Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar

SIAPA yang tak kenal dengan Kampung Pacinan. Bagi warga Banjarmasin, kampung yang terletak di tepian Sungai Martapura dan Sungai Veteran-sebuah kanal yang dibangun era kolonial Belanda di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini sangat kental berakar historis dan budaya dari Tiongkok, khususnya dari belahan selatan, Provinsi Yunan.

MENGUTIP hasil riset Dana Listiana, Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur mengungkapkan bahwa Kampung Cina di Tanah Banjar itu terbentuk berdasar laporan umum pada 1850.

“Ini terdapat dalam laporan bertitel Algemeen Verslag yang menyebut bahwa kampung dan pemukiman Cina di Banjarmasin terdiri atas Kampung Ulu dan Kampung Ilir,” ucap Mansyur kepada jejakrekam.com, Jumat (16/2/2018).

Layaknya perkampung Muslim di Tanah Banjar dengan simbolik utama masjid. Maka, elemen utama atau identitas permukiman etnis Tionghoa sangat lekat dengan keberadaan klenteng atau dalam lidah orang lokal disebut dengan tempekong atau tepekong. Menurut Mansyur, mengutip hasil riset Dana Listiana, klenteng menjadi pusat dan ruh kehidupan masyarakat Tionghoa dan menjadi episentrum dari simbolik kehidupan masyarakat perantau ras mongolid itu.

“Ya, klenteng bukan sekadar penghias kampung, tapi juga wujud kosmologi Tiongkok. Pendirian klenteng berfungsi menjaga keseimbangan kosmos antara manusia dan alam. Makanya, makna pembangunan klenteng bermaksud khusus,” papar pria yang akrab disapa Sammy ini.

Staf pengajar sejarah di FKIP ULM ini mengungkapkan klenteng juga bernama lama Kiong (istana), Tong/Ting (bangunan suci berbentuk kecil), atau  Bio/Miao dalam bahasa Hokkian yakni bangunan kebaktian bagi Khong Cu atau Khong Cu Bio.

“Dari pendapat Dana Listiana mengungkapkan bahwa klenteng di Banjarmasin dibangun sebagai klenteng komunitas (community temple) yang terletak di tepian Sungai Martapura. Klenteng yang dimaksud di Kampung Pacinan adalah Sen Sen Kung atau Klenteng Soetji Noerani,” papar Mansyur.

Magister sejarah jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini membeberkan berdasar beberapa literature menjelakan bahwa Klenteng Sen Sen Kung atau Soetji Noerani ini dibangun pada 1898.  “Dua tokoh yang berperan dalam pendirian klenteng adalah Kapiten Cina, yakni The Sinyoe dan Anglim Thay. Dengan lobinya kepada Pemerintah Hindia Belanda, kedua kapiten ini mendapat persetujuan mendirikan tempat ibadah bagi orang-orang Tionghoa di Pacinan,” kata Mansyur.

Tak hanya itu, masih menurut dia, Klenteng Soetji Noerani menjelma menjadi ikon wilayah Pacinan pada era pemerintahan Hindia Belanda di Kota (Geemente) Banjarmasin. Letaknya di persimpangan antara Jalan Pierre Tendean dan Jalan Veteran (Pacinan laut), Kelurahan Kampung Gadang, Kota Banjarmasin saat ini.

“Dari riset Listiana itu, disebutkan Klenteng Soetji Noerani itu berfungsi sebagai penjaga komunitas di Pacinan. Ya, sebagai kelompok Tionghoa dikenal sangat menghormati keberadaan leluhur mereka. Dalam tradisi mereka, sebelum membangun sebuah permukiman, maka mreka menjalankan ritual memohon agar kehidupan terbaik di tempat baru, dan dijauhkan dari segala keburukan. Nah, tempat untuk persembahyangan itu adalah klenteng,” urai Mansyur.

Dalam tata wilayah Pacinan, maka Klenteng Sen Sen Kung (Soetji Noerani) dikategorikan sebagai klenteng jalan masuk (locality access temple) sekaligus klenteng lingkungan (neigbourhood temple). Alasannya, karena berada di ujung jalan masuk sehingga dapat dilihat siapa saja. Sekarang, jelas terlihat dari letaknya di persimpangan antara Jalan Pierre Tendean dan Jalan Veteran.

Alfamart 300×250

“Dari hasil kajian Kurnia Widiastuti dan Anna Oktaviana (2012) menyebutkan awal berdiri klenteng awalnya didominasi material kayu. Wajar, saat itu memang kayu merupakan bahan utama bangunan khususnya di Banjarmasin. Hingga pada 1925, klenteng mengalami renovasi dengan penggantian material kayu dengan beton,” tutur Mansyur.

Bukan Klenteng Soetji Noerani atau dalam ejaan sekarang Suci Nurani, ada satu lagi tempat peribadatan warga Tionghoa di tanah rantau. Yakni, Klenteng Pasar atau namanya Pon An Kiong. Letaknya yang berada di kawasan Pasar Niaga, Pasar Cempaka atau Pasar Harum Manis, sebuah komplek pasar tradisional terbesar di Banjarmasin merupakan klenteng untuk kepentingan perniagaan.

“Klenteng Pon An Kiong atau Karta Raharja didirikan karena terakses dengan pusat perniagaan dan pelabuhan di tepian Sungai Martapura. Ternyata, pola klenteng ini banyak ditemukan di permukiman warga Tionghoa di Asia Tenggara dari berbagai riset yang ada,” tutur Mansyur.

Awalnya, Klenteng Pon An Kiong ini berdiri pada 1314, setelah mengalami musibah kebakaran, pada 1914 kembali dibangun oleh tokoh-tokoh Tionghoa dengan nama Tempekong Po An Kiong atau Klenteng Karta Raharja. Letaknya berada di pertigaan Jalan Niaga dan Jalan Brigjen Katamso, atau tepatnya Jalan Niaga Nomor 45 Banjarmasin.

“Klenteng ini juga dinamakan Tempat Ibadat Tri Darma Karta Raharja. Berdasarkan keletakannya, Klenteng Po An Kiong yang baru termasuk dalam kategori klenteng jalan masuk sekaligus klenteng lingkungan,” katanya.

Mansyur juga mengutip analisis Salmon dan Lombard dalam riset Listiana bahwa  pendirian setiap klenteng memiliki tujuan umum untuk ritual pemujaan, penghormatan, atau bakti terhadap dewa dan leluhur. Pendirian klenteng dimaksudkan untuk menjaga lingkungan (manusian dan alam dalam kawasan tersebut) dari datangnya nasib buruk.

“Makanya, bangunan klenteng di Pacinan, berdiri di persimpangan jalan. Secara praktis, posisi klenteng di pertigaan berfungsi untuk menghadang sha yang dibawa dari sumbu jalan di depannya, yang terlihat dari posisi dua buah klenteng tersebut,” ungkap Mansyur, panjang lebar.

Dosen muda ini mengaku bangga terjadi kehadiran masyarakat Tionghoa yang sudah berabad-abad di Banjarmasin, walau sempat mengalami pasang surut ternyata keberadaan dua klenteng utama itu tetap terjaga. “Bagaimana pun, baik Klenteng Sen Sen Kung dan Klenteng Pon An Kiong hingga kini menjadi pusat peribadatan dan pelindung aktivitas masyarakat Tionghoa di Tanah Banjar,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : Iman Satria

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar