Semangat Haram Manyarah Demang Lehman Diaktualisasikan dalam Epos Perang Banjar

Foto : Arpawi

DRAMA kolosal tersaji di halaman Balai Kota Banjarmasin, Jalan RE Martadinata, Jumat (17/8/2018). Buah karya budayawan dan satrawan sekaligus Datuk Mangku Adat Kesultanan Banjar, H Adjim Arijadi (alm) bertajuk Epos Perang Banjar, Kisah Demang Lehman, Pewaris Haram Manyarah. Sedikitnya, ada 200 pemain dari komunitas teater SMP, SMA hingga mahasiswa se-Banjarmasin terlibat dalam menghidupkan karya Bapak Teater Modern Kalsel itu.

MESKI penggarapannya hanya 10 hari, ternyata suguhan drama kolosal ini sangat apik. Apalagi, drama kolosal digarap penuh serius dan digagas Dandim 1007/Banjarmasin, Letkol Inf Teguh Wiratama. Sebagai suluh sejarah bagi generasi muda dalam memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 yang harus ditebus dengan darah para pahlawan dan pejuang.

“Drama kolosal ini bisa menjadi sarana pembelajaran sejarah bagi generasi muda, bagaimana merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Drama kolosal Demang Lehman ini juga memenuhi permintaan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina untuk peringatan 17 Agustus,” ucap Dandim 1007/Banjarmasin, Letkol Inf Teguh Wiratama kepada wartawan di Balai Kota, Jumat (17/8/2018).

Menurut Teguh, dalam dokumen sejarah, ternyata salah satu tokoh sentral Perang Banjar melawan kolonial Belanda ini, banyak ditawari dengan berbagai materi. “Namun, Demang Lehman tetap teguh pada pendiriannya demi menjaga keutuhan Kerajaan Banjar,” katanya.

Berdasar catatan sejarah, Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, Negeri Batulicin, Tanah Bumbu, tahun 1864. Dalam arsip kolonial “Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo gedurende de jaren 1859-1864: bijdrage tot de geschiedenis van den opstand in het Rijk van Bandjermasin”, dipublish Ter Landsdrukkerij tahun 1865 cukup jelas menuliskan kronologinya.

Waktu itu, ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di Gua Gunung Pangkal. Mereka hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya. Karena tergiur imbalan golden dari Belanda, Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang. Mereka mencari Demang Lehman atas perintah Belanda.

Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Usai shalat Subuh, Demang Lehman ditangkap dengan perantara Pembarani dan orang-orang yang berharap hadiah dari Belanda. Demang Lehman sendiri melawan puluhan orang yang mengepungnya.

Saat shalat, senjata Demang Lehman berupa pusaka Kerajaan Banjar yaitu Keris Singkir dan sebuah tombak bernama Kalibelah yang berasal dari Sumbawa, diletakkannya tidak jauh dari lokasinya menjalankan shalat.

Atas keberhasilan penangkapan ini,  Syarif Hamid diangkat menjadi raja tetap di Batulicin. Kemudian Demang Lehman diangkut ke Martapura. Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadap pejuang yang tidak kenal kompromi ini. Dia menjalani hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1864.

Meski detik-detik terakhir nyawanya terlepas dari raganya, Demang Lehman tetap teguh dengan pendiriannya. Dia berikrar hingga akhir hayat untuk membela bangsa dan negara, khususnya Tanah Banjar. Hal itu membuat kaum penjajah kagum dengan ketabahannya, ketika menaiki tiang gantung tanpa mata ditutup.

“Dangar-dangar barataan. Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda,”

Inilah ucapan terakhir yang keluar dari mulut Demang Lehman. Sebuah wasiat penuh patriotisme, hingga Demang Lehman menghembuskan nafas terakhir di tiang gantungan.

Kisah ini runut diceritakan sutradara pementasan drama kolosal Hijromi Sehari Putra yang akrab dipanggil Romi ini. Drama kolosal berjudul “Epos Perang Banjar, Kisah Demang Lehman” Pewaris Haram Manyarah, karya H Adjim Arijadi dipentaskan di depan khalayak ramai, Balai Kota Banjarmasin.

Romi mengaku telah menguasai alur kisah drama kolosal yang dipentaskan di hadapan para pejabat tinggi Pemkot Banjarmasin bersama masyarakat. Pasalnya, naskah yang dibawakannya ini merupakan karya mendiang almarhum ayahnya. “Durasi pementasan sekitar lima belas menit. Kalau dua jam kelamaan. Takutnya kesiangan nanti upacaranya,” ucapnya.

Diakui Romi, dalam proses 10 hari penggarapannya ini dilakukan sebanyak 200 orang dari berbagai komunitas teater dari SMP, SMA sederajat, hingga Mahasiswa se-Banjarmasin.

Menurut Romi, dirinya tidak merasa kewalahan dengan jumlah pemain yang cukup banyak. Karena mendapat dukungan dari beberapa sutradara lain. “Ada Ka Handriyan Yudha Sakti, M Iwan Aprialdy, dan Sabda Alam yang bantu,” ujarnya. Dia berharap pesan yang dibawakan dalam alur cerita perjuangan rakyat Banjar itu bisa sampai kepada para penonton.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Semangat Haram Manyarah Demang Lehman Diaktualisasikan dalam Epos Perang Banjar