Disorot Kenaikan Ongkos Sambungan Baru, Walikota Ibnu Sina Bantah PDAM Bandarmasih Kejar Untung

KEBIJAKAN kenaikan ongkos pemasangan sambungan baru bagi pelanggan baru sebesar Rp 1.471.000 yang diberlakukan PDAM Bandarmasih per Juli 2018 ini, masih menuai pro dan kontra. Tudingan bahwa pabrik air milik Pemkot Banjarmasin hanya mengejar keuntungan, bukan berorientasi sosial dibantah Walikota Ibnu Sina.

DALAM group WA Rakyat Banua, Walikota Ibnu Sina pun memposting jawabannya untuk menjelaskan sorotan Sekretaris Komisi IV DPRD Kalsel Lutfi Saifuddin Rais atas pemberlakuan naiknya ongkos pemasangan sambungan baru dari jaringan yang ada ke rumah pelanggan mencapai Rp 1,5 juta, tak pro rakyat miskin.

“Perlu dijelaskan menyeluruh pasti akan paham. Perlu kami luruskan bahwa PDAM Bandarmasih bukan mengejar keuntungan,” cetus Ibnu Sina, dari tulisannya di WA Group Rakyat Banua yang dikutip jejakrekam.com, Sabtu (7/7/2018).

Menurut Ibnu Sina, selama ini, biaya pasang baru mencapai Rp 1,5 juta, namun terus separuhnya atau 50 persen disubsidi PDAM Bandarmasih, sehingga yang dibayar para pelanggan hanya Rp 700 ribu.

“Saat ini, pelanggan PDAM Bandarmasih sudah mencapai 179 ribu orang atau 99 persen rumah tangga. Ini berarti, seluruh warga sudah menjadi pelanggan PDAM,” kata Ibnu Sina.

Alfamart 300×250

Atas pertimbangan itu, mantan Ketua DPW PKS Kalsel ini mengatakan subsidi yang telah diberikan PDAM Bandarmasih itu kepada pelanggan itu dicabut, demi mengurangi beban perusahaan daerah itu. “Tidak kurang Rp 10 miliar, subsidi telah dikeluarkan PDAM Bandarmasih selama ini. Praktis sambungan baru untuk perumahan yang baru dibangun saja,” tegas Ibnu Sina.

Dia pun mengajak mantan koleganya di DPRD Kalsel itu kembali membaca perda penyertaan modal Pemprov Kalsel ke PDAM Bandarmasih yang berbunyi oritentasi sosial dan keuntungan. “Silakan cek saja perdanya,” kata Ibnu Sina.

Berapa besar penyertaan modal Pemprov Kalsel ke PDAM Bandarmasih? Sejak 2009, Pemprov Kalsel telah menyuntikkan modalnya mencapai Rp 64 miliar. Jauh lebih besar dibandingkan untuk perusahaan serupa, seperti PDAM Intan Banjar Rp 41 miliar, PDAM Tapin Rp 9,5 miliar,  PDAM Balangan Rp 9,5 miliar,  PDAM Tabalong Rp 9,5 miliar,  PDAM Tanah Laut Rp 7 miliar, PDAM HSS Rp 7 miliar, PDAM HSU Rp7 miliar, PDAM Kotabaru Rp 7 miliar, PDAM Batola Rp 4,5 miliar, PDAM HST Rp 4,5 miliar, dan terkecil PDAM Tanah Bumbu hanya Rp 2 miliar.

Sementara, berdasar perkiraan perhitungan PDAM Bandarmasih dengan pemberlakuan kenaikan harga pokok penjualan (HPP) sambungan baru pada 2018 ini, akan bisa membukukan pendapatan mencapai Rp 3.415.546.690 atau Rp 3,4 miliar lebih.(jejakrekam)

Penulis Sayyidil Ahmada
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Disorot Kenaikan Ongkos Sambungan Baru, Walikota Ibnu Sina Bantah PDAM Bandarmasih Kejar Untung