Dua Wajah Sang Mahapatih Lambung Mangkurat di Mata Seorang Randu Alamsyah

DALAM beberapa referensi sosok Lambung Mangkurat adalah seorang mahapatih. Putra seorang pendiri Negara Dipa Empu Jatmika. Sang patih ini telah kerajaan itu melalui waktu-waktu tersulit. Dalam perbicangan di kalangan tertentu, Lambung Mangkurat justru adalah penjahat dan gembong yang tega melakukan kekejaman apapun, bahkan membunuh keluarganya sendiri, yakni Bambang Padmaraga dan Bambang Sukmaraga.

ADALAH Randu Alamsyah nama pena Muhammad Noor Alam Machmud menuliskan novel fiksi sejarah bercerita tentang sosok Lambung Mangkurat. Salah satu tokoh yang paling terkenal di Kalimantan Selatan, hingga namanya diabadikan menjadi nama jalan dan universitas tertua di Tanah Kalimantan.

Randu menuturkannovel fiksi sejarah tokoh Lambung Mangkurat berawal dari sebuah kegelisahannya, karena tidak ada yang menulis era sekarang menjadi literature populer yang bisa diterima masyarakat banyak.

“Saya mencoba mendobrak walaupun tidak ada banyak referensi tentang sosok Lambung Mangkurat. Saya diberi waktu ena bulan oleh penerbit, jadi selama empat bulan pertama saya menemui kesulitan karena minimnya referensi,” ucap Randu Alamsyah  kepada jejakrekam.com, Jumat (30/3/2018).

Pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara ini bercerita dalam dua  bulan terakhir ia menemukan pendekatan dalam menulis novel. Yakni, dengan cara genre sejarah alternatif yang populer di Barat. Yakni, sebuah fiksi sejarah itu bisa ditekuk dan dibelokan yang berbanding terbalik dengan sejarah yang lazim dikenal di khalayak ramai.

Menurut Randu, dalam menulis novel Lambung Mangkurat minimnya referensi merupakan kesulitan terbesar dihadapi. Sebab, dalam kultur masyarakat Banjar justu tradisi lisan yang kuat, bukan tradisi tulisan. Hal ini membuat minimnya cacatan sejarah di era Mahapatih Lambung Mangkurat.

Iklan Samping 300×250

“Ada sebuah kajian dari Johannes Jacobus Ras tentang sejarah Banjar itu yang sebagai referensi saya. Kemudian, saya memulai dengan pendekatan menulis  genre fiksi alternatif sejarah,” ungkap salah satu redaktur koran lokal ini.  Randu mengaku justru semakin bersemangat menyelesaikan roman fiksi sejarah, karena kalangan civitas akademika Universitas Lambung Mangkurat  justru menunggu karyanya .

Kritikus sastra DR Sainul Hermawan melihat Lambung Mangkurat dari sastra tulisan dan satra lisan adalah sosok yang beraneka ragam. Dari berbagai wajah, sosok Lambung Mangkurat adalah figur yang kejam, orang yang memperjuangkan haknya.  Namun, ada pula yang menganggap Lambung Mangkurat hanya sebuah simbol kehidupan.

“Namun, dalam novel karya Randu Alamsyah justru melihat Lambung Mangkurat adalah tokoh agen politik dalam sebuah sistem kerajaan. Yakni, menjabat panglima di Kerajaan Negara Dipa,” ucap Sainul.

Doktor jebolan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) ini menilai sosok Lambung Mangkurat justru tidak bisa dipandang dari satu sudut, bahkan sangat ambigu tergantung kepada penafsir sejarah.

“Bagi kelompok yang kontra sosok Lambung Mangkurat adalah seorang penjahat. Namun, bagi yang pro merupakan sosok pahlawan. Jadi, novel yang ditulis Randu bercerita sosok Lambung Mangkurat dalam kaca novel fiksi sejarah yang enak dibaca,” papar dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Menurut dia, kecenderungan seorang Randu tidak lepas dari sebuah model baku, namun belum bisa menciptakan model baru. “Ya, seperti model bercerita Robert Haris. Namun, novel kali ini justru lebih baik dari karya sebelumnya,” pungkas Sainul.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.