Teladan Ibunda Imam Syafi’i, Bagaimana dengan Ibu Zaman Now?

Oleh : Yulia Sari SH

APRIL adalah bulan kita mengenang Raden Ajeng (RA) Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita di Indonesia.  Perjuangan wanita dan ibu Indonesia sesungguhnya belum berakhir, begitu banyak tantangan yang dihadapi saat ini. Terutama dalam mendidik anak-anak generasi penerus masa depan. Perlu kerja keras luar biasa karena pada saat ini dunia anak-anak tak seramah dulu. Ibu harus memproteksi anak-anak dari tontonan berbahaya, dari pergaulan bebas, ancaman bulliying, ancaman narkoba, predator anak, termasuk ide-ide barat yang menjauhkananak-anak dari karakter aslinya sebagai muslim.

JADI, teringat bagaimana ibunda Imam Syafii yang walaupun janda tetapi sangat luar biasa mendidik Syafii kecil serta menjaga semua yang masuk ke dalam perut anaknya. Semua makanan dan minuman harus berasal dari yang halal, tidak boleh ada yang subhat apalagi haram. Bahkan pernah ada tetangga beliau yang mendengar Syafii kecil menangis karena lapar, kemudian si tetangga pun menyusukan Syafii.

Ibu Imam Syafii ketika mengetahuinya langsung saja membalikkan tubuh anaknya hingga semua susu yang diminum anaknya termuntahkan. Beliau juga seorang ibu yang memerintahkan anaknya merantau menuntut ilmu di Jalan Allah dan tidak mengizinkan anaknya pulang kerumah dengan membawa harta dunia.

Syafii boleh pulang apabila telah membawa kitab dan ilmu yang bermanfaat. Dan hasilnya adalah seorang anak yang pada usia 7 tahun telah hafal Alquran,dan menjadi murid kesayangan Imam Malik.

Imam Syafi’i jga memiliki ribuan murid dan terkenal ke seluruh penjuru Irak hingga Hijaz. Dia juga menjadi imam besar yang mazhabnya banyak dipakai oleh sebagian besar kaum muslimin hingga saat ini. Dan kitab-kitab yang sampai saat ini tetap menjadi rujukan para ulama di seluruh dunia. Maka semua kerja keras dan displin sang ibulah yang telah mengantarkan beliau hingga demikian.

Lalui bu-ibu zaman now ini tentulah berharap anak-anaknya “sebesar” Imam Syafii. Tetapi,tidak akan menjadi “besar” anak ini jika kita mendidiknya hanya dengan sekadar tumbuh dan berkembang seperti orang kebanyakan. Mendidiknya dengan harapan kalau sudah besar nanti “cukup” puas dengan si anak dapat pekerjaan dengan gaji besar.

Ibu Imam Syafii tidak butuh anaknya kaya, tapi ibu Imam Syafii sudah bangga dengan mengetahui bahwa anaknya telah menjadi imam besar, meski dia harus menahan rindu berpuluh-puluh tahun.

Ibu zaman now akan menjadikan anaknya “orang besar”jika ia mendidik anaknya dengan ilmu dan niat karena Allah SWT. Memperjuangkan agar anak-anaknya dapat tumbuh di lingkungan sebagaimana lingkungan di mana Imam Syafii tumbuh. Lingkungan yang dipenuhi orang-orang berilmu, majelis-majelis ilmu yang mudah didapati.

Bahkan tidak dibutuhkan “visa” jika mau berpindah-pindah belajar kemana saja, baik dari Madinah lalu kemudian ke Baghdad. Lingkungan ketika Islam menjadi standar kehidupan, bukan nilai materi atau nilai-nilai turunan kapitalis lainnya.

Iklan Samping 300×250

Dan ini tidak didapat di masa sekarang, dimana tugas ibu makin berat. Ibu harus kerja keras banting tulang dan banting tubuh untuk melindungi anak-anaknya dari pengaruh buruk lingkungan. Mengcover mereka dari beragam bahaya. Bagaimana mereka bisa menjaga isi perut anak mereka ketika untuk mengisi perut anak-anak saja, mereka harus berpeluh keringat.

Bagaimana bisa menyuruh anak merantau menuntut ilmu ketika mereka saja tidak yakin apakah anak mereka akan terdidik dengan baik atau tidak. Sungguh suatu “kontradiksi” memang antara impian para ibu dengan kenyataan sesungguhnya. Padaha lcerita Imam Syafii adalah suatu realita bukan cerita dongeng.

Kondisi, saat ini wajar membuat sulit para Ibu, ketika negara diatur dengan aturan kapitalis dimana pemerintah hanyalah wasit danpembuat aturan semata. Sementara apa yang berlaku di masyarakat adalah seperti “pasar” alias rakyatlah yang berjuang sendiri untuk hidup. Bagi yang punya modal besar dia akan menguasai pasar, sedang yang bermodal kecil cukup berjualan di pinggir-pinggir toko. Mereka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sumber daya alam dikuasai pemodal dan hak-hak asasi pun diperjualbelikan. Pendidika nmahal, kesehatan mahal, listrik, gas, dan air bersih menjadi hal yang eksklusif untuk mereka nikmati.

Sungguh hanya dengan diterapkannya Islam dalam sistem suatu negara yang dapat menjamin para ibu menjadi maksimal dalam mendidik anak-anak mereka. Tidak khawatir dengan media yang akan merusak kepribadian anak karena negara akan menfilter semua tayangan agar sesuai hukum syara’ di berbagai media, terjaminnya keamanan ketika mereka bermain dan berekplorasi di luar rumah karena akan ada para “syurthoh” yang akan berpatroli setiap waktu untuk menjaga stabilitas keamanan dalam negeri. Bahkan,ketika mereka merantau mencari ilmu, negara akan menjamin kebutuhan mereka.

Pendidikan adalah hak asasi warga negara sehingga wajib pula bagi negara menyediakan fasilitas pendidikan dan juga menyediakan pendidik yang berkualitas dengan upah yang disetarakan dengan emas. Sehingga yang ada adalah pendidikan yang akan menghasilkan para Ilmuwan yang tidak sekadar memahami ilmu dunia, tetapi juga memahami ilmu akhirat, Mereka tidak berharap harta dunia tetapi berharap agar ilmunya mengantarkan mereka bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya.

Terjaga kepribadian anak-anak sehingga para ibu akan selalu tenang dan meyakini bahwa anak-anak mereka adalah aset surga dan penyejuk mata mereka. Sehingga memiliki anak selayaknya Imam Syafii bukanlah impian semata dan bukan pula cerita lain dari sebuah negeri dongeng.(jejakrekam)

Penulis adalah PNS di Pengadilan Negeri Martapura

Kasubbag Perencanaan, TI dan Pelaporan PN Martapura

Warga Sekumpul Ujung Martapura

 

 

 

 

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.