Langgundi, Tenun Sarigading di Bawah Bayang Sasirangan

LEGENDA kain langgundi tak bisa dipisahkan dari Hikayat Banjar yang bercerita seorang Putri Junjung Buih meminta Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Negara Dipa menyiapkan kain yang ditenun berwarna kuning dalam tempo sehari oleh 40 wanita yang masih perawan.

SYAHDAN, sang putri pun bersedia menjadi permaisuri Kerajaan Negara Dipa yang kemudian dipersunting Pangeran Suryanata, mewarisi kerajaan yang didirikan Empu Jatmika dan berpusat di Kota Amuntai pada 1355-1362 sesuai versi Hikayat Banjar yang disalin ulang profesor emeritus Universitas Leiden, Belanda JJ Rass atau dikenal dengan Hans Rass.

Ada pula yang menghubungkan kain langgundi dominan berwarna kuning itu dengan ‘puaknya’ kain sasirangan sekarang. Jadilah, kain itu menjadi busana keseharian warga Kerajaan Negara Dipa yang merupakan cikal bakal Kesultanan Banjar tersebut.

Persyaratan yang diajukan Putri Junjung Buih itu dipenuhi Patih Lambung Mangkurat, termasuk membangun sebuah mahligai megah yang digarap 40 tukang pria yang masih bujangan. Dari legenda itu, Putri Junjung Buih yang sebagian sejarawan, termasuk mantan Gubernur Kalsel HM Said menyakini seorang putri asal Kerajaan Nansarunai itu naik ke alam manusia dari persemayamannya di dasar Sungai Tabalong.

Saat muncul ke permukaan air Sungai Tabalong, begitu takjub warga Kerajaan Negara Dipa menyaksikan Putri Junjung Buih dengan keanggunannya. Kain yang dikenakan sang putri ini tak lain adalah kain langgundi warna kuning hasil tenunan 40 wanita perawan.

Benarkah kain langgundi merupakan puak dari kain sasirangan? Mantan Walikotamadya Banjarmasin, Effendi Ritonga sempat menyebut terinspirasi dari kain sasirangan bermotif Sarigading dalam toples yang sudah berusia ratusan tahun, hingga akhirnya kain itu dijadikan identitas kekhasan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan, dalam laporan Wulan (2006), kain sasirangan tertua yang dimiliki warga Banjarmasin bernama Ida Fitri Kesuma, ditaksir telah mencapai usia 300 tahun.

Apakah kain langgundi itu telah punah? Sebab, selama ini, kain sakral itu kerap dibuat untuk berbagai keperluan seperti sarung (tapih bahalai), bebat (babat), selendang (kakamban), dan ikat kepala (laung) atau lainnya. Terkadang langgundi juga dieratkan dengan sejarah kain sasirangan sebagai kain pamintaan (permintaan) untuk sarana pengobatan dalam tradisi dan ritual peninggalan leluhur Banjar.

“Saya yakin dari hasil riset yang ada, setiap ada kerajaan berdiri di suatu daerah, pasti ada kain unggulan yang dihasilkan. Sebab, di zaman kerajaan itu, pasti para bangsawannya membutuhkan kain atau busana yang indah. Nah, termasuk legenda kain langgundi,” ucap Sri Hidayah, pemilik gerai Tenun Pagatan Galuh Marege Banjarmasin ini saat berbincang dengan jejakrekam.com, Selasa (21/11/2017).

Pegiat Canada World Youth ini mencontohkan tenun Pagatan sangat erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Pagatan yang berada di pesisir Kalimantan Selatan,  dan dibangun para bangsawan Bugis asal Sulawesi Selatan di era Kesultanan Banjar. “Nah, begitupula, saya menemukan adanya tenun khas Alabio yang sekarang justru dilupakan banyak orang. Sebab, selama inii, justru kain-kain khas Kalsel masih didominasi kain sasirangan. Padahal, perlu juga kain-kain khas lainnya diangkat ke permukaan,” tutur Sri Hidayah.

