Mengapa Plat Kendaraan Bermotor Kalsel Harus DA? Inilah Catatan Sejarahnya

BERAGAM persepsi yang mengartikan plat nomor DA di wilayah hukum Kalimantan Selatan. Ada yang berargumen itu merupakan akronim dari Dayak Asli, sebagian menyebut Daerah Air, dan pendapat lain menghubungkan dengan District Amandit. Dulu, DA itu juga digunakan di Provinsi Kalimantan Tengah, sebelum akhirnya berpisah dan memiliki tanda plat nomor sendiri KH. Sejarah panjang tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) dengan kode plat DA mengiringnya.

TERTARIK dengan sejarah plat nomor DA, peneliti sejarah Mansyur pun mengungkapkan hasil risetnya. Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini punya jawaban mengapa Kalsel mendapat jatah plat nomor DA. Hal ini berkelindan dengan sejarah Kalsel khususnya Banjarmasin yang menjadi ibukota Borneo di era kolonial Hindia Belanda.

“Dari hasil riset saya, plat nomor itu muncul saat transisi dari kendaraan berkuda dan bermotor sekitar 1890-1910 di Hindia Belanda. Dalam kurun waktu itu, mulai berdatangan kendaraan yang dimiliki orang-orang Belanda dan kaum ningrat di Jawa. Dari sini, kemudian pemerintah kolonial akhirnya menerapkan kebijakan TNKB, yang diistilahkan dengan nama kentekens mengacu ke kode wilayah berdasar wilayah karesidenan,” ungkap Mansyur kepada jejakrekam.com, Rabu (4/4/2018).

Dosen program studi sejarah FKIP ULM ini mengungkapkan kode huruf kapital itu akan mudah bagi pemerintah kolonial untuk melacak asal kendaraan bermotor. Kode huruf kapital juga dilengkapi dengan angka-angka. “Saat itu, kendaraan militer era Hindia Belanda juga memiliki sistem kode plat yang sama. Perbedaannya, terdapat simbol bendera merah-putih-biru yang ditempatkan di samping kode plat pada kedua sisi. Plat nomornya berwarna dasar biru gelap dengan huruf dan angka putih,” papar pria yang akrab disapa Sammy ini.

Magister sejarah lulusan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini meluruskan anggapan bahwa DA dipakai di seluruh Kalimantan, sebelum terjadi pemekaran provinsi. Menurut Sammy, jika merujuk ke sumber artikel “Kentekens in Nederlands-Indie”, wilayah Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo memiliki tanda plat nomor kendaraan bermotor (ketenkens) dengan kode DA dan Kalimantan Barat dengan kode BR. “Dalam hal ini, kategori pembagian plat kendaraan bermotor berdasarkan Letters, Provincie dan Gebied,” kata Sammy.

Peneliti sejarah ini mengungkapkan berdasar Staatblad (Lembaran Negara) Nomor 178 Tahun 1898, nama wilayah South & East Kalimantan (Borneo) dalam versi Bahasa Inggris atau Residentie Borneo’s Zuid en Oosterafdeeling (Residensi/Karesidenan Borneo bagian Selatan dan Timur)-dalam versi Bahasa Belanda, beribukota di Banjarmasin.

“Dalam artikel “Kentekens in Nederlands-Indie”, juga dipaparkan bahwa pemakaian tanda plat kendaraan bermotor mulai diberlakukan di Hindia Belanda tahun 1900. Tepatnya di wilayah Jawa,” ucap Sammy.

Sementara, beber dia, plat nomor tersebut berupa nomor seri yang dicat pada bagian depan mobil berwarna putih dan hitam. “Beberapa nama wilayah sejak tahun 1900 memang memiliki kode plat berupa nama singkatan daerah bersangkutan. Di antaranya CH = Cheribon; SB = Surabaya; SOK – Pantai Timur Sumatera,” ungkap Sammy.

Masih menurut dia, pada tahun 1909, plat yang digunakan berlaku secara internasional dengan kode huruf IN (Indes Neerlandaises). Selanjutnya, kata Sammy, pada tahun 1917, muncul sistem penomoran baru. Mulai diperkenalkan di Jawa dengan kode huruf warna putih ditambah nomor seri pada pelat hitam.

