Benahi Mata Rantai Terlemah Inkindo, Peter Frans : Konsultan Kecil dan Menengah Harus Dilindungi

(Wawancara Eksklusif Jejakrekam.com dengan Ir H Peter Frans, Kandidat Ketua DPN Inkindo Periode 2018-2022)

AGENDA besar kini tengah disusun Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) dengan menggelar musyawarah nasional (munas) pada 22 November 2018 di Semarang, Jawa Tengah. Menariknya, agenda utama asosiasi perusahaan konsultan seluruh Indonesia adalah memilih ketua umum baru dengan sistem e-vote atau pemilihan secara elektronik. Tercatat, ada 6.318 perusahaan konsultan yang jadi pemilik suara.

SISTEM one company/man one vote dijamin lebih fair merujuk keberhasilan DPP Inkindo DKI Jakarta yang menghelat suksesi serupa. Ada beberapa kandidat yang akan bertarung untuk perebutan kursi Ketua Umum DPN Inkindo periode 2018-2022. Salah satunya adalah Ketua DPOP Inkindo DKI Jakarta periode 2018-2022 serta Ketua DPP Inkindo DKI Jakarta periode 2014-2018, Ir H Peter Frans.

Segudang pengalaman di dunia jasa konsultan dan organisasi asosiasi menjadi modal sosok H Peter Frans. Berawal dari anggota Inkindo Nusa Tenggara Barat (NTB) 1990-1997, Wakil Ketua Bidang Penguatan Kapasitas Konsultan Non Kecil DPP Inkindo DKI Jakarta masa bakti 2010-2014, dan Wakil Ketua Bidang Pengembangan Pasar Sektor Pemerintah DPP Inkindo DKI Jakarta masa bakti 2014, hingga melejit jadi Ketua DPP Inkindo DKI Jakarta periode 2014-2018.

Membawa misi 8 pilar memajukan Inkindo daerah menuju Inkindo modern, Peter Frans menatap optimistis membawa induk organisasi perusahaan konsultan menjadi lebih maju lagi di periode mendatang.

Adapun 8 pilar sang kandidat Ketua Umum DPN Inkindo periode 2018-2022 terjabar dalam visi-misi melindungi konsultan kecil dan menengah sesuai dengan undang-undang yang berlaku, memperjuangkan konsultan besar dapat KSO dengan menengah dan kecil, memperjuangkan konsultan besar jadi lead firm proyek strategis dan go international, menjadikan Inkindo modern dan terkoneksi dengan anggotanya, mewujudkan UU jasa konsultan dan regulasi yang melindungi dan menyejahterakan anggota, memperjuangkan sanksi billing rate minimum bagi penyedia dan pengguna jasa yang dilanggar, meningkatkan peran manager eksekutif di daerah sebagai aset utama Inkindo dan terakhir mewujudkan wajah profesi Inkindo dalam Inkindo Center of Study.

Untuk membedah lebih jauh, jejakrekam.com berkesempatan mewawancarai Peter Frans melalui emailnya, Selasa (31/7/2018). Kepada Pemimpin Redaksi jejakrekam.com, Didi G Sanusi, ada beberapa misi perjuangan yang ingin diwujudkan Peter Frans. Berikut kutipan wawancaranya:

Apa yang melatarbelakangi Anda berniat maju menjadi Ketua Umum DPN Inkindo?

Rantai terlemah konsultan Indonesia yang hampir 6.300 perusahaan adalah konsultan kecil dan menengah, dominasinya hampir 90 persen. Atas dasar ini, saya berniat maju untuk membenahi rantai terlemah yakni konsultan kecil dan menengah guna membangun konsultan daerah menuju konsultan modern, sehingga saya menyusun 8 pilar untuk mencapainya, jika nanti terpilih menjadi Ketua Umum DPN Inkindo periode 2018-2022.

Ada anggapan selama ini pengusaha jasa konsultan, khususnya anggota Inkindo didominasi usaha kecil, bahkan hampir 90 persen berada di daerah adalah pelaku usaha konsultan kecil. Mereka sejak dulu selalu terpinggirkan, tidak berkembang dengan baik, bahkan ada yang telah mati suri akibat prospek pekerjaan tak didapat. Tak heran, ada anggapan justru banyak pekerjaan justru diambialih pengusaha plat merah atau tim sukses para pejabat atau penguasa daerah. Apa janji Anda untuk kelompok usaha kecil ini jika terpilih jadi ketua umum?

Seperti saya tawarkan dalam 8 pilar, terutama pilar 1 dan 2 adalah hadirnya regulasi yang harus diwujudkan. Ini agar proteksi konsultan kecil dan menengah untuk APBD di daerah terjadi. Kemudian, aspek pembinaan konsultan kecil terjadi yaitu dapat berkerjasama dengan yang besar dalam suatu pekerjaan.

