Menghimpun Kembali Zuriat Adipati Danu Raja, Penguasa Banua Lima

KIPRAH Adipati Danu Raja yang juga dikenal dengan Temenggung Dipa Nata di era Kesultanan Banjar dan pemerintah Kolonial Belanda, kembali digali para zuriatnya. Sosok penguasa berpangkat Adipura, jika dikonversi sekarang setingkat gubernur yang membawahi Banua Lima.

WILAYAH Banua Lima merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Banjar, yang tidak ikut diserahkan kepada Hindia Belanda. Adipati Danu Raja merupakan salah satu staf Sultan Adam yang mengelola wilayah Banua.

Hingga akhirnya, Kesultanan Banjar dihapus secara sepihak oleh Belanda pada 1860,  wilayah Banua Lima pun dilebur menjadi afdeeling Amonthaij atau Amuntai pada 1861. Sedangkan, Adipati Danu Raja tetap dijadikan penguasa dengan pangkat tambahan Raden Adipati Danu Raja.

Distrik yang dibawahi Adipati Danu Raja sebagai raja daerah itu adalah Distrik Alaij (Alai), Distrik Amandit (Kandangan dan sekitarnya), Distrik Nagara (Daha), Distrik Amuntai, Sungai Benar dan Alabio, Distik Kalau (Kelua), Distrik Balangan, Distrik Tabalong, Distrik Sihong, dan Distrik Patei.

Dari berbagai referensi, Adipati Danu Raja merupakan golongan Anak Cucu Orang Sepuluh (Cucu Sepuluh) di Amuntai. Sebagai raja daerah (adipati) yang beribukotakan Sungai Banar (kini Amuntai Selatan), merupakan salah satu provinsi di bawah Kesultanan Banjar, antara 1835-1845.

Banua Lima awalnya adalah wilayah Kerajaan Negara Daha yang ditaklukkan Kesultanan Banjar di era raja pertama, Sultan Sultan Suriansyah, hingga jadi daerah kekuasaan. Ketika itu, ibukota Banua Lima yang awalnya di Negara Daha (Nagara, Hulu Sungai Selatan), berpindah ke Sungai Banar (Amuntai Selatan).

Hingga, Kesultanan Banjar dihapus Belanda, dan akhirnya wilayah Banua Lima menjadi afdeeling Amonthaij (Amuntai). Namun, Adipati Danu Raja tetap menjadi raja daerah Banua Lima.  Masa kekuasaan Adipati Danu Raja terekam dalam catatan sejarah, termasuk Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap dan referensi lainnya menyebut nama asli adalah Jenal, dan versi lainnya lebih lengkap Anang Jainal Abidin.

Dari keturunan Adipati Danu Raja terdapat dua tiga nama yang mewarisi kekuasaannya, yakni Kiai Temenggung Mangkunata Kusuma, Raden Ngabehi Warga Kesoema, dan Haji Temenggung Kasuma Juda Negara.  Hingga Adipati Danu Raja wafat pada 9 November 1861.

Sedangkan, dari garis keturunan, Adipati Danu Raja merupakan putra pasangan  Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Karim) dan Aluh Ungka.

Nah, para keturunan Datu Kabul (Datu Sepuluh) yang merupakan orang-orang berjasa di era Kesultanan Banjar ini dihimpun kembali di bawah Yayasan Adipati Danu Raja. Mereka pun menggelar halal bihalal di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Sabtu (21/7/2018).

Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Adipati adalah istri mantan Gubernur Kalsel, Hj Sjahrizada Subardjo didampingi anggota Dewan Pembina Guntur Prawira, dan Ketua Yayasan Ishak Bakti, Sekretaris Djuhdar dan Bendara, Anang Zainuddin.

“Kami ingin kembali menyatukan keluarga besar keturunan dari Adipati Danu Raja dan Datu 10, makanya digelar halal bihalal yang diinisiasi yayasan,” ucap Ketua Dewan Pembina Yayasan Adipati Danu Raja, Hj Sjahrizada Subardjo kepada wartawan di Banjarmasin.

Dia berharap melalui silaturahmi itu, bisa kembali mempererat seluruh keturunan Adipati Danu Raja dan Datu Kabul (Datu Sepuluh). “Awalnya, kami antar satu garis keturunan tak saling mengenal. Jadi, ketika digelar halal bihalal semacam ini, bisa terjalin silaturahmi,” tuturnya.

Ia pun berharap agar generasi muda khususnya keluarga besar Datu Sepuluh bisa kompak dan damai, sesuai tema barakat-rakat berkumpul mewujudkan persaudaran dan kebersamaan agar berkah.

Tampak hadir dalam acara itu, Sekdaprov Kalsel Abdul Haris Makkie, mantan Bupati Tabalong Noor Aidi, mantan Bupati Batola serta Asisten I Pemerintahan Setdaprov Kalsel Siswansyah serta keluarga besar keturunan Datu 10 dan Adipati Danu Raja, termasuk yang datang dari luar Kalsel seperti Surabaya dan Jakarta.

Tak cukup hanya halal bihalal, kiprah Temenggung Dipa Nata alias Adipati Danu Raja pun dituangkan dalam sebuah buku yang akan dibedah oleh para sejarawan dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Yusliani Noor dan Mansyur ‘Sammy’, serta Rabini Sayyidati. Acara yang digelar Sanggar Bahari Antaari akan berlangsung di PSB UIN Antasari Banjarmasin, Sabtu (28/7/2018) mendatang.(jejakrekam)

Anda mungkin juga berminat
Loading...