Bagau, Cerita di Balik Bisnis Prostitusi Terbesar di Kalsel

NAMANYA begitu familiar di telinga sebagian besar warga Banjarmasin. Ya, kawasan eks Ria Bagau yang pernah berjaya dengan bisnis esek-esek di tepian Sungai Martapura. Kini, kawasan eks lokalisasi itu yang berada di wilayah Kelurahan Pekauman, Kecamatan Banjarmasin Selatan usai ditutup, telah berganti nama dengan Gang Ganda Magfirah.

BAGAU, begitu disebut dalam lidah warga Banjarmasin memilih historis yang cukup panjang. Konotasi negatif dengan bisnis prostitusi kelas bawah, padahal dulunya di era kolonial Belanda merupakan sebuah kampung tua.

Sang pakar sejarah Banjar, Prof Idwar Saleh dalam bukunya Banjarmasih mengungkapkan bahwa Kampung Bagau tercatat dalam dokumen sejarah muncul pada abad ke-19. Masih dalam riset Idwar Saleh, mengungkapkan pada abad itu, kebiasaan Ngayau atau perburuan kepala yang identik dalam tradisi Dayak, belum sepenuhnya dapat dihapuskan di wilayah Borneo. Tradisi ini menjadi ancaman bagi keamanan kampung-kampung Dayak di Karesidenan Borneo bagian Selatan dan Timur (kini wilayah Provinsi Kalimantan Tengah).

Hasil riset Prof Idwar Saleh ini diungkapkan Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur yang memicu terjadi migrasi warga Mandomai di Kalimantan Tengah untuk menetap di Banjarmasin. “Kampung Mandomai yang dimaksud dalam riset Idwar Saleh itu adalah wilayah Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalteng. Migran dari suku Dayak Ngaju ini dipimpin Rajam, dan keluarganya yang memiliki wilayah otonom di sebuah sungai kecil yang jadi bagian dari anak Sungai Martapura,” tutur Mansyur kepada jejakrekam.com, Minggu (25/2/2018).

Lokasi sungai itu adalah berada di seberang Teluk Tiram. Oleh Rajam, kemudian sungai itu diberi nama Sungai Bagau. Dalam bahasa Dayak, Gau artinya cari atau mencari yang belum ada. Jadi, Sungai Bagau berarti Sungai Bacari dalam pengertian sungai yang tempat rezeki untuk hidup.

“Keterangan ini sepenuhnya benar. Sumber sezaman yang bisa digali adalah Tijdschrift voor Neerland’s Indie (Jurnal Hindia Timur) tahun 1838 pun mencatat bahwa dalam tiga jam perjalanan melewati sungai akan mencapai wilayah Kampung Banjar. Cuma sebelumnya akan melewati wilayah Kampung Dayak (Daijaksche campongs) yakni Besserie (Basirih), Bagaauw (Bagau) dan Bahauer (Bahaur), yang terletak di tepi sungai,” tutur Mansyur.

Dosen muda program studi Sejarah FKIP ULM ini mengungkapkan dalam jurnal itu, pada 1838 digambarkan kampung-kampung di wilayah ibukota Banjarmasin (Kota Gubernemen) adalah Kampung Cina, Kampung Loji, Antasan Besar, Amarong, dan Dekween yang meliputi Kampung Gayam, Banyiur, Antasan Kecil, Rawa Kween, Binjai, Jawa Baru, Sungai Baru, Pekapuran, Kelayan Besar, Bagau, Bahaur, Basirih dan van Thuijl. “Jumlah penduduknya sekitar 3000 jiwa pada saat itu,” ucap Mansyur.

Menariknya, beber magister sejarah jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mengatakan dalam kamus bertitel Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie, tahun 1861 yang direpro VJ Veth tahun 1869, juga memaparkan bahwa wilayah Bagaauw (Bagau) adalah kampung yang menjadi wilayah utama di Banjarmasin.

