Pemilihan Rektor Rasa Pilkada, Refleksi Hasil Pilrek ULM 2018

Oleh : Daddy Fahmandie SH, LLM

SETELAH proses penjaringan menjaring tiga Besar dari 4 bakal calon Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), maka tersebutlah hasil tiga orang Calon Rektor yaitu Prof Dr HadinMuhjad, Prof Dr Zairin Nor dan Prof Dr Sutarto Hadi yang juga sebagai incumbent atau petahana.

SEBAGAI warga Universitas lambung Mangkurat, saya tentu melihat proses ini sebagai bagian dari proses kebutuhan lembaga yang mencari sosok figur pemimpin baru yang bisa lebih baik serta bisa memajukan institusi secara teamwork bahkan menjadi sosok leader yang benar benar berintegritas tinggi.

Dalam pemilihan ini kapasitas calon dan profile calon secara akademis memang mumpuni serta dalam sisi birokratis, tapi satu yang terlupakan seyognyanya masingmasing calon membuka keterbukaan informasi publik terhadap dirinya yang ingin menjadi pemimpin bagi universitas tertua di Banua tercinta ini.

Kemudian, dalam hal kepemimpinan keterbukaan informasi, calon baik dari sisi profile dan harta kekayaan penting diverifikasi sebab integritas tentu juga berkaitan dengan hal tersebut.

Proses transparansi juga mesti dipantau pihak independen sayangnya dalam pemilihan Rektor ULM tidak melibatkan pihak independen sehingga dalam prosesnya baik internal maupun eksternal selalui dihantui masalah kecurangan dalam proses pemilihan rektor mungkin.

Masih ingat proses pemilu Rektor ULM 2014? Di mana saat itu juga terndikasi kecuranganan monopoli suara oleh oknum utusan menteri terhadap salah satu calon,sehingga cukup menuai polemik yang cukup tajam bahkan menjadi perhatian masyarakat.

Dan, baru-baru ini kembali terjadi dugaan kecurangan ada pemilihan di tingkat penjaringan yang diduga terjadi jual beli suara untuk anggota Senat mendukung calon tertentu yang polanya menggunakan dana IDB dan pengkondisian melalui karantina di salah satu hotel.

Iklan Samping 300×250

Nah, jika proses ini faktanya memang terjadi, maka Pilrek ULM memang sudah bernuansa pilkada, karena proses demokrasi di perguruan tinggi dirasuki kepentingan dengan menggunakan cara-cara koruptif. Ya, apakah itu jual beli jabatan atau politik uang.

Harapannya, hal ini tidak terjadi akan tetapi menguatnya pemberitaan oleh media, bahkan media sosial sudah sepatutnya insan akademik memberi perhatian yang cukup serius terhadap masalah ini. Dan, masalah ini harus dituntaskan secara serius, dibutuhkan kepedulian mahasiswa sebagai ujung tombak reformasi. Suara mereka sangat dibutuhkan untuk menyuarakan aspirasi transparansi dalam pemilihan Rektor ULM yang terindikasi kecurangan tersebut.

Sebagai alumni ULM, tentu saya merasa bertanggungjawab untuk menyikapi dan menyuarakan hal ini, asas praduga tidak bersalah tetaplah dikedepankan. Namun proses untuk menuju kepastian dan keadilan dalam proses pemilihan juga lebih diutamakan. Ini agar jika masalah ini berlarut-larut tanpa perhatian seluruh pihak, terutama Menristekdikti, maka tentu Pilrek ULM akan kembali menjadi catatan kelam dalam proses pemilihan rektor nantinya.

Sejatinya, menjaring pemimpin bukanlah hal mudah. Namun kompetensi dan rekam jejak calon merupakan hal yang sangat menjadi pertimbangan tentunya. Akhirnya, semoga pada bulan Juli 2018 nanti, Universitas Lambung Mangkurat memiliki pemimpin yang benar-benar berintegritas, amanah dan mengutamakan akhlak dalam memimpin civitas akademika.(jejakrekam)

Penulis adalah Alumni Fakultas Hukum ULM

Anda mungkin juga berminat
Loading...