Pendirian Fakultas Ilmu Budaya Sudah Mendesak di ULM

DERAP pembangunan begitu maju dan berkembang. Teknologi di abad global mencetuskan perubahan sosial dan budaya di tengah masyarakat yang begitu cepat. Gaya hidup, jaringan lokal, nasional dan internasional seolah tiada batas. Isu masyarakat global dengan cepat, bahkan dengah mudah dapat mengubah tatanan kebudayaan suatu bangsa.

ANTROPOLOG Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Setia Budhi PhD mengungkapkan peristiwa penting lainnya adalah nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berakar di masyarakat, sudah mulai tergerus. “Generasi muda nampak mengabaikan  peranannya sebagai penerus dan pelestari sejarah, budaya dan bahasa daerah,” ucap Setia Budhi kepada jejakrekam.com, Jumat (12/1/2018).

Untuk menangkap itu, doktor jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia ini mendesak agar pengelolan ULM segera membangun Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang sangat urgen untuk melahirkan sarjana atau akademisi baru yang belajar dan paham tentang budaya, adat, bahasa dan sejarah lokalnya untuk memperkokoh budaya dan identitas bangsa.

“ Dalam FIB itu mahasiswa dan dosen-dosennya akan aktif melakukan penelitian tentang bahasa, sastra, adat  budaya dan manuskrip yang tentu saja diharapkan akan memartabatkan bangsanya. Dalam FIB, tentu jurusan sastra daerah yang fokus pada Sastra Melayu dan Sastra Dayak. Demikian juga pada jurusan aktif pada pengembangan bahasa dan sastra daerah lainnya,” papar Setia Budhi.

Menurutnya, kita patut menyadari pentingnya pengembangan dan pelestarian kebudayaan multietnik seperti Melayu, Banjar, Dayak  di Kalimantan. Sebab,  akar kebudayaan tak boleh ditinggalkan dan itu menjadi salah satu tugas insan akademiknya.

“Kalimantan Selatan boleh mengklaim sebagai Ibu Sastra Melayu yang dibuktikan dengan banyaknya kegiatan sastra dan budaya,, komunitas serta penerbitan buku-buku sastra dan budaya. Harus ada upaya konkret untuk pengembangan dan pelestarian bahasa, sastra dan sejarah Kalimantan,” kata dosen FISIP ULM ini.

Masih menurut Setia Budhi, selain ahli tentang bahasa, adat dan budaya serta sejarah Kalimantan dengan etnomedicine Dayak, wilayah kajian ethnografi yang sangat manarik termasuk buku-buku bahan ajar budaya yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Bagi dia, terpenting lainnya adalah kecenderungan global akan datang pesaingan sumber daya manusia, semakin majunya manusia kreatif dan unggul. “Pertumbuhan ekonomi harus ditopang  bidang kreativitas sebagaimana munculnya Badan Ekonomi Kreatif yang mempunyai tugas membantu Presiden Ri dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang: aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio,” cetusnya.

Mengenai potensi berdirinya FIB di ULM, Setia Budhi mengungkapkan bahwa kampus tertua di Kalimantan ini sudah sudah lama tumbuh dan berkembang studi yang mendukung bangunan dan berdirinya FIB. Misalnya Prodi Sejarah, Prodi Sosiologi dan Antropologi, Prodi Bahasa dan Sastra dan Prodi Sendratasik di FKIP, sementara di Prodi Sains Sosiologi pun telah berdiri di FISIP. “Ini adalah rumpun ilmu yang sangat bagus banyak peminatnya dan rumah  perkembangannya.  Rumpun ilmu itu sebagamana universitas lain di Indonesia ialah Fakultas Ilmu Budaya,” imbuh Setia Budhi.(jejakrekam)

Penulis : Ahmad Husaini

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Universitas Lambung Mangkurat

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...