Menyudahi Lahirnya Generasi ‘Bowo’

Oleh: Wati Umi Diwanti

BELAKANGAN ini dunia maya digemparkan oleh kehadiran sosok Bowo Alpenlieebee, siswa kelas VIII  yang mendadak tenar bermodal aplikasi Tiktok. Bak artis kenamaan, ia berhasil menyelenggarakan even meet and greet dengan para fans-nya. Tarifnya lumayan besar, 80K hingga 100K. Meski demikian tak sedikit yang mau berhadir. Bahkan ada penggemarnya yang menyatakan rela jual ginjal demi bertemu Bowo. (TribunJakarta.com, 30/6/18)

LEBIH parah dari itu di akun-akun para penggemarnya banyak ungkapan-ungkapan yang di luar batas. “Kak Bowo ganteng banget. Saya rela ga masuk Syurga asal perawanku pecah sama Kak Bowo. Moga Kak Bowo baca ini.” “Bikin agama baru yuk, Kak Bowo Tuhannya, kita semua umatnya. Yang mau jadi Nabinya chat aku ya.” Dan lain sebagaianya. Fenomena remaja kebablasan yang sangat memprihatinkan.

Jika kita kilas balik, sebenarnya generasi Bowo ini bukan hal baru. Pasti kita masih ingat Sinta dan Jojo, dua remaja yang mendadak tenar dengan lipsing ‘Keong Racun’nya. Kita juga tak asing dengan nama Awkarin, Yusi Fadila dan yang tidak lama sebelum ini adalah sosok Nuraini yang mendadak ‘ngartis’ berkat aksinya di dunia Maya dengan artis favoritnya.

Salah Siapa?

Tak dipungkiri lingkungan keluarga sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apalagi dimasa remaja, dimana mereka dalam fase mencari pengakuan diri. Sangat penting bagi para orang tua memberikan apresiasi dan menanamkan tentang apa hakikat diri. Bahwa yang harusnya dicari manusia paling utama adalah ridha dari Sang Penciptanya.

Dengan terpenuhinya perhatian dari orang tua meniscayakan mereka tak lagi mencari-cari sensasi di luar sana. Pemberian dasar pemahaman agama setidaknya membuat mereka memiliki pembeda. Mana aktivitas mulia mana yang hina. Sehingga mereka tidak mudah tergoda gemerlapnya dunia.

Setiap orang tua pasti berharap kebaikan dari anak-anaknya. Berharap melalui doa-doa mereka Allah akan meringankan hisab kita. Dan berharap tangan-tangan mungil yang dulu kita bimbing berjalan mampu membimbing kita ke surga-Nya.  Fenomena Bowo ini pastinya akan membuat kita semakin terjaga. Berusaha dengan berbagai cara mendekap mereka agar tidak tertular virus ‘Bowo’.

Bukan Hanya Bentukan Keluarga

Hanya saja, kita pun tak bisa pungkiri bahwa anak-anak kita tak selamanya bersama kita. Tak ada orang tua yang bisa membersamai anak-anaknya dua puluh empat jam penuh. Apalagi di zaman sekarang di tengah himpitan ekonomi. Tak jarang seorang ibu pun harus keluar kandang, ikut andil dalam pencarian nafkah keluarga. Jika pun ibu tak bekerja, maka sang anaklah yang meninggalkannya, baik untuk sekolah atau aktivitas lainnya.

Iklan Samping 300×250

Artinya, dalam pembentkan seorang anak menjadi insan mulia tak cukup sekedar memperbaiki kualitas orang tua dan lingkungan keluarga. Sangat diperlukan juga lingkungan yang mendukung. Agar saat kita ucap A, dari luar rumah pun anak kita mendapatkan A. Sulit mendidik mereka taat agama saat lingkungan justru menampilkan sebaliknya.

Karenanya, pemilihan lingkungan tempat tinggal dan pendidikan juga perlu diperhatikan. Hanya saja kita pun harus menyadari bahwa di manapun saat ini hampir tak ada tempat yang steril dari teladan-teladan ketidak senonohan. Lihatlah bagaimana di tempat-tempat umum berbagai aksi pelanggaran terhadap ajaran agama dipertontonkan. Seolah hal biasa. Belum lagi dari tayangan-tayangan media.

Peran Penting Penguasa

Sebagai orangtua paling maksimal kita hanya bisa memilih tempat tinggal dan tempat sekolah. Meminimalisir tontonan baik TV maupun HP. Selebihnya, pengaturan ada di tangan penguasa. Merekalah yang punya kuasa untuk mengatur lingkungan masyarakat dengan berbagai aturan yang diberlakukan. Juga penataan tayangan di berbagai media ada ditangan mereka. Dengan kebijakannya, penguasa bisa meringankan atau memberatkan peran orang tua dalam melahirkan generasi-generasi terbaik negeri ini.

Sehingga sangat disayangkan sekali jika kebijakan yang dibuat penguasa saat ini justru berpihak pada sistem sekuler kapitalis. Di mana aturan kehidupan dijauhkan dari pengaturan agama kecuali dalam hal ibadah ritual. Baik buruk, boleh dan tidak dalam agama (Islam) tidak jadi patokan. Yang berbau materi cenderung difasilitasi. Terbukti dengan berbagai tayangan dan tempat-tempat hiburan bahkan berbagai ajang pencarian bakat yang penuh pelanggaran syariat dibiarkan bertebaran.

Di saat yang sama ajaran Islam tak seluruhnya diizinkan untuk disampaikan, boro-boro difasilitasi untuk diterapkan secara total. Bahkan beberapa diantaranya diopinikan negatif dan dikriminalkan. Padahal Islam itu agama yang datang dari Allah Swt. Mustahil mengandung aturan yang merusak. Justru pengabaian terhadap sebagian ajarannya lah yang menjadikan manusia dalam kerusakan. (QS. Ar-Rum: 41).

Sadar atau tidak, sebenarnya penerapan sistem sekuler kapitalis inilah yang membidani lahirnya generasi ‘Bowo’ ini. Jika terus dipertahankan, tak menutup kemungkinan the next ‘Bowo’ akan lebih hancur dan rusak daripada yang sekarang. Jika generasi semakin rusak, bagaimana negeri ini akan bisa mengalami kemajuan?

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang yang fasik.” (TQS. Al-Hadid: 16).  Allahu a’lam. (jejakrekam)

Penulis adalah Pengasuh MQ.Khadijah Al-Kubro Martapura, Revowriter Kalsel

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Menyudahi Lahirnya Generasi ‘Bowo’