Iri dengan Jawa Barat, Kalsel Seharusnya Jaga Situs Warisan Belanda

Foto : Sayyidil Ahmada

GURU besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof MP Lambut pernah berujar mengapa Kalimantan Selatan tak lagi mempertahankan situs-situs peninggalan kolonial Belanda. Termasuk, kerkhof atau areal pekuburan serta warisan bangunan yang seperti hilang ditelan bumi. Padahal, bangunan lawas itu bisa mendatangkan turis-turis asing khususnya asal Negeri Kincir Angin untuk bernostalgia.

SANG profesor ini pun membandingkan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang menerapkan syariat Islam lebih kental, justru mempertahankan situs-situs peninggalan para penjajah baik Portugis maupun Belanda, meski berbeda dengan keyakinan mereka.

Tak hanya itu, kutipan Bung Karno yang terkenal dengan istilah jas merah atau jangan jangan sekali-sekali melupakan sejarah sering didengung-dengungkan masyarakat Kalsel. Memang, tak bisa dipungkiri sejarah akan merubah pandangan hidup masyarakat luas. Selain itu, sejarah pula yang bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme.

Kalimantan Selatan sendiri merupakan salah satu daerah yang menurut cerita cukup lama dijajah bangsa asing. Namun, realita yang ada sangat sedikit bukti fisik di Tanah Banjar, tanda perlawanan terhadap sang penjajah itu memang ada. Kini, semua itu hanya tergores dalam tinta dalam buku-buku bertema sejarah, atau foto-foto zaman dulu, maupun sekadar cerita dari mulut ke mulut.

Situs-situs bersejarah era kolonial Belanda pun sangat minim, meski Banjarmasin dan kota-kota lain merupakan kota tua. Contohnya, adalah pemakaman kerkhof yang dulu ada di kawasan Jalan Anang Adenansi atau Kamboja, atau di kota-kota lainnya di Amuntai, Barabai, Kandangan dan lainnya.

Begitupula dengan bukti Benteng Tatas yang kini disulap menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Atau, penyerangan Benteng Oranye Nassau Belanda di Pengaron oleh pasukan pimpinan Pangeran Antasari, dan lain sebagainya hanya meninggalkan cerita, tanpa ada bukti fisik.

Hal ini tentu jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka masih mempertahankan banyak bukti fisik warisan kolonial. Sebut saja, di Provinsi Jawa Barat, masih banyak ditemukan peninggalan-peninggalan tempo dulu.

PPMI2

Di Jalan Asia Afrika Kota Bandung contohnya, bangunan-bangunan bergaya Belanda di kawasan Jalan Braga, masih berdiri kokoh dan dipelihara. Kebanyakan orang berwisata ke Kota Kembang justru hanya ingin berfoto dan melihat bangunan peninggalan bersejarah itu.

Untuk melindungi keberadaan bangunan itu, pemerintah setempat membuat peraturan daerah (perda) untuk tidak merunah gaya dan bentuk bangunan.

Begitupula di Kota Cimahi, di daerah Jalan Kerkhof Leuwigajah masih ada pemakaman Belanda. Barisan orang-orang yang lahir pada masa penjajahan. Keberadaan makam ini masih utuh berdiri, dan beberapa kesempatan keturunan yang ada di makam baik yang dari dalam maupun luar negeri berkunjung.
Secara tidak langsung, keberadaan situs sejarah ini mendatangkan wisatawan asing untuk berkunjung.

“Makam ini sudah sejak lama ada, dan tetap dipertahankan. Kami tidak masalah meskipun yang di pemakaman bekas penjajah atau beda agama karena kini bukti fisik daerah kami pernah dijajah,” ujar Nur, salah seorang warga Leuwigajah Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Banyaknya bukti fisik situs sejarah di Jawa Barat ini sangat jauh berbeda dengan Kalsel. Provinsi yang kerap disebut Banua ini sangat minim bukti fisik sejarah. Memang, masih ada sedikit bukti fisik peninggalan sejaran, yaitu kolam dan reruntuhan bangunan Belanda di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.

Kolamnya sendiri masih ada dan utuh, sedangkan bangunan tinggal tersisa pondasi.
Bekas bangunan itu bernama Sanatorium atau tempat penyembuhan berbagai macam penyakit masyarakat Belanda dulu atau biasa dikenal masyarakat Kalsel dengan sebutan Benteng Belanda.

Bahkan, Dinas Kehutanan Kalsel merencanakan merekonstruksi atau mengembalikan bangunan itu mendekati aslinya, baik dari bahan dan bentuk. Namun kabarnya, rencana itu batal dan hanya akan dibangun palidangan. Jika memang itu benar terjadi, maka makin sedikit bukti fisik Kalsel pernah dijajah Belanda. Yang ada hanya bukti cerita atau tulisan.(jejakrekam)

 

 

Penulis Sayyidil Ahmada
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Iri dengan Jawa Barat, Kalsel Seharusnya Jaga Situs Warisan Belanda