Tercatat di Sejarah, Kereta Api Pertama Ada di Kalimantan Selatan

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto : Koleksi KTLV

RENCANA pembangunan jalur kereta api di Kalimantan Selatan terus dimatangkan pemerintah. Kementerian Perhubungan menggelar rapat bersama Pemprov Kalsel pada tahun 2017 lalu. Hasilnya, jalur Banjarmasin-Tanjung Kabupaten Tabalong sepanjang 196 kilometer menjadi prioritas pertama. Jalur transportasi ini harus sudah selesai pada 2019.

KEBERADAAN kereta api di Kalimantan Selatan memiliki catatan sejarah panjang sejak masa Hindia Belanda. Dalam hal perkeretaapian, Belanda ternyata tidak pelit saat menjajah Indonesia. Jaringan kereta api terbangun dengan baik di masa penjajahan. Tentu saja karena tujuannya untuk melancarkan eksploitasinya atas negara jajahannya. Lancarnya pengiriman hasil bumi ke pasaran akan berpengaruh pada masuknya pundi-pundi uang ke kas pemerintah kolonial juga.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda mau tidak mau harus membangun jaringan rel kereta api di Jawa. Ini adalah sebuah keharusan karena banyak hasil bumi yang harus diangkut ke kota-kota pelabuhan sesegera mungkin agar bisa terjual dan uang pajaknya bisa segera masuk ke kas pemerintah.

Mengenai keberadaan kereta api di Borneo, terdapat studi Mr Gerard de Graaf, seorang railfans (penggemar kereta api) Belanda yang juga fotografer, dalam Seminar Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu.

Dalam pemaparannya, De Graaf banyak mengutip pernyataan tentang fenomena kereta api di nusantara dalam buku Onze Koloniale Minjnbouw De Steenkolonindustria karya Ir R.J Van lier. Dalam seminar tersebut, Gerard membahas tetang keberadaan kereta api di daerah tambang di Indonesia dalam kurun waktu antara tahun 1888-1956 khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

R.J Van Lier mengakui keberadaan kereta api di Kalimantan benar adanya. Walaupun demikian, kereta api yang dimaksud adalah kereta tambang. Pengaruh tambang batu bara pada perkembangan teknologi begitu luar biasa. Batu bara digunakan sebagai sumber energi pada lokomotif kereta api dan kapal uap. Maskapai kereta api Belanda yakni Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS), menggunakan batubara seba-gai bahan bakar lokomotif kereta.

Sementara itu, N.V. Konin-klijke Paketvaart Maatschappij (KPM) mulai mengoperasio-nalkan armada kapal uap (kapal api) pada tahun 1891 de-ngan menggunakan bahan bakar batubara pula. Tidak menu-tup kemungkinan batubara yang digunakan pada lokomotif kereta api dan kapal uap adalah batubara yang dihasilkan dari Kalimantan.

Gerard W. de Graaf memaparkan kereta paling awal ada di Nusantara adalah di Kalimantan Selatan. Tambang Batubara Oranje-Nassau awalnya disebut galeri pertambangan, dimana terdapat salah satu pit horisontal menuju ke gunung. Sebuah “kereta” kecil yang berupa gerobak didorong, dengan rel buatan antara tambang dan sungai Riam Kiwa, adalah alat transportasi dalam pengangkutan batubara.

Dalam pemaparan Libra Hari Inagurasi (2015) bahwa dugaan adanya lori pengangkut batu bara, didukung oleh temuan dalam ekskavasi Balai Areologi Banjarmasin (2012) lainnya yakni dua roda besi. Kedua roda besi berukuran diameter 25 cm, tebal roda 9 cm, lubang as roda 3,5 cm, berat satu buah roda 5,5 kg, memiliki 4 buah jari-jari. Meskipun yang ditemukan hanya roda besi tanpa disertai temuan bak lori, namun dapat memberikan petunjuk mengenai pengangkutan batu bara menggunakan lori pada saat itu. Batubara yang telah digali dari dalam lubang sumur, diangkat dan kemudian diangkut menggunakan lori melalui lorong kedua.

