ACT

Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

0 822

DINUL Islam yang dibawa Nabi Besar Muhammad SAW (570-632 M) di Jazirah Arab, menyebar seantero dunia. Merambah ke nusantara, hingga ke Tanah Banjar dan melahirkan sebuah kerajaan bernafaskan Islam.

KAPAN Islam itu masuk ke Pulau Borneo? Hipotesis semacam ini sering jadi bahan perdebatan di antara para sejarawan, budayawan, hingga akademisi yang mendalami cabang ilmu Islam. Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Yusliani Noor mengatakan dalam makalahnya bahwa pada abad ke-14, sebetulnya pengaruh Islam sudah masuk ke Pulau Kalimantan.

Ia beralasan, ketika itu Pangeran Sari Kaburangan yang juga dikenal dengan Ki Mas Lalana atau Raden Sekar Sungsang, pernah belajar agama (Islam) di Ampeldenta. “Namun, ketika dia kembali ke Kalimantan untuk membangun Kerajaan Islam di Nagara, ternyata gagal. Kecuali, Pangeran Sari Kaburangan ini meneruskan kerajaan bercorak Hindu Siwa, bernama Kerajaan Daha-Kuripan,” kata Yusliani Noor.

Mengapa Pangeran Sari Kaburangan itu gagal? Yusliani menekankan kuatnya pengaruh Hindu dan Budha di nusantara, terutama hegemoni Kerajaan Majapahit menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan Islam jadi agama resmi kerajaan.

Siapa Raden Sekar Sungsang yang memerintah Negara Daha pada 1495-1500 itu? Dalam Tutur Candi, disebutkan ketika Raden Sekar Sungsang sejak melarikan diri dari Kerajaan Negara Dipa, akibat sering mengganggu ibunya Puteri Kaburangan (Puteri Kalungsu).

Sang pangeran kemudian dipungut seorang saudagar kaya asal Surabaya, Juragan Balaba, ketika berdagang di Nagara. Sekar Sungsang kemudian dibawa ke Surabaya, dan diangkat jadi anak oleh Juragan Balaba dengan nama baru Ki Mas Lalana.

Kemudian, Ki Mas Lalana itu belajar Islam dengan Sunan Giri, hingga diangkat jadi menantu sang sunan dan diberi gelar Sunan Serabut. Hubungan Sunan Giri dengan Sunan Serabut yang kemudian berkuasa di Negara Daha-Kuripan itu terjalin kuat, terbukti setoran upeti terus diberikan ke Pulau Jawa.

Sementara itu, sejarawan Indonesia, A.B.Lapian, Kesultanan Banjarmasin merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada zamannya. Menurut A. B. Lapian, setelah masuknya agama Islam (ke wilayah yang dinamakan Nusantara atau Indonesia sekarang), telah muncul beberapa kerajaan besar yang memainkan peranan penting di Nusantara seperti Aceh, Banjar, Banten, Bima, Bone, Deli, Gowa, Mataram, Riau, Siak, Ternate, Tidore, dan sebagainya.

Semua kerajaan tersebut berhasil menyatukan berbagai suku bangsa di bawah satu pemerintahan pusat, jadi dapat dilihat sebagai langkah yang lebih maju dari unit-unit yang masih terbatas pada ikatan desa, suku, atau bangsa.

Pengamat politik dan sejarah Islam asal IAIN Antasari Banjarmasin, DR Ani Cahyadi membenarkan adanya hipotesis datangnya Islam itu ke Tanah Banjar, sebelum berdirinya Kesultanan Banjar yang dinakhodai Sultan Suriansyah pada 1527 versi JJ Ras dalam Hikayat Banjar.

Namun, versi lainnya menyebutkan pada 1524 atau 1526 yang dicetuskan Begawan Sejarah Banjar, Profesor M Idwar Saleh. “Islam memang sudah ada di Tanah Banjar, namun masih secara individual, bukan secara institusi atau agama resmi kerajaan. Bahkan, saat itu malah berkembang ajaran Islam bercorak Syiah, bukan Ahlu Sunnah Waljamaah yang berkembang selanjutnya buah dari ajaran Walisongo dan menyebar ke Tanah Banjar,” ucap Ani Cahyadi, beberapa waktu lalu.

Doktor jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengungkapkan perdagangan jalur sutera yang menghubungkan pedagang jazirah Arab-Tiongkok, juga membuka jalur perdagangan hingga ke Pelabuhan Bandarmasih di Tanah Banjar. “Saat itu, Pelabuhan Bandarmasih merupakan salah satu pelabuhan perdagangan yang cukup ramai di nusantara, dan banyak

Sebagai bukti, Ani Cahyadi menunjuk beberapa makam kuno etnis Arab, terutama berasal dari Yaman yang menyebar di Banjarmasin, Martapura, serta kawasan Hulu Sungai, seperti di Barabai. “Patut dicatat, Islam yang ada di Tanah Banjar juga sangat dipengaruhi dua poros Kesultanan Islam, yakni Samudera Pasai di Aceh, dan Kerajaan Demak di Jawa,” kata Ani Cahyadi.

Analisis Ani Cahyadi ini sejalan dengan hasil riset Dr Ita Syamtasiyah Ahyat. Dosen senior Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dalam bukunya Kesultanan Banjar pada Abad ke-19, mengakui jika pada abad ke-7 dan ke-8, sudah terjalin hubungan antar penduduk dan kerajaan di nusantara. Bahkan, pada abad ke-13, sudah berdiri institusi kerajaan bercorak Islam yakni Samudera Pasai, di Sumatera bagian utara.

“Perkembangan Islam sebagai institusi kerajaan agak berjalan lambat, karena masih kuatnya pengaruh Kerajaan Hindu yang diwakili Kerajaan Singosari, dan dilanjutkan Kerajaan Majapahit. Baru, menjelang abad ke-15 dan abad ke-16, hampir serentak di berbagai tempat di nusantara telah berdiri kerajaan bercorak Islam,” tulis Ita Syamtasiyah Ahya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.