Menghidupkan Kembali Sungai Tuan, Menjaga Warisan Datu Kalampayan

Foto : Ahmad Husaini

KARYA terbesar dalam teknik sipil yang ditorehkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary berupa Sungai Tuan di Kabupaten Banjar, dibedah. Sodetan sungai buah tangan ulama besar Tanah Banjar sepanjang kurang lebih 8 kilometer dari hulu Sungai Martapura, pertemuan Riam Kiwa dan Riam Kanan sampai ke Dalam Pagar atau Sungai Martapura Hilir merupakan warisan yang bernilai tinggi dan patut dijaga.

UNTUK itu, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary (Uniska MAB) menggelar diskusi kelompok terpumpun bertajuk Heritage Sungai Tuan Berfungsi Teknis sebagai Karya Insinyur Tuan Haji Besar Maulana Muhammad Arsyad Al-Banjary dalam Perspektif Teknik Sipil di Kampus Uniska, Jalan Adhyaksa Banjarmasin, Rabu (7/3/2018).

Wakil Rektor I Uniska MAB, DR H Ahmad Zarkawi mengungkapkan dalam diskusi terpumpun ini, pemikiran seorang Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dari disiplin ilmu teknik sipil sangat menarik dan perlu ditindaklanjuti kembali. “Ya, nantinya Uniska akan menggandeng para arkeolog, pengelola museum dan pemerintah daerah untuk melakukan penelitian mendalam bagi kemashlatan masyarakat,” tutur Zarkawi.

Dia mengungkapkan jika Sungai Tuan kembali dihidupkan, tentu akan mengurangi debit air dan arus banjir karena posisinya yang strategis. “Sungai Tuan itu merupakan pertemuan dua sungai. Jadi, dari segi lingkungan, pertanian, perkebunan tentu sangat penting. Jika air lancar mengalir, tentu tanah akan subur dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ucap Zarkawi.

Sementara itu, penyaji makalah hasil penelitian, Adhi Surya Said menuturkan sekarang keberadaan sungai Tuan sudah sangat kritis dengan adanya penyempitan sungai. Kelebaran sungai kini hanya berkisar 3- 6 meter, karena bantaran sungainya telah berubah menjadi kawasan hunian warga.

“Fungsi Sungai Tuan tak lagi  bisa dilewati transportasi air dan dimanfaatkan secara maksimal. Kami berharap adanya kajian mendalam soal Sungai Tuan, terutama Dinas Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II. Bahkan, Bupati Banjar bisa mengusulkan kembali normalisasi Sungai Tuan sehingga fungsi teknis bisa terpenuhi lagi,” ucap magister teknik Insitut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Fungsi teknis Sungai Tuan yang dimaksud Adhi Surya adalah sebagai sistem irigasi, transportasi air dan pengendali banjir . Sebab, beber dia, saat ini ketika hujan ekstrem turun langsung banjir,  padahal fungsi Sungai Tuan sangat strategis. “Padahal, ada sekitar 200 hektare lahan pertanian dan perkebunan di Kecamatan Astambul bisa dialiri, asalkan Sungai Tuan sebagai saluran primer dibersihkan dan mengaktifkan saka-saka penunjang,” beber Surya.

Penasihat Yayasan Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Muhammad Zailani menyambut hangat dan sangat mengapresiasi adanya penelitian dan diskusi terpumpun dihelat Uniska MAB. “Apalagi kembali mengangkat Sungai Tuan yang dulunya berfungsi sebagai sungai pengairan pertanian dan perkebunan serta transportasi air,” ucapnya.

Ia mengungkapkan sejarah Sungai Tuan adalah pemberian dari Sultan Banjar, yang kemudian dibuatkan sungai untuk mengabadikan nama tokoh agama serta mufti kesultanan. “Kami juga mendukung apabila ada rencana normalisasi Sungai Tuan. Tentunya, bisa berdampak positif bagi sarana transportasi air untuk tujuan wisata religi,” kata Zailani.

Menurutnya, dalam waktu dekat, Yayasan Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary akan menyampaikan langsung usulan kepada Bupati Banjar KH Khailurrahman untuk menghidupkan kembali warisan sejarah Datu Kalampayan.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Klik bel merah di samping kanan layar untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.