Lori adalah kereta menggunakan ban (roda) besi di atas sepasang rel yang ditarik tenaga manusia. Rel lori memang belum ditemukan sepanjang eskavasi Balai Arkeologi Banjarmasin di penambangan batubara Oranje Nassau. Dengan memper-hatikan konteks temuan lorong terbuka, roda besi, dan pembanding dengan lori pada penambangan di lnggris pada kurun waktu yang hampir bersamaan, diduga bahwa lori sudah digunakan di tambang batubara Oranje Nassau.

Dalam perkembangannya, kereta api untuk pertambangan diadakan di Borneo. Pada tahun 1888 di beberapa daerah di Kalimantan beroperasi kereta tambang batubara, seperti di Pulau Laut, Samarinda, maupun Tenggarong di Kalimantan Timur. Bahkan beberapa rolling-stocknya seperti lori dan jalan rel masih ada yang tersimpan di suatu gudang. Demikian juga dengan bekas-bekas jembatan, juga kerap dijumpai.

Masa-masa jaya tambang di Kalimantan tersebut berlangsung sekitar tahun 1888-1954. Adapun hasil tambang batubara tersebut sebatas untuk keperluan energi diantaranya kapal laut, lokomotif uap, dan pembangkit listrik. Perusahaan kereta tambang tersebut dikelola Borneo Maatschappij dengan lebar spoor 600 milimeter serta sebagian berukuran 1067milimeter.

Demikian halnya diungkapkan leopolddalam tesisnya, “De Gezondheidstoestand der Arbeiders bij de Steenkolen-mijnen van Poeloe Laoet”, (1915). Untuk mendukung terlaksananya operasional pertambangan batubara, sejak tahun 1903 Pemerintah Hindia Belanda telah menyiapkan hal-hal pendukung sehingga investor dapat bekerja dengan baik.

Bekerjasama dengan pihak investor Perusahaan Tambang Pulau Laut (De Steenkolen-Maatschappij Poeloe Laoet), dibangun jalan angkut sepanjang 5 kilometer dari daerah Semblimbingan ke Pelabuhan Stagen yang berjarak sekitar 5 kilometer. Pihak investor juga menyediakan kereta tambang dan perancah konstruksi besar untuk mengangkut batubara dan sebuah kapal pengangkut batubara ke Eropa.

Jalan angkut berupa rel kereta tambang batubara di Pulau Laut, memang tidak terlalu panjang yakni 5 kilometer dari daerah Semblimbingan ke Pelabuhan Stagen. Apabila dibandingkan dengan jalur kereta api/tambang  Perusahaan Pertambangan Ombilin dengan Lokomotif uap E1060 dari Emma Haven (Pelabuhan Teluk Bayur) ke Sawahlunto yang panjangnya sekitar sepuluh kali lipat yakni 155, 5 kilometer. Diduga lokomotif kereta yang dipakai di Pulau Laut tidak jauh berbeda dengan lokomotif uap pada Perusahaan Pertambangan Ombilin yakni lokomotif uap E1060 yang berbahan bakar batubara.

Dari peta Jalur Rel Kereta/Spoorweg Seblimbingan-Stagen yang dirilis Leopold tahun 1915 tersebut menunjukkan bahwa rel kereta tambang atau spoor-weg, melalui jalan di pada perumahan penduduk yang berada di sekitar lokasi pertambangan. Selain itu, dari wilayah pertambangan Seblimbingan rel kereta juga melalui satu jalur sungai dan tiga jalur jalan darat sampai ke Pelabuhan Stagen. Setelah ditambang dan diangkut dengan kereta tambang, dibongkar di kapal angkut yang berlabuh Pelabuhan Stagen untuk dibawa ke Eropa melalui jalur pengangkutan selat Makassar dan Laut Jawa.

