Sketsa Pesisir Borneo : Bissu dan Calabai, Sang Waria Sakti dari Kerajaan Pagatan

PESISIR tenggara Borneo, khususnya di kawasan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru, Kalimantan Selatan, tak terlepas dari kultur budaya Bugis, Mandar, Makassar dan etnis lainnya asal Sulawesi Selatan. Sejarah Banjar mencatat hubungan Kesultanan Banjar dengan Kerajaan Pagatan sangat erat bahkan tali temali dengan percampuran darah antar penerus kedua kerajaan itu.

JIKA bicara skesta sejarah dari pesisir Tenggara Borneo, tersebutlah Calabai. Sosok waria yang sakti turut menjadi andalan di era kejayaan Kerajaan Pagatan. Dalam strata sosial di tatar budaya Bugis, sosok Calabai, pria feminism yang bertingkah layaknya perempuan tak bisa dipandang sebelah mata.

Sejarawan muda FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur yang akrab disapa Sammy pun mengungkapkan dalam sejarah Tanah Bugis, termasuk ketika mereka merantau dan menetap di pesisir Kalimantan Selatan di era Kerajaan Pagatan, justru waria berupa sosok bissu sangat dihormati keberadaannya.

“Jadi, memandang sosok waria, wandu, banci atau bencong akan multi perspektif. Ya, tergantung dari sudut mana memandangnya. Namun, jangan sekali-kali menyepelekan waria, sebab tidak semua di posisi yang lemah,” kata magister sejarah Universitas Diponegoro Semarang ini kepada jejakrekam.com, Minggu (1/7/2018).

Sammy pun menyebut sang bissu yang merupakan dukun sakti yang memiliki sifat sekaligus wanita. “Di kalangan orang Banjar mungkin agak jarang didengar. Namun, bagi kalangan masyarakat Bugis, posisi bissu yang sakti mandraguna justru berada di posisi yang tinggi,” ucap dosen Program Studi sejarah FKIP ULM ini.

Sebagai bukti, Sammy pun mengutip tulisan sang penjelajah Eropa dan namanya kini diabadikan di pegunungan perbatasan Kalteng-Kalbar bernama Carl Anton Ludwig Maria Schwaner. “Dalam Minister Van Kolonian, tahun 1844, C.A.L.M Schwaner melukis tentang tjelabay, waria sakti dari Kerajaan Pagatan,  landskap Tanah Boemboe,  Borneo bagian tenggara,” papar Sammy.

Ia mengungkapkan C.A.L.M Schwaner dalam lukisannya tanggal 9 Mei 1844 dengan teknik lukis pensil (potlood) menggambarkan sosok Calabai yang sakti di Kerajaan Pagatan. Bahkan, lukisan ini akhirnya jadi koleksi dalam buku Picture of the Tropics: a Catalogue of Drawings Water Colours, Paintings, and Sculptures in the Collection of the Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden, oleh JH Maronier. Dipublish di Den Haag oleh Martinus Nijhoff, tahun 1967.

Masih menurut Sammy, dalam koleksi lukisan C.A.L.M. Schwaner yang bertitel “Model Pakaian Penduduk Kerajaan Pagatan, Tanah Bumbu, berdasarkan Lapisan Sosial, Tahun 1844”. Lukisan yang cukup menarik, Bukan hanya tekniknya. Tetapi tampilnya lukisan pakaian sosok Calabai. “Ketika itu, Schwaner menuliskannya dengan pakaian golongan tjelabay atau calabai dalam ejaan sekarang,” ucapnya.

Siapa sebenarnya sosok Calabai? Yang dimaksud dengan tjelabay oleh Schwaner dalam ejaan Bugis Makassar adalah Calabai. Sosok yang berperan sebagai bissu, pendeta banci yang bertugas memimpin upacara ritual.
Sammy mengatakan jika mengutip pendapat K.G Anderson mengungkapkan bahwa keberadaan bissu di Kerajaan Pagatan, sudah ada pada masa pemerintahan Ratu Sengngeng Daeng Mangkau (1875-1883).

“Ketika itu, bissu dijadikan sebagai tempat untuk ‘konsultasi’ mencari pasangan hidup, meminta saran dan pendapat. Jadi, keberadaan para bissu menandakan bahwa di Kerajaan Pagatan walaupun sudah beragama Islam tetapi masih menganut kepercayaan Bugis tradisional,” ungkap Sammy.