Dan hal ini, kehadiran konsultan plat merah ini merupakan fenomena yang sering terjadi akibat lemahnya penegakan hukum. Ini harus dibersihkan agar iklim pinjam meminjam bendera tuntas, dan tidak ada lagi. Dengan begitu, akan tumbuh profesionalisme, karena tidak ada negara maju kalau konsultannya tidak maju. Tidak ada negara hebat kalau konsultannya tidak hebat, karena konsultan membangun peradaban.

Dari fakta yang kami dapat, cukup banyak kelompok konsultan besar yang memonopoli usaha. Artinya, mereka punya usaha mulai dari perusahaan berlabel kecil, menengah dan besar. Akibatnya, kondisi ini membuat pengusaha kecil selalu kalah bersaing. Apa tindakan Anda untuk mengatasi masalah ini?

Saya selalu yakin bisnis konsultan adalah bisnis olah pikir. Jadi, profesionalisme adalah solusinya. Konsultan kecil menjadi specialist yang tidak bisa dihancurkan karena manejemen konsultan adalah managemen olah pikir yang tidak bisa diduplikasi, dalam hal ini bersinergi adalah solusinya. Dalam peraturan presiden (perpres) yang baru akan banyak perubahan yang terjadi, sehingga iklim dunia usaha konsultan berubah. Jadi, Inkindo harus mengantisipasi hal ini, sehingga tidak jadi penonton. Padahal, regulasi itu diciptakan untuk kita, seharusnya kita yang ikut membuatnya bukan yang tidak paham dunia konsultan. Untuk itu, Inkindo harus aktif seperti dulu lagi.

Ada yang menarik dalam pemilihan Ketua Umum DPN Inkindo kali ini dengan terobosan e-vote. Apakah Anda yakin jauh lebih fair dan adil, dan bisa meminimalisir permaian politik mahar atau uang? Lantas, jika ada kandidat yang justru tak taat asas. Apakah sistem ini bisa diterapkan dalam pemilihan serupa di daerah?

Pasti, karena e-vote bertujuan untuk meminimalkan hal tersebut. Itulah mengapa waktu saya jadi Ketua Inkindo DKI, kami menginisiasi di Palu (Sulawesi Tengah) untuk mengoalkan sisem ini, dan terbukti di DKI Jakarta berhasil. Cara-cara lama seperti intimidasi dan politik uang yang pernah terjadi harus dihilangkan, karena dengan e-vote kita bisa memilih pemimpin kita, sambil tiduran di rumah dan tidak mungkin diketahui orang lain. Ke depan, daerah harus mencontoh Inkindo DKI yang berhasil dalam e-vote dengan tingkat partisipasi meningkat 4 kali lipat dari 125 pemilih dalam pemilihan sebelumnya. Dengan e-vote menjadi 501 pemilih. Tingkat partisipasi tertinggi dalam Musprov Inkindo DKI Jakarta dalam sejarah, seharusnya DPP Inkindo lain mencontoh DKI.

Jangan mau dengan pemilihan manual yang tidak mencerminkan kemauan anggota, apalagi kalau dipaksakan dengan cara-cara tak pas dengan kondisi zaman now. Jadi, sudah tidak musim trik-trik model sebelumnya dipakai lagi. Ini saatnya kita cari pemimpin yang amanah!

Jika nanti Anda mendapat amanat dari pemilik suara Inkindo, apa langkah konkret Anda? Misalkan dalam 100 kepemimpinan Anda di DPN Inkindo?

Pada pilar 1 yang saya buat targetnya peraturan daerah (perda) atau peraturan gubernur (pergub) untuk perlindungan konsultan kecil bisa tercapai di 34 provinsi. Sedangkan pada pilar 2, surat edaran menteri tentang konsorsium kecil dan menengah bisa berhasil dan sanksi tegas untuk yang tidak meaati billing rate minimum untuk jasa konsultansi konstruksi. Hal ini dilakukan sesuai undang-undang dan Permen PUPR baik pengguna dan penyedia jasa.

Apa konsep regenerasi dan penyegaran pengurus organisasi khususnya Inkindo baik di daerah maupun pusat? Apakah kader yang memiliki potensi diberi kesempatan dalam kepengurus yang nanti Anda pimpin?

Komposisi pengurus harus mengikuti program, pengurus follow program sehingga nanti ada wakil ketua untuk pembinaan konsultan kecil, wakil ketua urusan pajak konsultan, urusan pengembangan usaha dan dana dan sebagainya. Serta penguatan manager provinsi/sekprov agar menjadi aset utama Inkindo, bukan hanya kantor tapi sumber daya manusia (SDM) inkindo adalah aset utama yang akan disubsidi oleh DPN. Dan ke depan, saya ingin banyak kader dari daerah tumbuh di nasional nantinya, tidak seperti sekarang ini kader yang duduk DPN cuma satu yang maju. Sehingga nanti saya banyak memasukkan konsultan-konsultan dari daerah yang bagus-bagus. Ujungnya, saya juga mau membentuk ICS (Inkindo Centre of Study) yang merupakan think thanx Inkindo dalam menampilkan wajah profesi kita: wajah konsultan!(jejakrekam)

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...