Menurut penuturan Leopold, dari bagian “pemisahan” batubara kemudian jalan rel kereta api, empat kilometer pertama mengikuti batas antara tanah dan rawa, kemudian kilometer terakhir melalui rawa menuju arah laut. Pada akhirnya baris rel ini adalah dermaga kayu yang dibangun di laut untuk tambatan kapal. dermaga pendaratan memang dibangun dengan baik, yang kedalaman air 8 meter, yang ditujukan untuk  pengisian bahan bakar kapal bisa dilakukan dengan cepat.

Ada dua dermaga pemuatan, dengan kedalaman air adalah 8 dan 7 meter. Dermaga ini ditargetkan menampung 1000 ton angkutan kapal per hari. Kecepatan pengisian bahan bakar, bagaimanapun sepenuhnya tergantung pada desain kapal dan alternatifnya antara batas lebar, dimana tanpa perangkat pemuatan yang dioperasikan harus mendapatkan 3-500 ton, dengan pemuatan 800 ton per hari dari lobang (bunker) tambang. Jarak dari tambang ke titik bongkar muat tidak terlalu jauh sehingga biaya angkutan batubara itu sendiri kecil.

Keberadaan kereta api di Kalimantan bagian selatan juga didukung beberapa sumber berupa dokumentasi foto koleksi Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV). Foto tersebut diantaranya foto Kereta Tambang ke Pelabuhan Stagen Tahun 1903-1930.

Kemudian koleksi Ellerman, Series Vereeniging Koloniaal Instituut, Afdeeling Tropische Hygiene, Amsterdam tahun 1915. Selanjutnya koleksi Hydrographich Bericht, Zeemansgids, Vooe Den Oost-Indischen Archipel, Deel III, Aanvullingsblad no. 2. Tahun 1904.

Leopold juga memaparkan pada sepanjang jalur utama perusahaan dismana batubara ditambang dari dua lubang tambang utama dengan kedalaman sekitar 50 dan 100 meter. Sekitar tambang utama dibangun kantor, bangunan untuk mesin, boiler, dan bangunan lainnya. Kemudian tempat “pemisahan”, yaitu tempat dimana batubara dipisahkan oleh saringan. Pada tempat ini, memang terdapat kebisingan mesin dan dengan tenaga kerja manual, dimana batubara dibersihkan dari batu-batu yang bercampur saat proses penggalian.

Perusahan Tambang Batubara Pulau Laut yang sejak tahun 1903 dioperasikan investor dijual ke Pemerintah Hindia Belanda dan mulai beroperasi sejak 1 Oktober 1913. Dalam operasi ini dilakukan penambangan pada 2 lapisan tanah yang ditambang, lapisan 1 dan 2. Lapisan tersebut memiliki tebal sekitar 2- 3 meter.

Untuk mendukung kegiatan penam-bangan dan operasionalnya, pembangkit listrik ternyata tidak cukup untuk meme-nuhi kebutuhan perusahaan. Segera setelah pengambilalihan tersebut diputuskan untuk mendirikan pembangkit listrik dengan daya 2500 K.V.A. yang menungkinkan daya tampung kedua lubang penggalian tersebut.

Tujuan dioperasikannya mesin benoodigde dan boiler, serta kelengkapan peralatan produksi yang diperlukan, seperti kompresor udara, kipas, pompa dan mesin derek memang sudah lama diterapkan di Negeri Belanda. Dalam penerapan peralatan produksi baru ini, sangat memperhatikan tahapan pemisahan, dimana batubara tersebut dibersihkan antara batubara dan batu, terutama untuk grit dan batubara halus. Perangkat ini dibangun di permukaan dengan jarak sekitar satu kilometer dari pelabuhan dan harus dihubungkan dengan kabel sekaligus berfungsi sebagai penyaring udara. (jejakrekam) 

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Anda mungkin juga berminat
Loading...