Magister pembangunan sosial masyarakat perkotaan (sosial urban development) Eramus University Rotterdam Belanda ini mengaku miris, ketika kain sasirangan begitu didorong penuh, sementara melupakan khazanah warisan leluhur lainnya seperti tenun Alabio.

“Dari hasil tinjauan di lapangan, ternyata teknik tenun Alabio itu sama tuanya dengan kebudayaan suku Baduy di Jawa Barat. Ya, mereka menggunakan sistem tenun tanpa mesin atau manual, dan tidak memakai pola ikatan seperti kain tenun Pagatan,” tutur Sri Hidayah.

Apakah kain tenun Alabio itu merupakan kain langgundi? Wanita yang membuka gerai kain khas Kalimantan di Jalan Melayu Darat Banjarmasin ini mengungkapkan masih perlu penelitian mendalam. “Makanya, kami bersama beberapa akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) akan menghimpun data ke Alabio, tepatnya di Desa Pandulangan, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU),” ucap Sri Hidayah.

Dia mengungkapkan dari motif tenun Alabio ini telah terinventarisir ada 30 motif, dari 40 motif yang dulu pernah berkembang di era Kerajaan Negara Dipa. Sri Hidayah pun tak menampik kain tenun Alabio ini sangat berkelindan dengan era keemasan Kerajaan Negara Dipa yang berpusat di Amuntai. “Ya, kalau dilihat dari motif sarigading laki, sarigading bini, iwak toman, ramuk sahang dan lainnya sangat terkait dengan sejarah wilayah  Alabio. Saya juga bingung, kok berganti jadi Kecamatan Sungai Pandan, mengapa tidak Kecamatan Alabio, sehingga tidak melupakan esensi sejarahnya?” cecarnya.

Yang membuat Sri Hidayah miris adalah para pengrajin tenun Alabio ini justru hanya bisa dihitung dengan jari. Saat ini, yang masih aktif dalam kelompok tenun Alabio bernama Keladi Air di Desa Pandulangan, Kecamatan Sungai Pandan hanya tersisa 5 hingga 7 orang. “Kami berharap kain tenun Alabio ini bisa terangkat, seperti kain tenun Pagatan yang sudah bisa go internasional. Bandingkan dengan pengrajin kain tenun Pagatan dulunya bisa dihitung, sekarang sudah ada 100 orang dan terlihat dinamikanya,” kata Sri Hidayah, yang rajin membina para pengrajin kain khas daerah ini

Ia mengakui pamor kain tenun Alabio masih kalah dengan kain sasirangan yang sudah membumi di Kalimantan Selatan. “Ya, seperti subul Banjar, bordiran Alabio, dan termasuk kain tenun Pagatan. Dan, termasuk kain Sarigading Alabio yang kini belum menjadi produk unggulan daerah,” tuturnya.

Menurutnya, belajar dari pengalaman menghidupkan kembali tenun Pagatan selama 4 tahun dan kini telah menjadi produk unggulan daerah dan menembus pasar nasional dan internasional, hal serupa akan diterapkan di Alabio. “Itu yang ingin kami lakukan bagi para pengrajin tenun di sana. Apalagi, kain tenun Alabio juga bernilai seni, keindahan dan sejarah yang tinggi,” kata jebolan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Apalagi, masih menurut Sri Hidayah, pewarna kain tenun khas Alabio itu masih menggunakan bahan alami seperti kulit rambutan, biji ramania dan kunyit yang merupakan ciri khas kain-kain nusantara. “Makanya, rumus sederhana dalam sejarah kain itu sangat erat dengan sebuah kerajaan. Sebab, kain biasanya dijadikan sebagai hadiah persembahan. Nah, begitupula, kain tenun Alabio ini yang bisa saja berakar dari keberadaan Kerajaan Negara Dipa, seperti legenda kain langgundi,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis  : Didi G Sanusi

Editor    : Didi G Sanusi

Foto      : Dok Hasanuddin