ACT

Gus Dur Sebut Djohan Effendi bak Perpustakaan Berjalan

166

ILHAM Masykuri Hamdie  dan Darius Dubut membuka dialog yang diikuti umat lintas agama di aula Vihara Dhammasoka, Sabtu (25/11/2017). Sosok Djohan Effendi, sebagai tokoh pluralisme kelahiran Kandangan, diperkenalkan kepada peserta diskusi dari berbagai kalangan, termasuk pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalsel.

DJOHAN Effendi adalah orang Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) yang telah lama mennggalkan banua. Bagi Ilham Masykuri Hamdie dan Darius Dubut, nama Djohan Effendi justru lebih dikenal di luar Kalsel, sebagai pemikir dan intelektual muslim.

Diskusi yang dihelat Lembaga Kajian Kaji Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) dipandu Noorhalis Majid, dari sisi testimoni Ilham yang merupakan putra Imam Besar Masjid Sabilal Muhtadin, Ustadz Rafli Hamdi ini menceritakan bahwa sosok Djohan Effendi adalah orang yang sederhana, rendah hati dan mengayomi anak muda.

“Pada, tahun 1985, saya pernah diskusi proklamasi yang digagas Djohan Effendi di rumahnya. Puluhan aktivis muda ikut dalam diskusi yang diselenggarakan setiap Rabu sore. Beliaulah mentor dari kami yang muda-muda,” kenang Ilham.

Dari situ, Ilham menyebut nama tokoh-tokoh intelektual lahir seperti Denny JA, Budhi Munawar, Ihsan AliFauzie, dan banyak anak muda lainnya. Menurut Ilham, sekalipun Djohan Effendi merupakan pejabat di Kementrian Agama, namun juga dikenal sebagai penulis pidato Presiden Soeharto, ketika itu. “Baru, kemudian, beliau menjadi Mensesneg zaman Presiden Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), namun orangnya tetap sederhana. Pergi ke kantor naik bajai, makannya di warung pinggir jalan,” beber Ilham.

Di mata dia, Djohan Effendi dikenal luas pengetahuannya, hingga  Gus Dur bahkan menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. “Tapi di hadapan anak muda sekalipun, dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Greg Barten, menyejajarkan Djohan dengan Cak Nur dan Gus Dur,” tutur Ilham.

Senada itu, Darius Dubut, seorang pegiat pluralisme, juga menyampaikan pengalamannya tentang Djohan Effendi. Kata Darius, Djohan adalah sufi yang tidak mau disebut sufi. “Dia membela siapa saja yang terdiskriminasi. Semua aliran agama dibelanya, walaupun untuk itu dia difitnah sebagai bagian dari kelompok tersebut,” ucap Darius.

“Dia membela Syiah, Ahmadiyah, aliran kepercayaan dan agama lokal. Dalam berbagai kesempatan, Djohan selalu mengatakan,  semua agama dan aliran agama berhak hidup dan berkembang di indonesia, negara tidak boleh mendiskriminasi, apalagi sampai mengusirnya,” sambungnya.

Selain dialog, acara sore itu  juga diisi dengan pembacaan puisi dari tiga anak muda, yaitu Paula, Arie dan Dani, yang membaca puisi Djohan Effendi dalam bukunya berjudul Terjemahan Al quran. Puisi Bunda Mariam, Pluralisme dan Manusia, dibaca bergantian, membuat peserta tertegun mendengarkannya.

Peserta lainnya yang hadir juga bergantian menyampaikan pengalamannya berjumpa dengan Djohan Effendi. Termasuk, Humaidy menceritakan tentang buku Pergolakan Pemikiran Islam yang diambil dari cacatan Ahmad Wahib, merupakan karya yang sangat terkenal di tahun 1980-an dan buku tersebut diedit Djohan Effendi.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk Djohan Effendi. Harapannya, Semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah, dan semua yang sudah dia kerjakan, terutama menyangkut perjuangannya dalam membangun hubungan antar agama,  menjadi amal saleh baginya. “Selamat jalan, sababat dan guru kami, segala perjuanganmu akan kami lanjutkan,” ungkap Darius Dubut di akhir paparannya.(jejakrekam)

Penulis : Ahmad Husaini

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : LK3

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.