Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Oleh : Mansyur 'Sammy'

SHALAT Khauf  artinya shalat yang dilaksanakan waktu ketakutan, kekacauan, kekhawatiran menghadapi serangan atau sedang berperang menghadapi musuh. Agama Islam pun mengatur cara melakukan shalat dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan perang. Dalam hal ini jika perang itu memakai senjata tajam atau tidak dapat membunuh dari jarak jauh. Mati dalam menghadapi musuh dan dalam keadaan shalat termasuk mati syahid dan husnul khotimah.

INTINYA, dalam keadaan apapun shalat itu bisa dilaksanakan dan wajib dilaksanakan. Yang pokok ialah wajib dilaksanakannya itu. Jangan sampai terikat oleh cara-cara di waktu pertempuran itu masih mempergunakan tombak, golok, pedang, panah dan sebagainya, dan permulaan penyerangan itu nampak sekali dan pertempurannya teratur seperti orang berbaris. Yang pokok terselenggaranya shalat, tetapi pelaksanaannya berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Dalam catatan sejarah Banjar, beberapa pejuang Banjar di Abad ke-19, pernah menjalani kondisi ini. Ditangkap saat dan usai Shalat Kauf oleh pasukan. Satu cerita heroik dalam warna dan nuansa keagamaan Islam.

Seperti dialami pejuang wanita yang melawan Belanda di pedalaman Borneo, cucu Pangeran Antasari, Ratu Zaleha. Berdasarkan penuturan Gusti Shuria Putera, sekitar tahun 1906, pasukan marsose Belanda di bawah pimpinan Letnan Christoffel, sudah dapat memperhitungkan kemana Ratu Zaleha melarikan diri atas bantuan para pengkhianat yang turut membantu Belanda melakukan pengejaran.

Maka pengejaran Belanda pun sampai ke daerah Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Pada wilayah hutan lebat di Muara Teweh, Ratu Zaleha kemudian melakukan Shalat Dzuhur, bersama pasukannya dan beberapa tokoh perang Banjar lainnya. Mereka adalah Pangeran Muhammad Roem dan Muhammad Thalib.

Ketika shalat Dzuhur berlangsung, mereka membuat formasi segitiga, di mana Pangeran Muhammad Roem memberikan perlindungan shaff para jamaah dengan ilmu batinnya. Ditambah lagi perlindungan khsus dari Ratu Zaleha dengan menancapkan latung, sejenis rotan yang menjadi senjata magis selain keris.

Latung tersebut ditancapkan di permukaan tanah, ke tiga penjuru sehingga membentuk formasi segitiga. Tanpa ada firasat apa pun, Ratu Zaleha dengan khusyu menjalankan ibadah Shalat Dzuhur tersebut yang diimami oleh Pangeran Muhammad Roem.

Setelah Shalat Dzuhur selesai, mendadak pasukan Belanda datang mengepung. Ratu Zaleha yang belum siap secara fisik akhirnya dapat ditangkap oleh pasukan Belanda karena senjatanya,latung masih tertancap di permukaan tanah dan belum sempat diambil. Sementara pempimpin pasukan yang lainnya yaitu Pangeran Muhammad Roem dan Muhammad Thalib dapat melarikan diri dari kepungan pasukan marsose Belanda. Pada tahun yang sama Ratu Zaleha pun diasingkan Pemerintah Belanda ke Kampung Empang, Bogor (Buitenzorg).

Serupa tapi tidak sama dengan kondisi Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, negeri Batulicin, Tanah Bumbu, tahun 1864.

Dalam arsip kolonial “Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo gedurende de jaren 1859-1864: bijdrage tot de geschiedenis van den opstand in het Rijk van Bandjermasin”, dipublish Ter Landsdrukkerij tahun 1865 cukup jelas menuliskan kronologinya.

Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di Gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya. Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda.

Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan Shlat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Saat shalat, senjatanya Demang Lehman berupa pusaka kerajaan Banjar yaitu Keris Singkir dan sebuah tombak bernama Kalibelah yang berasal dari Sumbawa, diletakkannya tidak jauh dari lokasinya menjalankan shalat.

Atas keberhasilan penangkapan ini Syarif Hamid akan diangkat sebagai raja tetap di Batulicin. Kemudian Demang Lehman diangkut ke Martapura. Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadap pejuang yang tidak kenal kompromi ini. Dia menjalani hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1864.

Pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup. Raut mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Tiada ada satu keluarganyapun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya. Setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipenggal Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.

Demikian halnya dengan perjuangan penghulu Rasyid, juga ditangkap saat shalat. Dalam Idwar Saleh (1982) dipaparkan pada suatu pagi yang nahas, Penghulu Rasyid dengan kekuatan Prajuritnya sedang disiagakan disekitar Mesjid Pusaka Banua Lawas.

Diluar dugaan, tiba–tiba serangan Belanda secara total dari segala jurusan dan terjadilah pertempuran yang amat dahsyat dengan kekuatan yang kurang seimbang, ditambah suatu nahas bagi Pimpinan Griliawan yang gagah perkasa yang dalam hal ini Penghulu Rasyid didampingi oleh sepupu beliau sebagai pendamping yang setia menyingkir keluar dari sektor pertempuran. Prajuritnya ada terus mengadakan perlawanan dan sebagian lainnya ada yang mundur. Penghulu Rasyid beristirahat di bawah pohon berunai di sebelah Timur dari Jihad Mesjid Pusaka Banua Lawas .

Tempat persembunyian Penghulu Rasyid bersama sepupu beliau bernama Umpak telah tercium oleh Sepiun Belanda, yaitu kawan seperguruan Penghulu Rasyid yang kebetulan menjadi Pembakal (Kepala Desa) bernama Busan asal Sungai Rukam Kecamatan Kelua.Pembakal Busan langsung saja menemui sasarannya dengan membayangkan uang kontan 1.000 Golden serta Bintang Jasa dan tidak dikenakan Pajak selama 7 turunan .

Penghulu Rasyid melaksanakan Shalat Ashar dan sampai pada Sujud akhir pada raka’at yang terakhir tidak bangkit-bangkit lagi. Pembakal Busan timbul rasa curiga dan langsung mendekatinya serta menyentuhnya pada bagian leher Penghulu Rasyid, ternyata beliau kembali kerahmatullah dalam keadaan sujud.

Pembakal Busan rasa terkejut dan timbul rasa keraguan untuk mengambil langkah selanjutnya, beliau berjalan -+ 20 meter kemudian terbayang dalam benaknya 1.000 Golden, Bintang jasa dan Bebas Pajak 7 Turunan, dengan tidak berpikir panjang langsung memotong leher Penghulu Rasyid yang sudah dalam keadaan meninggal.

Kepalanya langsung dibawa untuk diperuntukkan kepada Opsir Belanda yang menunggu di Pos Terdepan. Namun ditengah jalan terjadi perebutan atas kepala itu dengan seorang sersan yang seolah-olah sersan itulah yang berhasil membunuh Penghulu Rasyid, akhirnya dapat dilerai oleh serdadu lain dan Pembakal BusaN dapat membuktikan atas kebenaran dirinya.

Dari beberapa sumber, uang 1.000 Golden dimaksud yang diterima oleh Busan hanya 500 Gulden, sedang selebihnya dibagi-bagikan oleh Serdadu Belanda yang telah berusaha juga mendapatkannya. Jenazah Penghulu Rasyid dimakamkan pada sore Jum’at (setelah Shalat Ashar) di samping Mesjid Banua Lawas dalam tahun 1865 dalam usia 50 tahun.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time