingati dengan membuat pintu gerbang bertuliskan Lang Leve de Koningin, atau Semoga Ratu Panjang Umur. Itu terlihat saat peringatan HUT Ratu Belanda ke-47 pada 1927,” ungkap Sammy.

Dia juga menceritakan HUT sang ratu ini juga digelar dengan pawai akbar, hingga pameran yang diadakan di tiap kota di kawasan Borneo bagian selatan dan timur.

Sebagai referensi, Sammy merujuk tulisan Lloyd Bradley dalam bukunya berjudul The Rough Guide to Cult Sport bahwa menonton rakyat jelata saling menginjak memperebutkan hadiah yang tak mampu mereka dapatkan menjadi hiburan bagi kolonial Belanda saat itu, sehingga menjadi bahan tertawaan.

“Apapun bentuknya tentunya warisal kolonial. Seperti dituliskan C. Snouck Hurgronje, dalam bukunya Colijn over Indie yang diterbitkan di Amsterdam, tahun 1928, Westernisasi merupakan jalan yang terbaik untuk mengendalikan meluapnya gerakan di antara kaum muslimin. Di antaranya dengan pagelaran De Klimmast,” beber sejarawan muda ini.

Namun, menurut Sammy, ada pula berpendapat bahwa perayaan panjat pinang ini sebenarnya bukannya ada sejak masa Hindia Belanda tetapi lebih tua lagi. Terutama dalam budaya Tionghoa seperti diungkap  Andreas Mihardja dalam artikelnya berjudul “Festival Hantu Di Bogor Tempo Dulu” tahun 2012.

“ Menurut Andreas, perayaan ini tercatat pertama kali pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1644 Umumnya dinamakan dengan Qiang-gu. Pada masa Dinasti Qing,” paparnya.

Sammy menuturkan  permainan panjat pinang sempat dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktikkan lagi di beberapa tempat. “Kalau di Taiwan, panjat pinang berkaitan dengan Festival Hantu. Sebab, di sana, panjat pinang merupakan permainan tradisi yang caranya kurang lebih sama seperti di Indonesia,” katanya.

Perbedaan panjat pinang di Indonesia dan Taiwan diakui Sammy hanya pada tinggi pohon pinang.  “Di Taiwan, permainan ini terus berevolusi menjadi satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana,” pungkas Sammy.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Panjat Pinang, Hiburan Warisan Kolonial Belanda untuk Menghina Kaum Pribumi