Ucapan ramadhan

Misteri Pulau Kembang, Antara Penguasa Gaib dan Tenggelamnya Kapal Dagang Inggris

DELTA yang membelah Sungai Barito nan luas dikenal dengan sebutan Pulau Kembang. Secara administratif, Pulau Kembang berada di wilayah administratif Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan. Menyandang Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor  788/Kptsum12/1976, pulau seluas 60 hektare yang ditumbuhi pohon mangrove menjadi kawasan hutan wisata.

SEBAGIAN kepercayaan masyarakat Banjar, masih meyakini Pulau Kembang adalah delta yang terbentuk akibat kapal perang Inggris atau Belanda tenggelam, setelah terlibat pertempuran dengan para punggawa Kerajaan Banjar. Hingga, monyet ekor panjang dan bekantan kerap dikaitkan dengan ‘kutukan’ terhadap para penjajah itu.

Wajar, jika penulis buku Suluh Kalimantan, Amir Hasan Bondan pun mencantumkan wilayah Pulau Kembang merupakan bagian dari wilayah gaib yang ada penjaganya. Secara rinci, Amir Hasan Bondan yang merupakan sejarawan sekaligus wartawan ini menyebut penguasa gaib Pulau Kembang adalah Pangeran Kacil Kertas Melayang, di antara 13 penguasa gaib lainnya di Tanah Banjar.

Rinciannya, penguasa gaib Muara Banjar adalah Pangeran Suryanata, Cerucuk dipercayakan kepada Pangeran Musarana, Ujung Panti dikuasai Pangeran Aria Manggung, Taluk Sarapat jadi wilayah kekuasaan Pangeran Kaca Mendung, Pulau Datu oleh Pangeran Kuning (Datu Pamulutan), Tanjung Dewa tersebut nama Pangeran Bagalung. Lalu, penguasa gaib Tanjung Silat di bawah kendali Patih Simbat, Muara Mantuil oleh Patih Muhur, Pulau Kaget dikuasai Patih Hambaya, Ujung Balai jadi wilayah Patih Langlang Buana, Pulau Tempurung (Patih Huruk), Ujung Telan (Patih Lalangir) dan terakhir Ujung Paradatua dikuasai Patih Rumbih.

Pendekatan ilmiah coba diurai Mansyur. Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengungkapkan sedari awal Pulau Kembang yang menjadi bagian dari destinasi wisata Pasar Terapung, Kuin memang memiliki cerita dan kisah menarik serta penuh dinamika.

“Sejak 1920, hingga masa akhir Hindia Belanda pada 1942, Pulau Kembang oleh para meneer Belanda disebut dengan Apeneiland, atau pulau para kera. Bukan pulau monyet atau monkeys. Kedua hewan dari klasifikasi ilmiah sangat berbeda, sebab kera berasal dari superfamili Hominoidea. Sedangkan, monyet termasuk superfamili Cercopithecidae dengan satu famili yakni Cercopithecidae. Secara fisik, perbedaan antara kera dan monyet paling kentara dan mudah dikenali adalah keberadaan ekor,” papar Mansyur kepada jejakrekam.com, Sabtu (14/4/2018).

Mengutip tulisan begawan sejarawan Banjar Idwar Saleh (1981-1982), terungkap sejarah Pulau Kembang dimulai sekitar 1698, ketika para pedagang Inggris membuka kantor dagang di Banjarmasin. “Hubungan Inggris dengan Kerajaan Banjar tak begitu baik. Untuk menyingkirkan Inggris, Sultan Banjar meminta bantuan penduduk asli pedalaman dari golongan Biaju yang hidup di pesisir Barito,” ucap Mansyur.

Dosen muda sejarah FKIP ULM ini juga membandingkan laporan Hamilton (1757) yang menceritakan sekitar 3.000 orang Biaju menyerang loji dan benteng Inggris di pesisir Sungai Barito. Kapal Inggris dibakar, hingga akhirnya kapal itu menjadi sedimentasi, hingga terbentuk delta. “Lama-lama bangkai kapal-kapal Inggris menjadi delta itu yang selanjutnya disebut Pulau Kembang,” ujar Sammy, sapaan akrab sejarawan muda ini.

