ACT

Barajah dan Bawafak, Kesaktian Kertas Kusam Bersimbol Ayat Alquran

Oleh : Mansyur 'Sammy'

0 2.840

DALAM masyarakat Banjar, khususnya di wilayah pahuluan, Kalimantan Selatan, cukup kental dengan ilmu kedigjayaan. Dalam bahasa umum disebut ilmu kesaktian. Tujuannya, tubuh pemilik kesaktian bisa taguh (kebal), disegani orang dan hal lainnya. Cara memperolehnya bervariasi. Mulai bauntalan, barajah, bamandi-mandi (mandi), mangaji, atau balampah (bertapa).

SALAH satu di antara fenomena itu adalah barajah atau istilah lainnya bawafak. Hingga sekarang, pada wilayah pahuluan diyakini banyak Tuan Guru yang dipercaya bisa marajah atau membuat wafak. Rajah atau wafak merupakan sebuah tulisan. Kalau dalam seni Islam mirip lukisan atau kaligrafi. Teknik peulisannya dengan huruf, angka, dan simbol-simbol. Tetapi tidak sembarangan karena sarat makna. Kemudian mengandung sir atau rahasia. Maknanya hanya bisa dipahami orang-orang tertentu.

Hal ini ternyata bukan hal baru atau kekinian. Pasalnya, dalam catatan sejarah pun diwarnai dengan kemunculan wafaq.Hal yang paling fenomenal adalah wafak yang dipakai Pangeran Antasari dalam Perang Banjar (1859-1863). Dari tulisan Willem Adriaan van Rees, De Bandjermasinsche Krijg van 1859-1863 terbit tahun 1865, terdapat gambar djimat of talisman (wafaq) Pangeran Antasari dalam Perang Banjar yang terdiri dari satu buah wafaq.

Pada sumber lain dalam J.H. Maronier dalam Pictures of the Tropics (1967), dirilis enam buah gambar djimat of talisman (wafaq) Gambar djimat of talisman (wafaq) ini awalnya dikumpulkan oleh P.A.C.H.T.H Werdmüller von Elgg, tahun 1862. Adapun djimat of talisman (wafaq) ini adalah milik Antassarie (Pangeran Antasari), Aminoela (Aminullah) dan Pangeran Tonko-Brahim (Pangeran Tuanku Ibrahim), tokoh dalam Perang Banjar tahun 1859-1863.

Apabila ditelusuri lebih jauh pada tanggal 28 April tahun 1767, dalam penyerangan orang Inggris di bawah kepemimpinan Beeckman, sekitar tiga ratus orang Biaju menggunakan jimat dan membakar benteng pertahanan Inggris di sekitar wilayah Sungai Barito.

Demikian juga dalam kasus di Kampung Moening (sekarang wilayah Rantau),Van Schendel bersama Kapten Graas serta kepala peleton lain diserang secara tiba tiba oleh pasukan dengan memakai tombak dan menggunakan djimats (jimat/wafaq). Demikian halnya dalam menggambarkan gerakan Beratib Beamal tahun 1859, Rees juga menuliskan,aliran ini dicirikan penggunaan jimat yang berisi mantra dan angka bertuliskan ayat Al Quran.

Hal ini memang menjadi karakteristik umum gerakan beratib beamal. P.J. Veth, dalam tulisannya “Het beratip beamal in Bandjermasin” (1856), memaparkan bahwa Jimat-jimat, latihan kekebalan, tenaga dalam dan kesaktian lainnya pada situasi normal merupakan aspek kurang penting dalam pertarekatan (walaupun punya daya tarik kuat). Namun pada situasi tidak aman, dalam perang atau pemberontakan, aspek ini menjadi sangat menonjol.

Dalam banyak kasus pemberontakan yang melibatkan tarekat, kelihatannya bukan tarekat yang memelopori pemberontakan melainkan para pemberontak yang masuk tarekat untuk memperoleh kesaktian. Dalam beberapa kasus laporan resmi Hindia Belanda menyebutkan bahwa menjelang pemberontakan orang berjubel mendatangi syaikh-syaikh tarekat yang punya nama sebagai ahli kesaktian, untuk minta dibaiat oleh mereka.

Veth juga memaparkan bahwa terdapat kasus yang menarik adalah pemberontakan anti-Belanda di daerah Banjarmasin sekitar tahun 1860-an. Pemberontakan itu sudah berlanjut beberapa tahun ketika seorang guru mulai mengajar amalan yang dinamakan “beratip be`amal”.Veth menuliskannya sebagai varian amalan tarekat Sammaniyah. Orang berbondong-bondong datang dibaiat dan diberikan jimat-jimat.

Menurut Mujiburrahman (2013),satu hal yang amat menonjol di masyarakat Banjar pada Abad ke-19adalah gerakan keagamaan yang disebut Beratib Beamal, yang telah menjadiorganisasi perlawanan yang militan melawan kekuasaan Belanda.Tercatat beberapa kasus penyerangan terhadap Belanda diAmuntai, Kelua dan Kandangan, yang dilakukan oleh para pengikut Beratib Beamal. Mereka menyerang dengan penuh keberanian, karena yakin apa yangdilakukannya adalah jihad fi sabilillah. Dilaporkan juga bahwa merekamembawa jimat-jimat.

