Perjuangan Datu Hamawang Melawan Penjajah Belanda

Foto : Masjid Quba Hamawang - amawangkanan.blogspot.com

DATU Hamawang yang sebenarnya bergelar Pangeran Kacil adalah keturunan Raja Sukarama (kakek Raja Islam Banjar pertama, Pangeran Suriansyah) bermukim dan menjadi pemuka masyarakat di Banua Hamawang.

PRASARANA perhubungan di Kalimantan sejak masa Kerajaan Negara Dipa, hanya melalui sungai, maka di wilayah Hulu Sungai Selatan sekarang ini, yang dikenal adalah Banua Hamawang, dengan pendaratan di Desa Kalumpang.

Ada pula jalan melintasi Pegunungan Meratus, dimulai dari Martapura ke Pengaron, ke Pegunungan Meratus (Gunung Halau-halau dan Gunung Paramasan) menuju Pagatan, Cantung, atau ke Banua Lima melalui Lumpangi, terus ke Hantakan hingga Awayan/Halong.

Datu Hamawang tinggal jauh dari istana di Martapura dan memilih daerah hulu sungai karena muak dengan kericuhan yang selalu terjadi di Istana Banjar, dan melarikan diri setelah gagalnya perjuangan Pangeran Amir yang didepak Belanda untuk menjadi Sultan Banjar. Belanda mendudukan Pangeran Nata (paman Pangeran Amir) jadi Raja Banjar. Perjuangan Pangeran Amir ini pada 1787-1789. Pangeran Amir ditangkap dan dibuang Belanda ke Ceylon (Srilanka) hingga mangkat di sana.

Datu Hamawang diberi gelar Tumenggung Raksa Yudha oleh Raja Banjar, dan karena bersenjatakan Parang Bungkul, maka diberi gelar oleh masyarakat, Datu Bungkul. Datu Hamawang mempunyai adik Ratu Kumala Sari yang oleh masyarakat diberi gelar Datu Ibuk atau Datu Salayan, yang bersuamikan seorang Habib yang diberi gelar Datu Basuhud.

Ada pula adik Datu Hamawang bernama Antaluddin, yang diberi gelar Temenggung Antaluddin oleh Pangeran Antasari, beliau juga bergelar Datu Tambunau.

Kakak Datu Hamawang bergelar Datu Balimbur yang bermukim di wilayah Barito, dan menjadi pemimpin Dayak Biaju Hampatung, dan mempunyai dua anak bernama Garuntung Manau dan Garuntung Waluh, yang menjadi prajurit utama Pangeran Antasari.

Datu Hamawang mendirikan masjid pertama di wilayah Hulu Sungai (bagian selatan) yang diberi nama Masjid Quba, sebagaimana nama masjid yang pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Di areal masjid ini, menjadi pusat pemerintahan, penyebaran agama, dan perjuangan melawan penjajah.

Pada 28 April 1859 dicetuskan Proklamasi Perang Banjar (Banjarmasinsche Krijg) yang ditandai penyerangan ke benteng Belanda di Pengaron dan serentak menyerang pemusatan-pemusatan Belanda lainnya, terutama yang menjaga pertambangan batubara, di daerah Banjar dan Tanah Laut.

Pada September 1859 di Hamawang, diadakan musyawarah besar pimpinan Perang Banjar dengan tuan rumah Datu Hamawang, dihadiri Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Temenggung Antaluddin, Demang Leman, Ali Akbar, Citrawati, tokoh agama dan masyarakat, serta temenggung-temenggung se-Banua Lima. Para pejuang menyalakan api unggun sambil membulatka tekad untuk berjuang melawan penjajah Belanda.

PPMI2

Belanda tidak tinggal diam. Kerajaan Banjar dihapuskan dengam surat keputusan Gubernur Jenderal Belanda tanggal 17 Desember 1859, yang diumumkan secara resmi pada 11 Juni 1860.

Pada 1862, Pangeran Hidayatullah karena ditipu dengan surat ibunya yang dipalsukan Belanda, datang ke Martapura dan langsung ditangkap Belanda. Sempat dilarikan oleh Demang Leman, namun akhirnya tertangkap kembali dan dibuang ke Cianjur.

Pada 14 Maret 1862, pejuang dan rakyat memutuskan kembali berdirinya Kesultanan Banjar dengan mengangkat Pangeran Antasari sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pangeran Antasari menjadi pimpinan tertinggi pemerintahan, agama, dan perjuangan. Selain didukung pejuang dan ulama Banjar, keputusan ini juga didukung tokoh Dayak, antara lain Temenggung Surapati (pelindung seluruh Barito, Murung, dan Sihung), Raden Mas Warga Nata Negara (Teweh), Temenggung Mangkusari (Kapuas dan Kahayan).

Dalam perjalanannya, Hamawang jatuh, setelah Belanda menyerang dari arah Simpur setelah mendarat di Kalumpang. Datu Hamawang mengundurkan diri ke Hamawang Kiwa dan melakukan perang gerilya. Sebagian lainnya mengundurkan diri ke Lumpangi dan Gunung Madang. Belanda mendirikan benteng di muara Hamawang (Benteng Kandangan = benteng yang dikandang kuat).

Kemudian, Datu Hamawang “gaib”, dan Temenggung Antaluddin serta Citrawati memimpin perlawanan dan bertahan di benteng Madang. Terakhir, dalam perang mati-matian, Temenggung Antaluddin tewas di medan tempur.

Setelah wafatnya Pangeran Antasari pada 11 Oktober 1862 di Bayan Begok, Hulu Barito, pimpinan perjuangan dilanjutkan Gusti Muhammad Seman bersama saudaranya Gusti Muhammad Said, serta putrinya Ratu Zulaiha dan suaminya Gusti Muhammad Arsyad dan saudaranya Gusti Perbatasari.

Raja Banjar terakhir, Gusti Muhammad Seman, gugur dalam mempertahankan Benteng Baras Kuning pada Januari 1905. Ratu Zulaiha tertangkap Juni 1905 dan dibuang ke Bogor. Gusti Muhammad Arsyad dibuang ke Bogor, dan Gusti Perbatasari dibuang ke Tondano. Demang Leman, Panglima Batur dihukum gantung, dan pejuang lainnya meninggal dunia karena tua.

Di Kampung Hantarukung (Kandangan), tahun 1905, terjadi Amuk Hantarukung pimpinan Buchari, tapi dapat ditumpas Belanda. Seluruh pimpinan pejuang di hukum gantung, maka berakhirlah Perang Banjar.(jejakrekam)

Berdasarkan cerita dan informasi dari Ir HM Said.

Penulis Andi Oktaviani
Editor Andi Oktaviani
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Perjuangan Datu Hamawang Melawan Penjajah Belanda