Membangunkan Gandut dari Mati Suri

Oleh : Novyandi Saputra

“MANDUNG-mandung. Ari pang mandung sayang angin manyapu…” (penggalan lirik lagu Mandung-Mandung).

SIAPAPUN yang mendengar lagu ini, apalagi dia orang pahuluan  (merujuk pada daerah hulu di Kalimantan Selatan, terdiri dari enam kabupaten, yakni Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong) maka pikirannya pasti langsung tertuju pada kesenian Gandut.

Sebuah kesenian yang menjadi pusat berkumpulnya pemuda-pemudi Banjar beradu kepiawaian menari dan terkadang juga beradu keahlian bermain pencak silat atau kuntau.

Puluhan tahun yang lalu masyarakat di pahuluan mengenal sebuah kesenian yang menjadi wadah ekpresi diri, hiburan, bahkan sampai persoalan mencari jodoh. Kesenian yang sangat kuat dimensi kebersamaan ini bernama Gandut.

Kesenian ekspresif ini menghadirkan beberapa Panggandutan (penari perempuan) yang tidak hanya lihai menari namun juga mahir kuntau. Tari-tari gandut seperti Tirik, Lalan, Mandung-Mandung dan Mangandangan menjadi sarana penghubung antar  Panggandutan dan para lelaki yang berani turun ke Sarubung  (tenda tradisional masyarakat Banjar). Tidak sembarang lelaki yang berani turun gelanggang Gandut, karena mereka harus memiliki kemampuan menari yang mumpuni agar tidak kalah langkah dengan para  panggandutan.

Penulis pernah mengalami luka cakar di leher yang berasal dari Panggandutan. Lagu Mandung-Mandung yang sarat dengan gerak silat kuntau menjadikan keahlian penulis dan panggandutan dalam mencuri langkah akan saling memburu sehingga pada saat tikaman (gerak menyerang), maka yang diserang harus mampu melakukan Palapasan (gerak bertahan) yang juga bisa membuat yang menyerang malah tersudut kalah. Hal semacam itu pernah penulis alami dalam kesenian Gandut.

Gandut menjadi salah satu sarana pergaulan namun karena keintiman dan keleluasaan gerak yang akhirnya sangat mudah bersentuhan, membuat tarian ini menjadi dipandang tidak sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Banjar yang religius.

Persoalan ini kemudian membuat Gandut seakan-akan perlahan divakumkan, meskipun dalam beberapa kesempatan memang Gandut masih terasa nafas tersengalnya mencoba bangun dari mati surinya.

Gandut tenggelam dalam kesan negatifnya, para pemangku kebudayaan juga seakan terdiam dan tidak mampu melihat sisi positif dari gandut ini. Praktis yang terjadi akhirnya salah satu kesenian yang menjadi harta budaya  urang Banjar Pahuluan ini mulai dilupakan dan mulai tidak dianggap. Padahal Gandut bisa dipertahankan menjadi sesuatu bagian dari local wisdom urang Banjar.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana membuat Gandut bisa menjadi sesuatu yang positif? untuk menjawab itu saya mencoba memaparkan beberapa hal sebagai sebuah dekonstruksi budaya.

Kesan negatif yang muncul pada Gandut tentu persoalan begitu bebasnya gerak dan sentuhan antara panggandutan dan penari laki-laki yang masuk gelanggang. Persoalan ini tentu bisa diatasi dengan cara membongkar dan membentuk pemaknaan-pemaknaan baru atas kesenian gandut itu sendiri.

Jika dulu Gandut dekat dengan hal-hal yang sensual, maka sekarang Gandut harus dibangun sebagai kesenian pergaulan yang positif disemua kalangan. Sentuhan-sentuhan “nakal” mulai dihilangkan dan diganti dengan sesuatu yang lebih memunculkan semangat pergaulan dan toleransi. meski ada perubahan makna demikian, namun jangan sampai esensi Gandut diubah.

Bukankah sifat kesenian yang dinamis seharusnya mampu menolong Gandut bangkit dengan pandangan baru dalam lingkup budaya Banjar. Persoalan lampau yang memunculkan stigma negatif harus dikubur dalam-dalam, biarkan tunas yang lebih positif bangkit menjadi bagian perjalan Gandut masa kini.

Sudah terlalu banyak kesenian Banjar yang hilang tanpa ada kabar beritanya, tenggelam karena persoalan stigma yang membungkusnya. Sudah saatnya para pemangku kebudayaan, praktisi kesenian dan akademisi seni bahu-membahu menggali kembali kesenian-kesenian yang mulai terlupakan ini.

Tentu karena kesenian yang tercipta dari kecerdasan intelektual masyarakat masa silam memiliki pesan-pesan adiluhung yang harus disampaikan dari masa ke masa. Maka sudah seharunya kesan adiluhung lebih diutamakan dari sekedar stigma-stigma negatif yang melingkupinya.

Sementara itu, jejakrekam.com, mengutip dari kerajaanbanjar.wordpress, tari hasil dari kebudayaan Banjar yang mempunyai nilai mistis besar salah satunya adalah tari Gandut. Nama tarian ini berasal dari sebutan terhadap penarinya yaitu Gandut.

Kalau di masyarakat Jawa dikenal istilah Tledek dalam tari Tayuban. Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam.

Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.(jejakrekam)

Penulis adalah Direktur NSA Project Movement

Editor Andi Oktaviani
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Membangunkan Gandut dari Mati Suri