Seniman Grafiti Tagih Janji Walikota Banjarmasin Sediakan Tawing Bomber Khusus

CORETAN dinding kota tak selamanya merusak keindahan. Jika terkonsep, hasilnya bisa menjadi saluran ekspresi dan karya seni yang elok dipandang mata. Bagi sebuah kelompok yang hobinya corat-coret dinding dengan membawa kaleng cat dan kuas ini biasa menyebutnya sebagai seni mural dan grafiti.

BERANJAK dari kemunculan tawing (dinding) bomber mulai menghiasi ruang sudut kota di Banjarmasin, seperti tembok besar ataupun tiang beton penyangga jalan. Komunitas yang didirikan sejak 2009 ini menjadi ruang bagi beberapa pelaku seni mural dan grafiti yang kini mulai tergerus, karena adanya kesibukan masing-masing.

“Ada yang sibuk kuliah dijogja sekaligus kerja dan juga sudah berkeluarga. Kalau yang sudah berkeluarga sekarang agak susah diajak. Karena dulu ada yang pernah bilang mending beli susu anak dibanding beli kaleng cat,” kata Jefri saat diwawancarai di Kafe Hello, Banjarmasin, Senin (14/5/2018).

Untuk menjadi ruang kolektif bagi pelaku seni mural dan grafiti di Banjarmasin, Jefri merangkul regenerasi-regenerasi baru, yang anggotanya kebanyakan dari anak sekolah, baik itu SMP maupun SMA.

Memang, soal seni mural dan grafiti ini banyak juga yang tidak setuju. Tak sedikit kalangan menilai jika eksistensi mereka justru merusak ruang kota yang seharusnya bersih dari coretan-coretan tak berarti, karena dianggap sebagai gangguan.

Namun, sebagai orang yang menggeluti dunia itu, Jefri justru melihat mural dan grafiti merupakan objek seni. Dia pun tak masalah jika orang lain berseberangan pandangan. Menurut Jefri, seni mural dan grafiti tergantung dari orang memaknai keberadaan sebuah gambar.

“Slow aja sih, kita kan memang harus bangun skenanya lagi dari nol, jadi otomatis gambarnya juga kita harus wow banget dan masyarakat sekitar bisa memaknainya secara luas, agar kesannya bukan vandal,” tutur Jefri.

Meski kesannya merusak, namun Jefri punya pandangan lain. Bagi dia salah satu pembeda antara seni mural dan grafiti ialah soal aspek keberanian memicu adrenalin.  Jefri sengaja membuat gambar sederhana dalam bentuk throw up yang merupakan bagian dari grafiti untuk menyalurkan bakatnya melukis di dinding kota. Nantinya, setelah beberapa minggu bisa ditimpa lagi dengan gambar yang lebih bagus.

“Ketika ada orang yang tanya, dek..kenapa gambar di situ? Daripada gambarnya kaya gini Bu. Kesannya ada dua oknum yang ngejelekin sama ngebagusin padahal pelakunya sama. Jadi propagandanya supaya masyarakat juga ngerti mana yang bagus mana yang buruk, agar bisa melawan stigma negatif karena adanya coretan anak anak genk gak jelas,” ungkap Jefri.

Secara tidak langsung, tujuan besar dari grafiti ini mengubah struktur kota, karena ketika gambar di kawasan kumuh, akan jadi lebih bagus. Apalagi ketika digambar melalui gedung yang tidak terpakai akan menjadi media untuk  menggambar.

“Ketika udah dicoret-coret, pemerintah langsung ngelirik, loh kenapa dicoret-coret mending dibangun ulang. Yang dulunya bangunannya diabaikan kini bisa difungsikan kembali. Akhirnya fungsi grafiti berubah menjadi tata kota secara keseluruhan. Kalau di Jogja (Yogyakarta) sih gitu,” kata Jefri lagi.

Dulu sempat ada postingan dari akun instagram @WargaBanua membahas persoalan corat-coret di Jembatan Kayutangi. Banyak netizen geram dengan postingan tersebut karena dianggap menjatuhkan nilai seni grafiti, hingga sang pemilik akun menutup kolom komentar.

“Dia sebenarnya tuh ngerepost, cuman captionnya dia tambahin, jadi kesannya itu ngejatuhin grafiti. Skena grafiti di banjarmasin tuh sudah mau hilang, jangan makin ditekan. Kalau gak ngerti mending gak usah ngomong. Kalau dia pelaku di sini sih gak masalah,” papar Jefri lagi.

Dia menuturkan perkembangan grafiti selama ini kurang mendapat apresiasi, ia berharap Pemkot Banjarmasin bukan hanya memberi janji. Secara lisan, Jefri pernah dijanjikan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina untuk membuat tulisan di sejumlah tempat. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan.

