Di Tengah Modernitas Banjarmasin, Kisah Nelangsa Hasan Sang Pengayuh Getek Tersisa di Teluk Kelayan

DENGAN perahu yang sudah butut, di sana-sini terlihat tambalan dari seng kaleng bekas dan dampul agar air Sungai Martapura yang tak masuk ke badan jukung, justru membuat Hasan (60 tahun) tampak masih tegar di usia senjanya. Warga Tanjung Pagar Kelayan ini tetap setia menawarkan jasa penyeberangan sejak 1975, dari kawasan Pasar Beras Kelayan menuju Pasar Lima Banjarmasin.

TERKONEKSINYA akses jalan darat yang mulai jor-joran dibangun di Banjarmasin, termasuk jembatan penyeberangan Sungai Martapura, seakan terus menggerus keberadaan para tukang getek yang ada di kawasan Muara Kelayan, Banjarmasin Selatan ini. Program daratisasi yang dimulai di era Orde Baru dengan program andalan Pelita, telah mengubah jati diri ibukota Provinsi Kalsel dari sungai menjadi kota yang mengandalkan jalan darat.

Ya, sosok Hasan, misalkan. Mungkin para pengayuh getek yang tersisa dan seperti ‘sebatang kara’ dari pekerjaan masyarakat marginal di Banjarmasin. Hasan pun seperti menarawang kembali ke belakang. Ya, di era getek menjadi pilihan utama bagi warga Banjarmasin untuk menyeberangi lebarnya Sungai Martapura.

“Saya sudah menjadi tukang getek ini sejak tahun 1975. Waktu itu, banyak orang-orang Kelayan dan sekitar Pasar Pagi dan Pasar Beras atau sebaliknya menyeberang ke kawasan Pasar Lima dan Pasar Harum Manis,” ucap Hasan kepada jejakrekam.com, Senin (2/7/2018).

Dulu, menurut Hasan, waktu itu ongkos getek hanya Rp 15, ketika kawasan pusat Kota Banjarmasin, terutama di daerah Cempaka dan sekitarnya tumbuh pusat keramaian malam. Seperti Bioskop Cempaka, Bioskop Kamaratih, Bioskop Kamajaya dan lainnya yang jadi pilihan para pekerja kasar dan serabutan untuk mencari hiburan, menghabiskan uang dari hasil peluh keringat mereka.

Beda dengan bioskop berkelas seperti President Theater, Bioskop Ria, Bioskop Dewi, dan lainnya. Menurut Hasan, sekarang memang banyak pemukiman di tepian Sungai Martapura harus tergusur, karena derap maju pembangunan siring dan dermaga.

“Ya, para pelanggan saya di kawasan Pasar Pagi dan Teluk Kelayan otomatis juga berkurang, setelah mereka harus pindah karena akan dijadikan proyek siring dan rumah susun sewa,” kata Hasan, sembari menunjuk lokasi yang tepat berada di samping jukung bututnya itu.

Dengan mendayung kayuh di tengah gelombang sungai yang besar, ketika perahu bermesin atau klotok melintas di atas Sungai Martapura. Cukup membayar ongkos Rp 2.000, Hasan pun siap mengantarkan para penyeberang dari Pasar Beras Kelayan menuju Pasar Lima. “Terkadang, saya juga diminta membawa barang dagangan, seperti beras ke pasar. Mereka memilih jasa getek karena lebih praktis, dibandingkan harus berkeliling jauh memutar jalan,” ungkap bapak empat anak ini.

Di usianya tak terbilang uzur, Hasan pun tetap setiap dengan identitasnya sebagai pengayuh getek. Bermodal jukung ukuran sedang yang dibelinya dari para penggetek terdahulu seharga Rp 1.250.000, Hasan pun mengais rezekinya.

Iklan Samping 300×250

Jukung tua itu seperti warisan bagi Hasan, karena para pendahulunya yang kini telah tiada pernah menggunakannya sebagai sarana mencari rupiah. Dari segi muatan, jukung hanya mampu maksimal 4-5 orang. Terlihat, dayung yang dipakai Hasan sudah tak lagi sempurna, karena terdapat sambungan atau tangkir (dalam bahasa Banjar), antara pegangan dan bagian bawah pengayuhnya.

“Ya, pendapatan sehari-hari tidak menentukan. Paling banter dapat Rp 20 ribu kalau lagi ramai. Kalau sepi, ya bisa saja hanya Rp 5 ribu,” kata Hasan.

Dengan penghasilan itu, Hasan pun mengaku harus merawat dan menjaga jukung. Lebih empat tahun lamanya, Hasan telah menggunakan jukung yang menjadi sahabat karibnya sehari-hari. “Kalau beli baru, harganya sekarang sudah Rp 5 jutaan,” ucap Hasan, sembari geleng-geleng kepala.

Dia tak memungkiri akses jalan dan jembatan sudah terbangun di mana-mana, ditambah lagi mudahnya warga untuk memiliki sepeda motor walau harus kredit dari lembaga pembiayaan. Sebut saja, ketika Jembatan RK Ilir-Teluk Tiram dibangun, otomatis getek yang ada di Simpang Telawang-Pekauman pun harus tergilas zaman.

Namun, Hasan tetap yakin para pengguna getek tetap ada, meskinya jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Alhamdulillah, masih ada yang mau menyeberang,” kata Hasan, sembari menyumbingkan senyum dan duduk santai di atas jukungnya, dengan pandangan nanar.

Untuk menyiasati pendapatan yang menentu itu, Hasan pun mengaku ketika lagi sepi orderan, memilih menjadi kuli pikul di Pasar Beras Muara Kelayan. Bagi Hasan, terpenting adalah mendapatkan rupiah yang halal dari peluh keringat untuk dibelanja bagi kehidupan rumah tangga. Terpenting, asap masih mengepul dari dapur rumah mereka.

Dia bercerita ketika getek tetap jadi pilihan, biasanya jam layanan penyeberangan bisa larut malam. Sekarang, Hasan mengaku tak berani berspekulasi lagi, dari pagi hingga menjelang senja, jukung getek tambat menanti para pengguna di samping dermaga Pasar Beras Kelayan itu.

“Kalau dulu, ramai dan lampu penerangan juga cukup terang. Sekarang, saya tak terlalu berani lagi. Ada juga yang mau diantarkan menyeberang malam hari, tapi itu sangat jarang sekali,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Di Tengah Modernitas Banjarmasin, Kisah Nelangsa Hasan Sang Pengayuh Getek Tersisa di Teluk Kelayan