“Jadi, diperkirakan Sungai Bagau pada awal abad ke-20 menjadi tempat sakral. Wajar, jika Amir Hasan Kiai Bondan dalam bukunya Suluh Sedjarah Kalimantan, memposisikan Muara Bagau sebagai tempat keramat pertama dari 20 tempat khusus yang dihuni orang gaib di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Dalam Peta “Schetskaart van de Hoofdplaats Bandjermasin en omliggend terrein, 1916” yang dibuat  H.P. Loing, nama Bagau ditulis dengan Bagao,” papar pria yang akrab disapa Sammy ini.

Iklan Samping 300×250

Nah, masih menurut Sammy, dengan lokasi yang lumayan strategis wilayah Bagau pada masa Hindia Belanda difungsikan sebagai tempat penyimpanan bahan bakar bensin. Sebelum masuknya Jepang ke Kota Banjarmasin pada 8 Februari 1942, lokasi ini dibumihanguskan sehingga menjadi lautan api. “Waktu itu, Pasar Baru, Pasar Ujung Murung, Pasar Sudimampir dan Pasar Lima dibakar. Penyimpanan bensin di Banua Anyar dan Bagau pun musnah,” ucapnya.

Padahal, beber Sammy, kedua wilayah itu menjadi tempat penimbunan kaleng-kaleng minyak tanah, minyak pelumas, bensin, serta bahan bakar pesawat. Selain itu, karet di gudang-gudang Mac Laine & Watson di Ujung Murung, bangunan Fort Tatas turut pula ludes dilalap si jago merah.

Bagau pun bergerak di era kemerdekaan RI. Menurut Sammy, pasca kemerdekaan, letak geografis Propinsi Kalimantan Selatan yang strategis bagi akses perdagangan barang dan jasa antar pulau menjadikan pendorong maraknya praktik pelacuran di Kalimantan Selatan, khususnya kota Banjarmasin.

“Saat itu, wilayah Bagau beralihfungsi menjadi lokalisasi. Sayangnya, belum didapatkan data pasti kapan dimulainya bisnis seksual di wilayah ini. Majalah Tempo volume 5 tahun 1975, hanya menuliskan pernyataan pejabat PLN Banjarmasin, Daud, bahwa hampir seluruh kampung di Kodya Banjarmasin sudah bermain dengan kerlap-kerlip cahaya listrik. Bahkan kompleks WTS Bagau pun di tahun 1975 bakal dapat giliran pemasangan listrik,” tutur Sammy.

Dia juga mengutip memori pelaksanaan tugas Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan tahun 1980, tercatat wanita tuna susila (WTS) di Kalimantan Selatan berjumlah 615 orang dan mucikari sekitar 100 orang. “Dari jumlah ini yang terbanyak terdapat di Kotamadya Banjarmasin (Lokalisasi Bagau) dan Lokalisasi Pembatuan, Kabupaten Banjar. Lokalisasi Bagau mengalami kebakaran hebat dalam bulan April 1980,” katanya.

Hingga 10 tahun kemudian, tepatnya pada 1990, lokalisasi ini akhirnya ditutup. Menurut Sammy mengutip hasil penelitian  Muʾman Nuryana (2003) menuturkan bahwa lokalisasi WTS Ria Bagau dilarang beroperasi mulai tahun 1990, berdasarkan peraturan daerah.

“Dari data tahun 1990, jumlah jumlah WTS adalah 287 orang dengan jumlah germo 18 laki-laki dan 7 perempuan. Walaupun demikian, lokalisasi ini masih tetap beroperasi dalam senyap. Hingga, pada 1991, Lokalisasi Ria Bagau ditutup secara resmi Pemerintah Daerah Kotamadya Banjarmasin. Sebelumnya, sempat menjadi perdebatan publik di kalangan masyarakat atas keberadaannya yang sangat bertentangan dengan keyakinan Agama Islam,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : Museum Troppen Belanda

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...