Sikap Para Pecinta Ulama Saat Islam Dihina

Oleh: Wati Umi Diwanti

LAUTAN manusia di Sekumpul, tahun ini mencapai 1 juta lebih. Mereka datang dari berbagai penjuru nusantara bahkan manca negara. Semua berlomba mengisi shaff jamaah haul ke-13 seorang ulama kharismatik di Martapura. Beliau bernama KH Muhammad Zaini Abdul Ghani yang biasa disapa Guru Ijai atau Guru Sekumpul.

KEINGINAN umat untuk berhadir sangatlah besar hingga mendung bahkan hujan tak jadi kendala. Waktu, dana dan tenaga mereka persembahkan untuk turut menyukseskan acara.

Tak sedikit yang dengan suka rela menyediakan makan dan minum gratis. Penginapan, bensin dan bengkel gratispun tiba-tiba bermunculan di kawasan Martapura dan sepanjang perjalanan. Baik dari arah Banjarmasin maupun Banua Anam. Tentu tak akan ada yang menjadi alasan semua itu kecuali rasa cinta. cinta pada seorang ulama.

Tentu saja ini menjadi kebahagiaan tersendiri khususnya umat Islam Kalsel. Di tengah arus hidup yang sudah mulai bergeser dari ilmu ke materi. Dari ulama ke selebriti. Ternyata di hati umat masih ada kecintaan yang memang diperintahkan dalam agama.

Rasul SAW pernah bersabda bahwa di akhirat kelak “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”. Maka mencintai ulama adalah cinta yang memang seharusnya ada pada jiwa seorang muslim yang mendamba surga. Karena ulama adalah pewaris para anbiya. Merekalah para ahlul surga.

Terlebih lagi tahun ini ada sesuatu yang berbeda. Yakni kehadiran orang nomor satu di republik ini. Sebagai seorang presiden pastinya sangatlah sibuk. Kita tentu ingat saat aksi 411 tahun 2016 lalu, beliau tak bisa menemui para Ulama yang kala itu menyambangi beliau ke Istana Negara. Tak lain karena jadwal beliau sebagai presiden teramat padat. Maka sebuah kebanggaan tersendiri jika Presiden RI berkenan datang. Jauh-jauh dari Jakarta ke Martapura. Demi turut meluapkan rasa cinta pada ulama.

Ada sisi lain yang tak kalah penting. Bahwa cinta haruslah memiliki bukti nyata. Allah SWT telah mengajarkan pada manusia makna kata cinta yang sesungguhnya.

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu‘. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 3:31).

Dari sini jelaslah bahwa cinta sejati adalah ‘ittiba. Mengikuti jalan orang yang dicinta. Mengikuti setiap petuah yang beliau sampaikan.

Misalnya saja sebagai seorang wanita. Jika kita memang benar cinta pada Abah Guru Sekumpul. Dalam keseharian kita, saat berada di luar rumah atau saat bertemu non mahrom harusnya selalu menutup aurat. Berpakaian sesuai ketetapan syariat.

IKLAN TENGAH

Saking pentingnya masalah aurat ini sampai-sampai beliau berwasiat agar jangan ada yang ziarah ke makam beliau dengan bercelana. Hingga disediakan stok sarung bagi penziarah wanita yang datang masih memakai celana. Tentu ini bukan masalah selera jenis pakaian. Namun masalah aturan yang telah Allah SWT tetapkan.

Tidaklah seseorang dikatakan ulama melainkan karena beliau adalah penyambung estafet dakwah Rasulullah SAW. Dan dakwah Rasulullah tidak lain adalah syariat Islam kaffah. Karenanya hakikat cinta ulama adalah cinta agama (Islam). Terdepan dalam memelihara agama. Bukan sekedar mengagungkan sosoknya namun juga mentaati syariat yang beliau bawa.

Semua itu harusnya tampak dalam sikap dan perbuatan kita. Syariat Islam harus kita amalkan dalam seluruh sisi kehidupan. Baik skala personal maupun sosial. Ranah individu maupun negara bahkan mancanegara. Termasuk di dalamnya bagaimana menyikapi kasus penistaan agama. Jangan sampai kita mengaku cinta ulama tapi syariat Islam dihina kita diam saja.

Untuk itu sebagai muslim, marilah kita buktikan kecintaan kita pada ulama dengan menjadi garda terdepan dalam membela agama. Wabil khusus kepada Bapak Presiden yang terhormat. Jika kehadiran Bapak kemarin benar-benar dalam rangka menunjukan rasa cinta pada ulama. Maka saat syariat Islam kembali dihina, inilah waktu yang tepat untuk Bapak membuktikannya. Tindak tegas segera pelakunya. Tak perlu menunggu umat Islam kembali beraksi berkali-kali. Cukuplah aksi 64 (Jumat, 6/4/2018) kemarin sebagai pemantik.

Bahkan sebaik-baik penanganan adalah dengan penerapan sanksi Islam. Dalam Islam, sanksi berfungsi sebagai jawazir yaitu pencegah. Dengan sanksi yang setimpal orang tak akan berani sembarangan melakukan penistaan. Sehingga tak akan terjadi seperti sekarang, kasus penistaan terus berulang dan berulang.

Orang yang bersalah memang sudah seharusnya meminta maaf. Namun bukan berarti sanksi tak berlaku lagi. Sebagaimana di masa Rasulullah Saw seorang yang pernah berzina mendatangi Rasul SAW untuk minta dijatuhi hukuman rajam. Rasul pun menjatuhi hukuman tersebut padahal si pelaku sudah bertobat dan meminta maaf.

Begitu juga saat ada maling yang jumlah pencuriannya masuk dalam hukuman potong tangan. Mereka tetap akan dijatuhi hukuman meski sudah meminta maaf. Bukan karena maafnya tidak diperhitungkan. Justru di situlah letaknya bahwa sanksi Islam juga sebagai jawabir, menjadi penebus dosa. Jadi permintaan maaf bukanlah penghapus sanksi melainkan sebagai penyempurna penebusan dosa oleh sanksi.

Sebagai orang nomor satu sudah seharusnya Bapak Presiden menjadi orang pertama dalam membasmi penistaan agama. Bukan hanya pada kasus puisi Bu Sukma. Namun juga pada semua, baik berupa suara maupun tulisan atau tindakan. Toh tidak ada yang susah. Sudah terbukti bahwa negara mampu dengan mudah dan cepat menindak nitizen yang diduga menghina Ibu Negara. Maka seharusnya tak ada alasan lagi untuk tidak segera menindak penista agama.(jejakrekam)

Penulis adalah anggota Revowriter Kalsel, Pengasuh MQ.Khodijah Al-Qubro Martapura

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Sikap Para Pecinta Ulama Saat Islam Dihina