Sementara, masih dia, Ratu Sengngeng Daeng Mangkau menjadi Ratu, setelah Pagatan keempat yang memerintah pada tahun 1871-1875, ketika Arung Abdul Djabbar La Makkaraw tidak mempunyai keturunan. Karena itulah, maka digantikan oleh keponakannya, Arung Ratu Daeng Mangkau (putri dari Arung Pallewange), yang dinobatkan pada 12 November 1875.

“Pemerintahan Ratu Daeng Mangkau sebagai Raja Pagatan kelima berlangsung dari tahun 1875-1883. Pada masa pemerintahan Ratu Daeng Mangkau didampingi oleh suaminya Pangeran Muda Aribillah,” kata Sammy lagi.

Tak hanya itu, sebagai salah referensi, Sammy juga membeberkan fenomena keberadaan bissu ini didukung tulisan Sharyn Graham, dalam Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia, International Institute for Asian Studies (IIAS) Newsletter, yang di-publish pada tahun 2002.

Iklan Samping 300×250

Menurut Sharyn Graham, seorang bissu tidak dapat dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender apa pun. Namun, setelan pakaian tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka.

“Dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak terdapat hanya dua jenis kelamin seperti yang dikenal, tetapi empat atau bahkan lima, jika golongan bissu juga dihitung. Yakni,  oroane atau laki-laki, makunrai atau perempuan, calalai atau perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki dan calabai atau laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan,” papar Sammy.

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar ULM ini mengatakan nama bissu pertama terdapat dalam naskah La Galigo yang menyebutkan adanya saudara kembar emas Sawerigading yang bernama We Tenri Abeng Bissu Rilangi.

“Istilah bissu mempunyai persamaan dengan istilah biksu dalam agama Buddha. Ini membuktikan adanya pengaruh agama Buddha yang kurang mendalam di Sulawesi Selatan,” ungkap Mansur lagi.

Memang, penampilan bissu itu mirip banci. Penampilan fisik seperti itu dimaksudkan agar mereka dapat melepaskan diri dari tuntutan biologi terhadap lawan jenisnya.  Dengan demikian, hubungan bissu dengan para dewa tidak pernah putus.

Sammy juga mengutip pendapat Hooykaas yang mengatakan peran bissu zaman dahulu adalah ebagai pendeta agama juga berupaya menjaga puteri-puteri raja, khususnya ketika mereka sedang mandi atau mengganti pakaian. Umumnya bissu adalah laki-laki; namun terdapat juga wanita tetapi bilangannya sedikit.

“Bissu mempunyai bahasa mereka sendiri untuk berkomunikasi sesama mereka, dan berkomunikasi dengan Tuhan atau bahasa torilangi,” kata Mansyur.

“Jika kita menilik tulisan yang dilansir dalam website www.boombastis.com, menjelaskan bissu dianggap spesial karena itu adalah anugerah Yang Kuasa. Mereka diberikan kelebihan dari yang lainnya dan bertugas sebagai pemimpin upacara adat yang diselenggarakan suku bugis. Bissu sangat dihormati di sana, mereka di ibaratkan sebagai orang sakti penjaga suku Bugis,” paparnya.

Tak hanya itu, bissu dianggap sebagai keturunan langsung dari dewa, mereka juga bertugas menyampaikan pesan pada roh-roh leluhur. Tak mengherankan, posisi mereka berada mulia di Tanah Bugis. Mengingat mereka memiliki orientasi seksual yang ambigu, bissu dituntut untuk tetap suci hingga akhir hayatnya, karena bisa saja para bissu ini tergoda satu sama lain. “Kesucian seorang Bissu juga merupakan simbol bahwa dia adalah masih keturunan dewa yang tidak akan pernah ternoda,” paparnya.

Nah, menurut Sammy, dengan anugerah kesaktian yang luar biasa itu, para bissu tak hanya sebagai pemimpin upacara adat, tapi juga bisa menentukan waktu untuk menanam sekaligus memanen untuk petani. Uniknya, perhitungan tersebut  sangat akurat melebihi hitungan petaninya sendiri.

“Para bissu juga dapat berkomunikasi dengan makhluk halus dan roh nenek moyang, saat mereka dirasuki, para bissu kebal dari senjata-senjata tajam yang ditusukkan pada badannya. Itulah anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa pada para bissu. Mereka juga memiliki komunitasnya sendiri, bahkan mereka menguasai bahasa kuno dan bahasa khusus para bissu,” imbuh Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan ini.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Sketsa Pesisir Borneo : Bissu dan Calabai, Sang Waria Sakti dari Kerajaan Pagatan