Penyakit Ginjal Kronik Lebih Berisiko pada Wanita Dibanding Pria

PENYAKIT ginjal kronik lebih berisiko tertentu diidap wanita dibandingkan laki-laki.  Dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day/WKD) secara global jatuh pada hari Kamis pekan kedua di bulan Maret. Untuk tahun 2018, WKD diperingati pada 8 Maret 2018 dengan mengusung tema ginjal dan kesehatan wanita, rangkul, hargai dan berdayakan.

KETUA Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan, Dr  M Rudiansyah, M.Kes, SpPD-KGH, FINASIM, mengungkapkan pentingnya bagi kaum perempuan untuk menjaga kesehatannya, terutama kesehatan ginjalnya.

“Tujuan utama dari WKD adalah membuat orang sadar betapa pentingnya ginjal terhadap kesehatan secara keseluruhan. Terutama, bagaimana dapat mencegah dan memperlambat perkembangan penyakit ginjal. Sebab, jutaan orang di seluruh dunia menderita penyakit ginjal kronk (chronic kidney disease/CKD) yang dapat menyerang siapa saja,” tulis dokter spesialis penyakit dalam ini dalam Whatapp (WA) grup Aliansi Muslim Banua yang dikutip jejakrekam.com, Jumat (9/3/2018).

Ia menegaskan penyakit ginjal bisa menyerang siapa saja, tak peduli usia, jenis kelamin, rasa tau latar belakang etnis mereka. Sedangkan, dalam WKD 2016 lalu difokuskan pada tema penyakit ginjal dan anak-anak, dilanjutkan WKD 2017 mengangkat obesitas dan pengaruhnya terhadap kesehatan ginjal.

“Untuk tahun ini, temanya ginjal dan kesehatan wanita. Mengapa wanita? Sebab, wanita memiliki risiko tertentu terhadap penyakit ginjal kronik yang tak dimiliki laki-laki. Untuk itu, perlu perhatian khusus bagi perempuan bagimana menurunkan risikonya,” ucapnya.

Dokter yang juga berpraktik di RSUD Ulin Banjarmasin ini mengungkapkan dari beberapa hasil penelitian menunjukkan risiko penyangkit ginjal kronik lebih besar pada wanita dibanding pria dengan perbandingan 14 persen pada wanita, hanya 12 persen terjadi pada pria.

“Di seluruh dunia, jumlah wanita yang menderita penyakit ginjal kronik mencapai 195 juta. Bahkan, penyakit ini merupakan penyebab kematian terbesar nomor 8 dengan jumlah kematian tiap tahun mencapai 600 ribu kasus,” ucap Rudiansyah.

Menurut dia, infeksi saluran kencing (ISK) menyebabkan hampir 10 juta kunjungan kesehatan setiap tahun. Nah, jika tidak diobati lebih awal maka kuman dapat berjalan sampai ke ginjal dan menyebabkan infeksi yang lebih buruk. “Dalam istilah kedokteran disebut pielonefritis. Bahkan, ISK dan infeksi ginjal lebih sering terjadi pada wanita dan risiko ini meningkat pada kehamilan,” ucapnya.

Lebih rinci, dokter yang juga berpraktik di rumah sakit swasta di Banjarmasin membeberkan bahwa kesehatan wanita itu unik. Bahkan, wanita dengan penyakit ginjal kronik memiliki komplikasi yang berbeda dibandingkan pria.

“Wanita subur dengan penyakit ginjal kronik, umumnya sulit menggunakan pil kontrasepsi dan metode hormonal lainnya sebagai metode pengendalian kelahiran. Ini dikarenakan kemungkinan lebih besar terjadi peningkatan tekanan darah yang dapat membuat penyakit ginjalnya semakin memburuk,” tuturnya.

Iklan Samping 300×250

Masih menurut Rudiansyah, wanita dengan penyakit ginjal kronik akan memiliki banyak masalah ketika hamil, dan meningkatkan risiko baik pada ibu maupun pada bayinya. Sebab, kata dia, kehadiran penyakit ginjal kronik memiliki efek negatif pada kehamilan. Ini mengingat peningkatan risiko yang terjadi pada postpartum, hal itu menimbulkan masalah etika yang menantang seputar konsepsi dan pemeliharaan kehamilan.

“Bahkan wanita tanpa penyakit ginjal kronik memiliki risiko selama kehamilan dan kelahiran karena preeclampsia. Sedangkan, masalah lainnya adalah meningkatnya tekanan darah dan membuat tekanan pada ginjal,” ucapnya.

Apa itu preeclampsia (PE)? Ketua Panitia Peringatan WKD 2018 Kalimantan Selatan ini mengungkapkan PE adalah faktor risiko terjadinya penyakit ginjal akut, penyakit ginjal kronik dan penyakit ginjal stadium akhir  pada ibu bahkan menjadi penyebab utama kematian ibu di negara berkembang.

“PE juga dikaitkan dengan bayi kecil, yang nantinya berisiko terkena diabetes, sindrom metabolik, penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronik pada saat dewasa,” kata Ketua Kidney Borneo Center ini.

Untuk itu, Rudiansyah menyarankan agar pemeriksaan kemahilan atau ante natal care (ANC) sangat penting bagi semua wanita hamil. Sebab, menurut dia, ada berbagai kondisi autoimun dan lainnya yang cenderung mempengaruhi wanita dengan konsekuensi mendalam untuk kondisi hamil dan melahirkan.

“Penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik (SLE), rheumatoid arthritis (RA) dan scleroderma sistemik (SS) secara istimewa lebih banyak pada wanita. Hal ini ditandai dengan peradangan sistemik yang menyebabkan disfungsi organ target, termasuk ginjal,” kata Rudiansyah.

Tak hanya itu, menurut dia, beban kesehatan masyarakat dari penyakit autoimun adalah substansial sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di kalangan wanita dewasa. Tak mengherankan, jika wanita lebih cenderung menyumbangkan ginjal sebagai pendonor untuk transplantasi daripada sebagai penerima, seperti yang dilaporkan dari berbagai negara.

“Wanita cenderung terdaftar pada daftar tunggu transplantasi dan menunggu lebih lama. Ibu lebih cenderung menjadi pendonor, seperti juga istri lebih mungkin menjadi pendonor daripada penerima donor untuk transplantasi ginjal,” paparnya.

Dengan kondisi itu, Rudiansyah mengatakan Hari Ginjal Sedunia lebih dititikberatkan pada kampanye akses yang terjangkau dan adil terhadap pendidikan kesehatan, perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit ginjal bagi semua wanita dan anak perempuan di seluruh dunia.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...