Magister sejarah lulusan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini juga mengungkapkan ada dua versi yang berkembang soal keberadaan Pulau Kembang.

Iklan Samping 300×250

“Pertama yang menyebut tanah muncul di permukaan air, hingga mengambang atau meluap, hingga Pulau Kembang juga disebut Pulau Maluap. Tafsir kedua bahwa Pulau Kembang adalah pulau makhluk gaib yang memakai sarung kera. Pemimpin para kera ini konon bernama si Anggur,”

“Nah, konon kabarnya ketika orang bernazar dengan membawa sesajen berupa mayang dan kembang-kembang, maka hajatnya terkabul, akhirnya pulau itu dikaitkan dengan aktivitas menabur kembang hingga akhirnya dikenal dengan Pulau Kembang,” beber Sammy.

Hanya saja, Sammy justru lebih tertarik dengan buku yang ditulis Hamilton berjudul A New Account of the East Indies pada 1688-1723. Dalam buku itu, diceritakan tentang berita tenggelamnya Kapal Barry dalam upaya Inggris mendirikan factory di Banjarmasin, yang kemudian diserang orang-orang Biaju, hingga dua armada kapal Inggris tak bisa diselamatkan dan terbakar hebat.

“Ada seorang pria Belanda yang berusaha melarikan diri dalam penyerangan tersebut, bernama Hoogh Chamber namun juga ikut dibakar. Hal tersebut tidak terlepas dari persaingan sesama bangsa Eropa dalam memperebutkan perdagangan lada yang berpusat di Tatas. Pada saat itu, Bernard te Lintelo (1752-1757), bertindak sebagai pemimpin Belanda di Tatas yang dilanjutkan R. Ringholm (1757-1764),” urai Sammy.

Menurut dia, catatan sejarah mengenai Pulau Kembang sebagai daerah tujuan wisata mulai mengemuka ketika dirilis Majalah Travel (wisata) Hindia Belanda, Tropisch Nederland, volume 12 yang terbit tahun 1939.

Dalam artikel bertajuk Bandjermasin, Borneo oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, dituliskan bahwa kalau travelers berangkat dari Martapura berlayar melewati Kween ke barat, akan tiba di Sungai Barito, tepat di Apeneiland (Pulau monyet), Poelau Kembang. “Sebuah delta yang tidak bisa dilalui. Tempat itu adalah tempat kawanan kera menetap (bermukim) secara permanen,” ujarnya.

Sedangkan sumber lain disebut Sammy adalah Tijdschrift voor Indische taal, land en volkenkunde, yang diterbitkan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1948, tertulis bahwa di Poelau Kembang, sebuah pulau kecil yang terletak di Sungai Barito, adalah “pulau monyet” yang terkenal, tepat di hilir dari muara Kween (Koein).

“Sementara Dorothee Buur dalam tulisannya berjudul Indische Jeugdliteratuur: Geannoteerde Bibliografie van jeugdboeken over Nederlands-Indie en Indonesie, tahun 1825-1991, bercerita tentang keluarga Belanda baru saja tinggal di Bandjermasin (Borneo) di mana sang ayah memiliki pekerjaan di bidang kehutanan,” tutur Sammy.

Masih menurut dia, saat itu, sang penjelajah Belanda ini sering pergi tur melalui hutan dengan perahu. Bersama putra tertuanya, Chris, kerap bepergian naik perahu. “Chris dan ayahnya berlayar di sepanjang sungai Martapoera dan Barito ke Apeneiland (Pulau Monyet). Dalam perjalanan mereka menuju berburu buaya. Setelah sekitar satu tahun, sang ayah lalu dipindahkan ke Magelang (Jawa Tengah),” imbuhnya.(jejakrekam)

 

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.