Termasuk Olahraga Populer, Sayang Bibit Pebasket Belum Merata di Kalsel

PENGASAHAN bibit atlet basket di Kalimantan Selatan dirasa masih jomplang. Padahal, beberapa turnamen dan kompetisi sering dihelat, diharapkan para pebasket Banua bisa bersuara di ajang berlevel regional hingga menembus taraf nasional.

WAKIL Ketua Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kalimantan Selatan, Rakhmat Nopliardy mengakui fakta tersebut.

“Padahal, jika mengacu pada catatan prestasi basket Kalsel pernah mengharumkan daerah. Buktinya, pada prakualifikasi cabang olahraga basket di Surabaya, Kalsel pernah mengalahkan tim hebat dari Jawa Timur pada 2006 silam,” ucap Rakhmat Nopliardy kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Minggu (1/4/2018).

Selain olahraga sepakbola, Rakhmat menyebut basket merupakan olahraga prestasi yang sangat populer di Kalsel, khususnya di Banjarmasin. Hanya saja, diakui mantan anggota DPRD Kalsel ini, para penyumbang atlet basket untuk kontingen Kalsel dalam ajang pekan olahraga nasional (PON), termasuk di Papua pada PON 2020 mendatang masih didominasi beberapa daerah.

“Bibit-bibit pebasket Kalsel masih banyak disumbang Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, dan Tapin. Sedangkan, untuk wilayah Banua Anam lainnya masih sangat minim,” papar Rakhmat.

Untuk mengukur kemajuan olahraga basket diakui Rakhmat masih berkutat pada aktifnya para bibit pebasket di sekolah-sekolah, terutama di wilayah yang selama ini menjadi penyumbang atlet bagi Kalsel.

IKLAN TENGAH

“Ini merupakan tantangan bagi Perbasi Kalsel untuk terus mengembangkan olahraga basket serta mencari bibit-bibit atlet muda yang andal masuk dalam skuad,” ucapnya.

Rakhmat  mencontohkan hanya ada beberapa daerah yang memiliki lapangan indoor basket yang berstandar nasional, seperti di Banjarmasin dan Kotabaru.

Apakah Kalsel tak memiliki para pelatih yang bersertifikat atau berlisensi nasional? Rakhmat menegaskan Kalsel sebetulnya memiliki pelatih berlisensi B yang cukup banyak di Banjarmasin dan Banjarbaru.

“Sedangkan, di daerah lainnya baru ada pelatih berlisensi C. Namun, terpenting adalah pembinaan fundamental skill. Sebab, dalam olahraga basket itu tidak harus diajarkan bermain bola, dribble bola basket dan sebagainya. Terpenting lagi, adalah melatih para pebasket dalam ketahanan menyerap oksigen dalam darah (vo2max). Ini yang menjadi kunci bagi para pelatih untuk membina fundamental skill, serta terus mengupdate ilmunya,” tutur politisi PAN ini.

Menyongsong turnamen Banjarmasin Basket League (BBL) 2018 yang akan dipusatkan di Surya Arena pada Mei-Juli 2018, Rakhmat pun berharap banyak klub basket yang akan turut berpartipasi, makin banyak. Dengan pola setengah kompetisisi BBL 2018, Rakhmat pun berharap tim-tim basket bisa terus mengasah kemampuannya, apalagi saat ini telah berlangsung berbagai even olahraga seperti POPDA 2018 di Batulicin, Tanah Bumbu dan lainnya.

“Ini ditambah, saat ini Perbasi Pusat juga telah mendorong tricross  basketball atau pertandingan basket yang menyajikan tiga lawan tiga atau 3×3. Ternyata, prestasi Indonesia sangat bagus di tricross basketball ini, terbukti pernah juara II di Eropa, bahkan telah menjadi eksibisi di PON 2016 Jawa Barat. Rencananya, pada PON 2020 Papua akan dipertandingkan. Ini juga menjadi peluang bagi Kalsel untuk berbicara di kancah nasional,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Termasuk Olahraga Populer, Sayang Bibit Pebasket Belum Merata di Kalsel