Bahasa Dayak Ngaju Berakar Sama dengan Melayu

SISTEM mandala yang diterapkan tata pemerintahan Kedatuan Sriwijaya, begitu  mengakar. Tak mengherankan, jika akhirnya bahasa Melayu jadi lingua franca atau bahasa pergaulan di jazirah Nusantara.


WANGSA Syailendra diyakini adalah penguasa Kedatuan Sriwijaya, yang berpusat di daerah aliran sungai (DAS) Sungai Musi, Sumatera Selatan, pada abad ke-7 atau 650-1025 Masehi.Daerah mandala (kekuasaan politik) mencakup Sumatera hingga Semanjung Melayu, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebagian kecil Jawa Timur, dan Pulau Kalimantan (Masin).

“Sedangkan, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi hanya wilayah mandala dalam interaksi ekon omi dan politik di Nusantara,” ucap peneliti sejarah asal FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Apriansyah kepada jejakrekam.com, beberapa waktu lalu.

Makanya, menurut Apriansyah, tak mengherankan jika bahasa Melayu –selain bahasa Sanskerta sebagai bahasa keagamaan— menjadi bahasa perdagangan dan politik (lingua franca) di wilayah kekuasaan Kedatuan Sriwijaya.

Hipotesis Apriansyah ini sejalan dengan artikel yang ditulis arkeolog berkebangsaan Perancis, Louis-Charles Damais berbahasa Perancis berjudul “La langue B des inscription de Sri Wijaya”, yang diterbitkan Bulletin de l’Ecole francaise d’Extreme-Orient, LIV, 1968.

Damais melakukan pendekatan aneka bahasa untuk menguak isi prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka, yang berangka tahun 608 Saka atau 28 April 686 Masehi, yang dipahat Wangsa Syailendra, termasuk bahasa Jawa, Melayu, Campa hingga Dayak Ngaju dalam rumpun bahasa B Sriwijaya.

Penelusuran bahasa B dilakoni Louis-Charles Damais sebagai jalur lainnya untuk meneliti mandala-mandala Sriwijaya. Hal itu juga dilakoni Louis-Charles Damais untuk mengimbangi saat bahasa A atau bahasa Sansekerta menjadi bahasa resmi Kedatuan Sriwijaya di pusat pendidikan Agama Buddha di Nusantara, juga diteliti koleganya, arkeolog Perancis seperti George Coedes.

Semua hasil penelitian arkeolog Perancis ini dimuat dalam buku berjudul Kedatuan Sriwijaya, terbitan Komunitas Bambu, 2014. Dengan menggunakan kamus bahasa Dayak Ngaju yang disusun penginjil Jerman bernama Hardeland 1859, dan telah berumur ratusan tahun, Louis-Charles Damais coba menganalisis isi dari prasasti ini.

Sedangkan, Hardeland, peneliti bahasa Kalimantan, dalam kamusnya itu tak hanya dialek Dayak Kahayan, tapi dialek etnis pribumi Kalimantan, juga dimuat.Alhasil, Louis-Charles Damain dalam kesimpulannya mengungkapkan cukup banyak kosakata Dayak Ngaju yang sinonim dan serumpun dengan bahasa Melayu dan Jawa, dalam membaca prasasti era Sriwijaya yang tersebar di Semanjung Melayu, baik di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, hingga Thailand Selatan.

“Wajar, karena interaksi antara warga Dayak dengan pendatang Melayu dari Sumatera dan Semenanjung Melayu sudah berlangsung lama. Makanya, etnis Dayak itu masuk dalam kategori Melayu Tua. Sedangkan para migran yang baru datang ke Kalimantan itu disebut Melayu Muda,” ujar Apriansyah.

Dia coba menganalisis secara genologi etnis Dayak yang mendiami Pegunungan Meratus, masuk dalam rumpun Melayu Tua. Sedangkan Banjar adalah Melayu Muda.  Apriansyah lantas menyontohkan temuan situs purbakala Gua Babi di Gunung Batu Tuli, De sa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong. Hasil riset Balai Arkeologi Banjarmasin pada 1996, diduga ada bukti budaya prasejarah di Kalimantan.

“Gua Babi ini diperkirakan ada sejak akhir Kala Kala Plestosen dan awal Kala Holosen, sekitar 10.000 tahun silam,” ujar Apriansyah.

Ia menyatakan suku Dayak Ngaju yang lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang Melayu-Sriwijaya ialah nenek moyang orang Alalak Berangas, yang dulunya berpusat di Belandean.

Sebab, menurut dia, posisi pemukiman orang-orang Alalak Berangas berada di Sungai Alalak dan Barito yang jelas berada di pesisir atau sungai yang bermuara ke Laut Jawa. “Makanya, dalam kosakata bahasa Berangas, terdapat kosakata Melayu atau Jawa,” tuturnya.

Walaupun, menurut dia, ada pula para peneliti sejarah yang menghubungkan interaksi orang-orang Melayu dengan adanya Kerajaan Dayak Maanyan bernama Kerajaan Nansarunai yang berpusat di wilayah daerah aliaran Sungai Tabalong. Jebolan magister sosiologi pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengungkapkan, hancurnya Kerajaan Nansarunai itu setelah adanya eksepidisi militer yang tercatat tiga kali dilancarkan Kerajaan Majapahit, sejak 1309-1389 M.

“Nah, orang-orang keturunan Dayak Maanyan ini lebih memilih menyebar, ketika kerajaannya dihancurkan. Salah satu keturunan dari Dayak Maanyan atau sisa-sisa Kerajaan Nansarunai itu orang-orang Bakumpai,” tutur Apriansyah, yang mengkaji sejarah lewat artikel dan riset yang ditulis sejarawan Inggris dan Perancis, lalu membandingkannya dengan hipotesis sejarawan Belanda, terutama dari Universitas Leiden.

“Inilah mengapa kemandalaan Sriwijaya lebih awet, dan diteruskan pola semacam ini oleh Kerajaan Majapahit. Karena masing-masing wilayah vazal (taklukan) memiliki kewenangan dalam mengelola daerahnya. Dalam tataran ilmu politik sekarang itulah sistem negara federal,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : Museum Troppen Belanda

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Bahasa Dayak Ngaju Berakar Sama dengan Melayu