Potret Lukisan Hitam Putih di Tengah Minimnya Apresiasi Seni Warga Banjarmasin

MENIRU sang ayah melukis dengan media kertas dan pensil arang, akhirnya Wawan pun lamat-lamat menjadi cekatan. Gambar di dinding yang menunjukkan keperkasaan seorang Bima, tokoh pewayangan sakti mandraguna dari ksatria Pandawa, menginspirasi jemari tangan Wawan untuk menggeluti dunia seni lukis.

HASILNYA, ada beberapa lukisan, sketsa, karikatur dan potret menjadi tumpuan hidup Wawan. Warga Jalan Pramuka, Gang Srikaya, Kelurahan Pemurus Luar, Kecamatan Banjarmasin Timur ini berani menjajakan hasil karyanya di emperan sebuah ruko di ruas jalan penghubung menuju Terminal Kilometer 6 Banjarmasin.

“Kalau ada yang berani membeli, ya saya jual lukisan hitam putih ini. Soal harganya, bisa nego,” ucap Wawan, pria yang kini berusia 42 tahun kepada jejakrekam.com, Jumat (4/5/2018) malam.

Wawan mengakui punya keahlian melukis di atas kertas tebal berbagai ukuran, dari A1 hingga A6, atau kertas karton dan kanvas, tergantung pesanan dari para peminat. Dia pun mematok harga sesuai kesepakatan. Untuk lukisan Pasar Terapung Lok Baintan yang begitu elok, didesain ala karikatur, dibandrol Rp 250 ribu. “Untuk lukisan potret juga tergantung kerumitan. Semakin rumit, tentu harganya semakin mahal. Ya, seperti foto klasik dengan busana batik ini harganya bisa Rp 350 ribu. Soalnya, untuk mengerjakannya secara detail butuh waktu 3 hingga 4 hari baru selesai,” kata pria tamatan SMA Beruntung ini.

Pelukis jalanan ini  pun mengakui  kini peralatan melukis hitam putih sangat langka, terutama pensil arang. Ada tiga jenis arang yang bisa digunakan saat melukis di atas kertas tebal, yakni vine, arang dikompresi hingga pensil arang.

“Dulu, di Banjarmasin banyak toko yang berjualan pensil arang. Sekarang langka, terpaksa beli secara online dari Jawa. Memang, kebanyakan pensil arang itu buatan luar negeri, kalau buatan dalam negeri, terkadang kualitasnya tidak sebagus buatan dari Jerman, misalkan,” tuturnya.

Untungnya, menurut Wawan, pensil B hingga pensil 9B bisa dipakai sebagai pengganti, meski hasilnya tak sesempurna pensil arang. Menurut pria yang memiliki satu putra ini, seni melukis hitam putih ini terletak pada tesktur dan lekukan, serta kesempurnaan bayang dari media lukis yang dibuat. “Ya, semakin rumit dan detail, maka semakin sempurna sebuah lukisan itu,” kata Wawan.

Ia mengakui minat seni masyarakat Banjarmasin, memang tergolong minim dibandingkan dengan warga Pulau Jawa. Hampir saban malam, Wawan menjajakan lukisan terbaiknya, termasuk karikatur yang bisa menjadi koleksi para penghobi seni fotografi klasik. “Sebetulnya, bagi yang ingin memesan tak perlu juga datang ke sini, cukup kirim foto lewat WA, saya garap. Insya Allah, hasilnya akan nyaris sempurna seperti aslinya,” ucap Wawan, berpromosi.

Soal ongkos, Wawan pun mengaku tak mematok harga selangit. Terpenting, menurut dia, dirinya dan pemesan itu sepakat dengan harga serta mempertimbangkan kerumitan dari objek yang hendak dilukis. Dari sentuhan tangan terampil olah dari ketelatenan, Wawan mengaku cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Alhamdulillah, dapur bisa mengepul,” ujarnya berseloroh.

Apakah promosi hasil karya begitu kurang sehingga banyak orang tak mengenal karya seorang Wawan? Pria berambut gondrong ini mengaku tak pernah mengikuti pameran lukisan atau sejenisnya. Yang ada, Wawan hanya memanfaatkan pasar malam atau pasar wadai Ramadhan dengan menggelar lapak di sudut-sudut pusat keramaian. “Intinya, saya ini menjual jasa. Kalau pemesan merasa puas, saya juga puas. Terpenting, hasil karya saya ini dihargai,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time