KWK Baiman Terancam Tutup? Pemkot Banjarmasin Dinilai Salah Resep Tata PKL

BELAJAR dari kasus tutupnya Pujasera di kawasan Kayutangi, Jalan Adhyaksa yang sempat booming pada tahun 1990 dan 2000-an, hingga kini telah berubah jadi komplek rumah toko (ruko), atau kasus-kasus serupa yang terjadi di Banjarmasin. Nah, adanya para pedagang kaki lima (PKL) yang bangkrut usai direlokasi ke Kawasan Wisata Kuliner (KWK) Kuliner di Jalan Lingkar Dalam, dekat Flyover Gatot Subroto Jalan Achmad Yani Km 4, Banjarmasin, dinilai ada yang salah dari penerapan kebijakan.

PENGAMAT perkotaan, Subhan Syarief mengungkapkan jika banyak PKL kuliner di KWK Baiman yang telah bangkurt, bisa mengancam keberadaannya yang telah berjalan selama dua tahun. Kepada jejakrekam.com, Kamis (12/7/2018), Subhan Syarief coba mengurai hal itu dipicu karena pemilihan lokasi yang belum dikaji mendalam dan sejalan dengan karakteristik PKL.

“Inilah yang menyebabkan menurunnya pendapatan para pedagang karena pengunjung menyusut, tidak seperti saat berdagang dulu di pinggir Jalan Achmad Yani. Ini artinya, Pemkot Banjarmasin kurang jeli dan mungkin tidak melalui kajian mendalam soal karakteristik PKL,” ucap Subhan Syarief.

Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kalsel ini mengungkapkan mengapa pengunjung lebih suka datang atau berbelanja ke PKL Jalan Achmad Yani, sehingga bisa diungkap. “Dalam bahasa mudahnya adalah Pemkot Banjarmasin telah salah beri resep, ketika memindah para PKL ke kawasan khusus itu,” katanya.

Bagi Subhan, lokasi yang ada di Jalan Lingkar Selatan, belum memiliki daya tarik bagi orang untuk datang berkunjung. “Di sini, Pemkot Banjarmasin tentu perlu membuat sebuah daya tarik agar menjadi magnet bagi para pengunjung. Yang terjadi sekarang, justru penataan lahan dan model bangunan terkesan asal jadi. Ini ditambah, tidak digelarnya even-even rutin untuk menarik minat orang untuk berkunjung,” kata arsitek jebolan ITN Malang ini.

Subhan menyarankan agar Pemkot Banjarmasin segera mengambil langkah cepat untuk menangani PKL di KWK Baiman seperti mengindentifikasi penyebab menurunnya penghasilan pedagang. “Dari hasil identifikasi ini bisa dibuat kajian dalam membangun konsep optimalisasi kawasan tersebut. Termasuk, membuat even terjadwal, bisa mingguan atau harian sebagai magnet kawasan, sehingga bisa memicu dan memacu pengunjung ke kawasan itu,” papar magister teknik ITS Surabaya ini.

Ia mengusulkan agar Pemkot Banjarmasin mengatur dan menempatkan pedagang kuliner unggulan atau khas, sehingga di kawasan itu tidak dijual menu kuliner yang sama atau sejenis. Dengan variasi dagangan, Subhan yakin bisa menarik minat para pencinta kuliner. “Saya melihat penataan blok-blok pedagang makanan dan minuman harus diatur lagi. Jangan sampai tercipta blok kawasan potensial dan kurang potensial, sehingga terjadi penumpukan pengunjung hanya pada satu titik tertentu,” tuturnya.

Menurut Subhan, KWK Baiman sejatinya bukan sekadar tempat berdagang makanan, tapi harus jadi pusat wisata kuliner andalan Banjarmasin. “Sebagai rangsangan daya tarik, Pemkot Banjarmasin bisa memberi insentif dan reward bagi pedagang dan pengunjung di momen tertentu,” ucapnya.

Tak mengherankan, Subhan pun mengaku sepatutnya para PKL yang awalnya berada di Jalan Achmad Yani tetap dipertahankan, karena bagaimana pun ruas jalan itu merupakan pusat aktivitas PKL, terutama makanan. “Mengapa kawasan itu potensial, karena para pengunjung mencari makan sambil bersantai di malam hari. Kemudahan ini yang telah hilang, terlebih lagi  para pengunjung mencari area makan yang murah meriah dan mudah ditangani. Terlebih lagi, saat ketika warga pulang dari aktivitas kesehariannya,” papar Subhan.

Atas dasar itu, kandidat doktor Universitas Islam Sultan Agung Semarang ini yakin dayak tarik Jalan Achmad Yani ini yang membuat para pedagang dan pengunjung lebih memilih warung di tepi jalan. “Jadi, untuk menyulap kawasan Jalan A Yani kembali jadi tempat PKL, tinggal konsep yang matang dan tepat guna. Bisa saja kawasan ini kembali diizinkan jadi tempat usaha PKL. Tentu, konsep adalah optimalisasi kawasan memadukan aspirasi PKL, masyarakat dan keindahan kota. Jadi, kawasan Jalan A Yani bisa dibagi dalam beberapa titik yang bisa dipai kadi areal PKL,” ungkapnya.

Subhan pun yakin Pemkot Banjarmasin belum punya data akurat PKL di sepanjang Jalan A Yani, terutama jumlah pedagang, jenis dagangan, pendapatan per hari, areal mana mereka berdagang, tempat tinggal para PKL, domisili dan lainnya. “Nah, dengan data yang akurat ini, tentu model penataan PKL yang baik dan khas akan bisa dilakukan Pemkot Banjarmasin,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor DidI GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...