Jadi Ikon Kota, Ayo Selamatkan A Hotel Banjarmasin

PERSAINGAN antar hotel dari kelas bintang hingga kelas melati sangat sengit di Banjarmasin. Akhirnya, ada beberapa hotel yang terpaksa menyingkir dari bisnis yang seakan jadi kanibalisme itu. Salah satunya, adalah A Hotel Banjarmasin yang dulu bernama Hotel Kalimantan dan bertransformasi menjadi Hotel Arum Kalimantan, tampak sepi di tengah kota.

PADAHAL, dari segi fasilitas, A Hotel Banjarmasin merupakan tergolong hotel mewah dan berbintang 4 berada di jatung Kota Banjarmasin. Hotel ini menawarkan 149 kamar menarik mewah modern, dari Deluxe Room, Klub A, Junior Suite, A Suite, dan Cottage.

Fasilitas yang disedikan hotel ini cukup menggodakan. Dari fasilitas eksklusif, seperti Lounge, Coffee Shop, Restoran, Kafe, Ruang Rapat, dan Ballroom. Di era 1990-an, Hotel Kalimantan ini pernah memiliki Plaza Junjung Buih, dan berapa gerai makan siap saji. Namun, tragedi Jumat Kelabu pada 23 Mei 1997,  membuat fasilitas di Hotel Kalimantan turut dibakar massa yang beringas.

Namun itu dulu, sejak diambilalih pengelolaan dan berganti menjadi nama A Hotel Banjarmasin, justru hotel yang menjadi salah satu ikon ibukota Kalimantan Selatan, tak ada lagi aktivitas layaknya hotel berbintang.

“Ya, sewaktu lewat di Jalan Pangeran Samudera dan meneruskan di Jalan Lambung Mangkurat, lampu-lampu yang ada di A Hotel Banjarmasin itu padam. Ini menandakan tak ada lagi aktivitas perhotelan di bekas Hotel Arum Kalimantan ini,” ujar anggota DPRD Kalsel, HM Rosehan Noor Bachri kepada jejakrekam.com, Selasa (2/1/2017).

Rosehan bercerita sewaktu menjabat Wakil Gubernur Kalsel periode 2005-2010, pernah memanggil manajemen Hotel Arum Kalimantan yang sempat kesulitan permodalan dalam pengelolaan hotel berbintang itu.

“Saat itu, saya pertemuan dengan Bank Kalsel untuk mempermudahkan kredit modal kerja bagi hotel ini. Sepertinya saat ini, i A Hotel Banjarmasin juga mengalami hal serupa. Makanya, saya berharap Pemprov Kalsel atau Pemkot Banjarmasin segera mengambil tindakan segera untuk membantu manajmene hotel tersebut,” tuturnya.

Bagaimana pun, menurut Rosehan, A Hotel Banjarmasin atau dulunya dikenal dengan Hotel Arum Kalimantan pernah menjadi pemasok pendapatan bagi pemerintah kota, terutama pajak hotel dan restoran, sehingga sudah sepatutnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

“Sebab, pemerintah daerah wajib membina warga, termasuk usahanya. Jangan hanya mengambil pajak, tapi ketika usahanya mengalami kelesuan atau kebangkrutan, seharusnya segera dibantu,” kata mantan Wagub Kalsel.

Rosehan menyarankan Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor atau Walikota Banjarmasin Ibnu Sina bisa segera mengambil tindakan dengan memanggil manajemen A Hotel Banjarmasin. Dari situ, menurut dia, bisa dikorek fakta yang terjadi sesungguhnya di A Hotel Banjarmasin.

“Nah, jika ternyata kesulitan permodalan, tentu lewat Bank Kalsel bisa mengucurkan dana agar bisa beroperasi kembali. Jadi, A Hotel Banjarmasin yang berada di pusat kota ini tak terlihat gelap lagi di malam hari. Sayang, jika hotel sebesar itu justru menjadi bangunan yang tak berpenghuni,” papar legislator PDI Perjuangan ini.

Begitupula, Rosehan menyarankan agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin dan instansi terkait bisa segera menindaklanjuti apa yang terjadi di A Hotel Banjarmasin.

“Sayang sekali, jika A Hotel Banjarmasina atau dulunya Hotel Arum Kalimantan itu harus tutup dan tinggal nama. Bagaimana pun, Banjarmasin juga pernah punya hotel bertingkat tinggi sekelas hotel tersebut. Saya sarankan agar segera dibantu,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Didi GS

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...