“Sekitar tahun 1920 sistem kode plat ini diperluas ke pulau-pulau lain. Sejak tahun ini juga, daerah yang menggunakan kode plat sebagai singkatan daerah yang dimaksud hanya dua wilayah yakni B-Batavia (Jakarta), M-Madoera (M). Sementara daerah lainnya sesuai dengan kode urutan yang ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian terdapat perubahan kode plat yakni CH = Cheribon menjadi E-Cheribon (Cirebon); Kode Plat SB = Soerabaja menjadi L-Soerabaja (Surabaya),” urai Sammy.

Khusus wilayah Kalimantan, Sammy menjelaskan terdapat dua kode plat yakni menggunakan kode BR-West Kalimantan (Borneo) atau sekarang  Kalimantan Barat; DA-South & East Kalimantan (Borneo) adalah Kalimantan bagian Selatan dan Timur; DB-Menado; DD-Celebes; DE Amboina (Ambon); DG-Ternate; DH-Timor; DK-Bali en Lombok.

Lebih lengkapnya, papar Sammy, pada tahun 1920, kode plat/de lettercodes waren: A-Bantam (Banten), B-Batavia (Jakarta), D-Preanger, E-Cheribon (Ceribon/Cirebon), G-Pekalongan, H-Semarang, K-Rembang, L-Soerabaja (Surabaya), M-Madoera (Madura), N-Pasoeroean (Pasuruan), P-Besoeki (Besuki), R-Banjoemas (Banyumas), AA-Kedoe (Kedu), AB-Djokjakarta (Yokyakarta), AD-Soerakarta (Surakarta), AE-Madioen, (Madiun), AG-Kediri, BA-West Sumatra, BB-Tapanoeli (Tapanuli).

Kemudian, BD-Benkoelen (Bengkulu), BE-Lampongse district (Lampung), BH-Djambi (Jambi), BG-Palembang, BH-Djambi (Jambi), BK-East Sumatra, BL-Atjeh (Aceh), BM-Riouw (Riau), BN-Banka, BP-Billiton, BR-West Kalimantan (Borneo), DA-South & East Kalimantan (Borneo), DB-Menado, DD- Celebes, DE-Amboina (Ambon), DG-Ternate, DH-Timor, DK-Bali and Lombok, F-Buitenzorg (Bogor), K-Japara-Rembang serta S-Bodjonegoro (Bojonegoro).

Iklan Samping 300×250

“Dari pendapat ini, bisa ditarik benang merah bahwa pemakaian kode plat DA mulai ada di Kalimantan sejak tahun 1920. Kemudian, terdapat dua kode plat nomor yang berlaku di Kalimantan yakni kode BR-West Kalimantan (Borneo)-Kalimantan Barat. Kemudian DA-South & East Kalimantan (Borneo)-Kalimantan bagian Selatan dan Timur,” kata Sammy lagi.

Mantan wartawan ini menambahkan sejak tahun 1920, produsen kendaraan bermotor di Hindia Belanda yang dipasarkan ke Borneo di antaranya adalah pabrikan Ford-Ford Motor Company of Malaya Limited.

 “Apa singkatan dari DA? Ya, jawabannya tidak ada. Itu hanya kode letter semata, berdasar urutan yang yang sudah ditetapkan pemerintah Hindia Belanda. Jadi, DA itu bukan singkatan Dayak Asli, Daerah Air atau District Amandit. Ini bisa merujuk pada sumber buku Handboek voor automobilisten en motorwielrijders, Deel I, yang dirilis Java Motor Club, tahun 1920, tidak ada penjelasan bahwa DA itu adalah singkatan,” tegas Sammy.

Ia mengakui memang terdapat dugaan lainnya mengapa kode DA yang dipilih bahwa adanya faktor keberadaan tokoh F.N. Nieuwenhuyzen. Apa hubungannya? Setelah pengumuman Proklamasi Penghapusan Kesultanan Banjar pada 11 Januari 1860, Karesidenan Zuid en Ooster Afdeeling van Borneo dipimpin oleh F.N. Nieuwenhuyzen.

“Dia sendiri adalah Resident Soerakarta yang juga menjabat sebagai Governements Commissaris in de Z & O Afdeeling van Borneo (sekarang Kalsel-Kalteng-Kaltim). Awalnya, yang mengendalikan pemerintahan adalah kelompok militer yang dengan dwifungsi (teknis militer dan teknis teritorial), yang kemudian setelah kondisinya aman, dialihkan kepada pihak sipil. F.N. Nieuwenhuyzen adalah anggota Dewan Hindia (kelak menjadi wakil presiden) dan akhirnya komisaris pemerintahan dalam Perang Aceh Pertama (1873),” urainya lagi.

