Menggelorakan Syair-Syair Perjuangan Menjaga Meratus

AKSI perlawanan dalam menolak rencana eksploitasi tambang batubara di lereng Pegunungan Meratus dirangkai dalam bait-bait syair, khususnya ketika Blok Batu Tangga, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kini tengah diincar korporasi yang mengantongi izin dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

KELOMPOK seniman dan penyair pun memanfaatkan momentum penolakan dengan menghelat Konser Kecemasan Meratus serta membedah buku antologi puisi berjudul “Bertahan di Bukit Akhir” di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Achmad Yani Km 6 Banjarmasin, Jumat (9/2/2018) malam.

Acara Dialetika Sastra Pal Anam ini berlangsung hingga Sabtu (10/2/2018) dinihari. Penyair Ali Syamsudin Arsyi menuturkan bahwa buku antologi puisi berjudul “Bertahan di Bukit Terakhir” menceritakan tentang kegelisahan awal para sastrawan di Hulu Sungai Tengah (HST).

“Dalam buku ini dituliskan kumpulan pusi yang disumbang dari 24 penulis. Mereka berkumpul dan berkarya bersama, dan banyak juga menulis mengenai kegelisahan situasi alam sejak 2008 ke bawah. Sekarang, telah terbukti kegelisahan para sastrawan di tahun 2018,” papar Ali Syamsudin Arsyi.

Dia berharap dengan buku antologi puisi itu bisa menggerakkan kemampuan para penyair dalam membagi kata-kata dan menjadi semanagat bagi para pembaca dan bisa menggerakkan siapa saja.

“Pegunungan Meratus sangat berkaitan dengan Kalimantan Selatan secara berkeseluruhan, bukan hanya Kabupaten HST. Seandainya, HST merupakan bagian akhir dari pertahanan Pegunungan Meratus sudah jebol, maka dampaknya bukan hanya dirasakan HST, tetapi juga kabupaten-kabupaten lain,” ujar Ali Syamsudin Arsyi.

Menurut dia, sepatutnya kabupaten atau daerah lain juga bergerak, karena dampak jika Pegunungan Meratus ditambang, bukan hanya dirasakan warga HST, tetapi daerah lain di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Ketua Dialetika Sastra Pal Anam, Moh Mahfud menjelaskan dalam kegiatan bertajuk Mertus ini diangkat, karena pergerakan masyarakat terhadap isu penyelamatan Pegunungan Meratus sudah membumi, bukan hanya dimotori aktivis, LSM, mahasiswa namun juga gerakan rakyat lainnya. “Sekaran, giliran para seniman dan penyair yang bersikap,” tegas mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin.

Menurut dia, acara bedah buku yang ditulis para penyair asal Kabupaten HST, termasuk para seniman yang berpartisipasi bukti seluruh komponen masyarakat Kalsel bergerak menyikapi rencana pembukaan tambang di Pegunungan Meratus.(jejakrekam)

Penulis : Ahmad Husaini

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Ahmad Husaini

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Klik lonceng merah di samping kanan layar untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru pada gawai anda.