Wanita Pejuang Kemerdekaan Berpulang, Dilepas Militer

INNA LILAHI wa inna ilaihi roji’un. Awan duka menggelayut di awal tahun 2018 bagi dunia pejuang dan veteran di Banjarmasin. Tepat pada Minggu (31/12/2017), sosok wanita pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, bernama Hj Hamsah Main (99 tahun) menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya, Jalan KS Tubun RT 12 RW 01 Nomor 56, Kelurahan Kelayan Barat, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

ALMARHUMAH dikenal tokoh veteran pejuang ini dikebumikan pada Senin (1/1/2018), selepas shalat Zuhur, usai dishalatkan di Masjid Noor, Jalan Pangeran Samudera Banjarmasin. Upacara pelepasan jenazah untuk dimakamkan dilakukan secara militer pada pukul 13.30 Wita.

Upacara militer untuk persemayaman terakhir almarhumah Hj Hamsah Main dilaksanakan jajaran Kodim 1007 Banjarmasin dengan inspektur upacara Danramil Banjarmasin Selatan Mayor Inf Sudjiono dan komandan upacara Pasi Ops Kodim 1007 Banjarmasin, Kapten Inf Ode Kamaruddin. Selanjutnya, jenazah dibawa dennga mobil ambulance untuk dikebumikan di TPU Banteng Liang Anggang, Jalan Achmad Yani Km 22 Banjarbaru. Berikutnya, upacara pemakaman secara militer digelar Kodim 1006 Martapura.

“Almarhumah pernah bercerita, beliau ikut berjuang bersama para pejuang Banjar untuk mempertahankan kemerdekaan RI di wilayah Anjir, Kabupaten Barito Kuala. Kemudian, pada 1980, ibu kami dianugerahi pemerintah sebagai veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia,” ucap Rohani (65 tahun), putri almarhumah Hj Hamsah Main kepada jejakrekam.com, Senin (1/1/2017).

Iklan Samping 300×250

Dia pun menceritakan pengalaman sang ibu sebagai pengantar makanan atau perbekalan bagi para pejuang harus masuk keluar hutan. Tak hanya bertugas di bagian logistik, Hj Hamsan Main juga menjadi mata-mata pejuang Republik Indonesia.

“Beliau adalah sosok wanita pemberani. Ya, kalau sekarang boleh dibilang tomboy, karena berani bergabung bersama pejuang kemerdekaan RI. Beliau juga sering dikejar tentara Belanda, hingga pernah bersembunyi dan menceburkan diri ke dalam sungai, hanya memunculkan hidung untuk bernafas,” cerita Rohani lagi.

Sebagai wanita pejuang, almarhumah memiliki 12 saudara-saudari, dan asli orang Hambuku Hulu (daerah Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara). Almarhum pun meninggalkan 4 anak, dan termasuk wanita pejuang Kalimatnan Seatan yang gigih melawan penjajah dari pendudukan Jepang dan kembalinya Belanda lewat NICA untuk menjajah kembali Tanah Banjar.(jejakrekam)

Penulis : Asyikin

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Asyikin

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.