“Dulu pernah dijanjikan oleh Pak Ibnu untuk menggambar di Jembatan Jalan S Parman. Tapi sampai sekarang kejelasan pemerintah tidak ada,” ucap Jefri.

Mengingat karya mural dan grafiti tak bisa dibendung, Jefri mengusulkan kepada pemerintah bisa menyediakan tempat untuk berkreasi di media terbuka seperti taman kota.

Iklan Samping 300×250

“Saya harap Banjarmasin bisa mengambil contoh kota-kota di Indonesia dan Malaysia. Mereka punya satu taman yang dibuatkan dinding kosong dari pemerintah dan itu bisa digambar anak-anak mural dan Grafiti. Kalau di Kamboja kan jelas taman kota, ketika orang yang nyantai disitu juga enak,” kata Jefri.

Menurutnya, jika pemerintah tidak menyediakan tempat atau media untuk para seniman itu bukan jadi masalah. Baginya menggambar bebas dimana saja tanpa adanya dukungan dari pemerintah kota.

“Kita gambar di mana aja juga bebas, toh kita bukan sponsor dan gak ada yang ngesponsorin juga. Kalau didukung ayo, kalau mau gin-gini gak masalah juga, toh mereka gak ngasih apa apa juga, toh kami berkarya pakai duit kami sendiri,” katanya.

Saat dikonfirmasi, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina siap menebus janjinya untuk memberikan wadah kreatibitas pelaku seni grafiti. Namun, kata Ibnu, terkendala tidak bisa menginformasikan ke pihak bersangkutan.

“Rencananya mau kita fasilitasi, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, karena kami tidak punya kontak mereka untuk dihubungi,” jelas Ibnu Sina.

Mantan anggota DPRD Kalsel ini berpesan agar segera menghubungi dinas terkait untuk secepatnya bisa diproses.  “Nanti langsung saja ditindaklanjuti pelaku seni grafiti melalui Dinas Pariwisata atau Dinas PUPR. Karena kan objeknya banyak dijalan dan jembatan,” tuturnya.

Terkait usulan Jefri mengenai untuk menyediakan tempat berkreasi pada media terbuka seperti taman kota ini, Ibnu menjawab akan segera didiskusikan dengan dinas terkait. “Bisa didiskusikan itu lokasinya, karena tahun ini kita merancangkan masterplan Taman Kamboja,” ucap mantan Ketua DPW PKS Kalsel ini.

Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Mokhamad Khuzaimi sangat mendukung terhadap usulan seni grafiti sebagai bagian dari wisata dengan maksud ada destinasi baru dengan memanfaatkan space yang ada pada sisi-sisi jembatan.

“Karena tujuan dari pariwisata adalah, dulu objek tersebut biasa saja, dengan adanya pewarnaan, baik grafiti, tematik sasirangan, mural ataupun itu, yang jelas memberikan sentuhan berbeda dan bernilai artistik itu sangat kami dukung penuh,” ujar Khuzaimi.

Dengan adanya pelaku seni grafiti di Banjarmasin bisa merubah suatu kondisi di mana struktur jembatan yang awalnya kurang menjadi perhatian publik, bagi kebanyakan orang dianggap biasa saja, lalu akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Bagi dia, pelaku seni ini bisa memperindah kotanya denga ciri khas tersendiri. Contohnya motif bentuk sasirangan merupakan suatu keunikan yang tidak ada didaerah lain.

“Jika pelaku seni datang kita tak masalah, mungkin kita akan coba diskusi untuk sumber pembiayaan dari mana. Yang kita harapkan dari CSR atau peran serta masyarakat itu lebih hebat lagi. Apalagi dari pelaku seni graffiti, kita akan sangat berterimakasih,” ujarnya.

Jimmi pun berencana akan meminta izin ke Dinas PUPR baik provinsi maupun balai untuk izin diadakan pengecatan dalam menyediakan tempat atau media untuk para seniman. Apalagi dengan adanya keinginan Jefri untuk bisa berkreasi di Taman Kamboja.

 “Kami setuju saja, mengusulkan alternatif untuk mengapresiasikan tempatnya. Jadi, memang harus ada penilaian dari pihak seniman yang menurut mereka memungkinkan untuk dijadikan spot melukis,” ujarnya.

Jimmi pun berharap kepada para pelaku seni grafiti maupun mural dalam berkesenian lebih mengutamakan kearifan lokal, salah satunya menampilkan motif sasirangan, kemudian koleksi-koleksi yang pernah dimiliki Banjarmasin dari tempo dulu.

“Mesti berkaitan dengan ciri khas kota. Jadi yang bermuatan lokal kita hidupkan kembali,” katanya.  Seiring perkembangan zaman, mural dan grafiti mampu menjadi saluran komunikasi sub culture. Lebih dari itu mereka berkarya untuk menjaga eksistensi di hadapan publik. (jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Seniman Grafiti Tagih Janji Walikota Banjarmasin Sediakan Tawing Bomber Khusus