Wajar, menurut Sammy, bila muncul pendapat bahwa kode DA di Kalimantan Selatan adalah kebalikan dari kode AD di Surakarta. Alasannya, keberadaan F.N. Nieuwenhuyzen yang menjabat Resident Soerakarta juga menjabat rangkap sebagai Governements Commissaris in de Z & O Afdeeling van Borneo sejak tahun 1860.

“Keberadaan Nieuwenhuyzen sebagai penguasa kedua wilayah mempengaruhi kebijakan khususnya dalam penentuan kode plat nomor kendaraan bermotor. Ya, untuk menyeragamkan kode plat kendaraan bermotor pada kedua wilayah kekuasaannya, F.N. Nieuwenhuyzen diduga menyeragamkan kode plat di kedua wilayah kekuasaannya,” beber Sammy.

Hal itu, menurut dia, bisa dilihat walaupun tak persis, kode plat Surakarta adalah AD), kemudian kode ini dibalik menjadi kode DA untuk wilayah Keresidenan Borneo bagian Selatan dan Timur.
Sayangnya, diakui Sammy, pendapat ini tidak cukup bukti karena pemakaian kode DA secara resmi baru ada setelah tahun 1920. “Sementara F.N. Nieuwenhuyzen meninggal pada 6 November 1892 ketika berumur 73 tahun. Jadi pendapat ini kadarnya lemah,” tegasnya.

Sebagai informasi dan bahan perbandingan, Sammy kembali membeber bahwa plat nomor polisi Solo adalah AD, plat nopol AD tergabung dalam Eks Karesidenan Surakarta antara lain Surakarta Kode Plat Nomor Kendaraan AD-Solo (Eks Karesidenan Surakarta) yang meliputi Kabupaten Sukoharjo (AD-kode belakang **B/*K/*O/*T), Kabupaten Wonogiri (AD – kode belakang **G/*I/*R, Kabupaten Karanganyar (AD – kode belakang **F/*P/*Z), Kabupaten Sragen (AD – kode belakang **E/*N/*Y), Kabupaten Klaten (AD – kode belakang **C/*L/*J/*Q/*V), Kabupaten Boyolali (AD – kode belakang **D/*M/*W), dan Kota Solo Surakarta (AD – kode belakang **A/*H/*S/*U).

“Sementara, untuk nomor plat kendaraan bermotor dengan kode KT (Kalimantan Timur), KH (Kalimantan Tengah), KB (Kalimantan Barat), baru muncul setelah pembagian provinsi secara administratif setelah masa kemerdekaan,” ucap Sammy.

Sedangkan, masih menurut dia, DA tetap dipertahankan setelah masa kemerdekaan, di Kalimantan Selatan, walaupun secara administratif sudah menjadi provinsi tersendiri sejak tanggal 14 Agustus 1950. “Sementara Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat pada 1 Januari 1957. Selanjutnya, Kalimantan Tengah 23 Mei 1957 serta Kalimantan Utara (Kaltara) pada 22 April 2013,” katanya.

Ia juga merujuk sebagai pembuktian tidak adanya singkatan khusus (seperti DA) untuk kode plat kendaraan sejak pada zaman penjajahan, dapat dilihat dalam aturan Rijwielreglement (S. 1910 Nomor 465) dan Motorreglement (S. 1917 Nomor 73). Aturan ini kemudian digantikan oleh Wegverkeersordonnantie, Regeling van het verkeer op de openbare wegen (ordonansi tertanggal 23 Februari 1933, S. 1933 Nomor 86 jo 249, dan berlaku mulai tanggal 1 September 1933).

Dosen muda ini mengungkapkan bahwa Wegverkeersordonnantie (WVO) diubah dan ditambah dengan S. 1938 Nomor 657 dan S. 1940 Nomor 72, dan terakhir diubah dan ditambah menjadi Undang-Undang Lalu Lintas Jalan setelah masa kemerdekaan. Di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 7 tahun 1951; L.N. 1951 Nomor 42 tertanggal 30 Juni 1951.

“Jadi, Undang-Undang Lalu Lintas itu adalah peraturan pertama di dalam zaman Republik Indonesia, yang merupakan perubahan, tambahan dan terjemahan terhadap Wegverkeersordonnantie (WVO),” pungkas Sammy.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.