Berbeda dengan Veth, dasarkansebuah laporan Belanda, Helius Sjamsuddin (2001) memperkirakan gerakan Beratib Beamal itu kemungkinan besarpengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Sementara itu, Bruinessen berpendapat mereka adalah pengikut Tarekat Sammaniyah dengan alasan salah seorang anak Pangeran Antasari bernama Gusti Muhammad Seman adalah pengikut tarekat ini. Apapun nama tarekat itu, yang jelas adalah bahwa pada Abad ke-19, gerakan tasawuf di Banjarmasin bukan sekadar ajaran spiritual belaka,melainkan sudah menjadi gerakan sosial.

Tarekat Naqsyabandiyah yang dianut pengikut gerakan Beratib Beamal memang merupakan satu dari dua tarekat yang paling ditakuti penjajah Belanda di Nusantara. Menurut Azyumardi Azra, kedua tarekat yang paling dikhawatirkan Pemerintah Hindia Belanda itu adalah Tarekat Qadariyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Mengapa penjajah takut terhadap dua tarekat tasawuf itu? Kekhawatiran Belanda terhadap gerakan yang dimotori tarekat memang sangat beralasan.  Sebab, begitu banyak perlawanan dan gerakan menentang penjajahan yang dipimpin tokoh tarekat atau pengikut tarekat tertentu. Karena itulah, tarekat mendapatkan pengawasan khusus dari Belanda.

Menurut Bruinessen, antara tasawuf dan tarekat memang terdapat dua persepsi yang bertolak belakang. Para pejabat penjajah Belanda, Prancis, Italia, dan Inggris lazim mencurigai tarekat karena dalam pandangan mereka, fanatisme kepada guru dengan mudah berubah menjadi fanatisme politik.

Tarekat Naqsyabandiyah, dalam Ensiklopedi Islam, tersebar ke Nusantara pada abad ke-19 M. Tarekat ini mengalami perkembangan pesat terutama ketika menghadapi Pemerintah Hindia Belanda. Annemerie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam, mengemukakan tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan guna menandingi kekuatan lain. Selain gerakan Beratib Beamaldi wilayah Borneo (Kalimantan) bagian selatan sekitar tahun 1859-1861, pada Juli 1888, wilayah Anyer di Banten Jawa Barat dilanda pemberontakan dipimpin oleh para ulama dan kiai.

Mengenai wafak, makin bermakna karena memiliki bentuk kaligrafi, geometrik dan pengulangan yang menjadi ciri khas seni Islam cukup nampak. Bila dianalisa ternyata kekhasan seni Islam pada azimat berwafak ini tidak sepenuhnya meniru dari kekhasan seni Islam. Ini terbukti adanya simbol binatang realistik, tokoh pewayangan senjata, bahkan menciptakan simbol-simbol abstrak yang unik.

Ini membuktikan apapun yang datang dari luar ke Indonesia akan selalu mengalami proses akulturasi. Alkulturasi itu akan menimbulkan suatu bentuk seni budaya yang berakarkan pada ciri-ciri kebudayaan asing dan kebudayaan sendiri atau disebut hibridisasi.

Jimat berwafak dalam tradisi masyarakat Banjar, dibuat menggunakan angka-angka, lambang-lambang rajah dan ayat-ayat Alquran kebanyakan berasal dari Islam. Jadi tak setiap jimat itu berwafak. Setiap barang yang berwafak maka kekuatannya akan bertambah, mewafak adalah merupakan ilmu tersendiri. Jima-jimat lain yang berasal dari jenis tumbuh-tumbuhan, binatang, tanah, logam seperti wasi kuning dan sebagainya. Kumpulan jimat yang serupa ini yang dipakai untuk melindungi diri dari bencana, membuat seseorang kebal, ditakuti orang, ada juga jimat yang besar selilit pinggang yang disebut babatsal.

Jika ditinjau secara ilmiah, azimat berwafak ini sebagai lokalitas dan warna lokal seni tradisi merupakan karya yang termarjinalkan oleh arus informasi yang menyeret perubahan-perubahan pola berfikir masyarakatnya. Azimat berwafak ini menampakan ciri lokal khas Banjarmasin. Secara tidak langsung sekaligus juga masih memiliki citra spiritualitas seni Islam yang kuat pula.

Azimat berwafak ini memiliki ungkapan rupa berupa simbol-simbol mulai dari bentuk, warna, material dan huruf-huruf magisdimana hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti.

Dalam sistem religi di daerah Kalimantan Selatan, selain wafak ada beberapa jenis benda yang dianggap memiliki kekuatan atau sakti yang bisa memberikan kebaikan atau kebalikannya bagi si pemakai. Ada juga kepercayaan yang bersifat kajian atau ilmu kanuragan yang dimiliki seseorang dalam berbagai hal, baik itu taguh(kebal), ilmu pengasih (pemikat) atau sebagainya yang dianggap hal yang istimewa oleh Urang Banjar.

Semua kepercayaan ini tidak semata-mata timbul dari adat Banjar saja tetapi juga ada induksi atau masukan dari lain misalnya agama Islam. Contohnya, wafak-wafak atau jimat-jimat yang bertulisan ayat suci Alquran dan sebagainya yang memang semuanya itu berasal dari Islam. Ini lazim disebut azimat berwafak atau disebut wafak saja.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.