ACT

Denyut Kota Kanal Warisan Belanda yang Terabaikan

0 877

BANJARMASIN berdenyut dan berdetak seiring aliran Sungai Barito dan Sungai Martapura. Di era kolonial Belanda sudah disiapkan menjadi kota kanal ala kota Amsterdam di Negeri Kincir Angin itu. Kelandaian kontur tanah yang dimiliki ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, menyebabkan terbentuknya aliran sungai yang berliku dari hulu hingga ke hilir.

ANCAMAN banjir dengan kondisi sungai-sungai di Banjarmasin yang pasang surut menjadikan sang arsitek dan ahli perencana kota asal Belanda, Herman Thomas Karsten terinspirasi dengan kondisi kota Amsterdam untuk diterapkan di ibukota Borneo berjuluk kota seribu sungai.

Mengapa pola Amsterdam dipilih? Ya, ibukota Kerajaan Belanda ini memiliki 100 kilometer kanal, 90 pulau dan 1.500 jembatan. Ada tiga kanal utama di tepian Sungai Amstel ini, yakni Herengracht, Prinsengracht, dan Keizersgracht, dibangun pada abad ke-17, ketika era keemasan Belanda. Nah, bentuk sabuk konsentrik di sekitar kota tersebut ingin diterapkan di Banjarmasin yang dikenal sebagai Grachtengordel. Sekitaran kanal-kanal utamanya dibangun 1.550 bangunan monumental.

Pola rancang bangun ala Karsten ini memang sangat menghargai lingkungan hidup dan nilai kemanusian, terkhusus bagi warga berpenghasilan rendah. Tak mengherankan, dari beberapa kota yang dirancang Karsten di Indonesia, termasuk Banjarmasin, pasti akan ditemukan ruang publik berupa alun-alun. Dan, alun-alun besar yang kini masuk kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, dulunya dikenal dengan Lapangan Merdeka.

Dokumen-dokumen Belanda dalam  mengatasi banjir atau calap di Banjarmasin sudah terlihat pada peta kota yang diterbitkan pada 1700-1945. Tak mengherankan, jika era kolonial Belanda pada 1890 ingin menyulap Banjarmasin menjadi kota kanal. Yakni, sebuah wilayah berbasis elemen parit kota yang dibangun untuk memperlancar dan mempercepat pengaliran air sungai dalam bahasa Banjar disebut anjir, antasan, handil, dan saka.

Dari hasil penelitian beberapa ahli kota, sedikitnya ada 10 kanal yang dibangun Belanda dan ditempatkan di kawasan pusat Kota Banjarmasin. Kanal itu merupakan sodetan pada lekukan sungai atau meluruskan aliran sungai. Kanal-kanal yang dirintis era Belanda bisa tersisa di kawasan Teluk Dalam, sepanjang Jalan Soetoyo S hingga tembus ke Jalan Jafri Zam-Zam yang terhubung dengan Sungai Barito dan Sungai Martapura. Begitupula, kanal sepanjang Jalan Belitung yang terkoneksi dengan Sungai Barito, hingga kanal baru di sepanjang Jalan Achmad Yani. Ini belum termasuk, Sungai Veteran, Sungai Kuripan, Sungai Tatas, Sungai Awang yang masih berdenyut, meski terus menyempit. Terparah adalah Sungai Antasan Bondan dan Sungai Antasan Raden yang kini dikuasai pemukiman.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Adhi Surya Said mengakui pola kanalisasi dipilih Belanda dalam mengatasi ancaman banjir dengan meluapnya air sungai besar di Banjarmasin, yakni Sungai Martapura dan Sungai Barito.

“Memang benar, dari hasil penelitian, sedikitnya ada lima tipe kanal yang dikembangkan era Belanda di Banjarmasin. Tipe kanal yang banyak itu berbentuk waterway yang terhubung dengan Sungai Barito dan Sungai Martapura sebagai induk dari aliran sungai kecil atau dikenal dengan istilah antasan, anjir, handil dan saka. Sedangkan, kanal lainnya yang dibuat Belanda menyangkut ketersediaan air bagi warga kota,” tutur Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com, Rabu (15/11/2017).

Planolog jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengakui banyak faktor memicu kanal-kanal itu akhirnya banyak yang mati. Termasuk, pertumbuhan pemukiman penduduk di bantaran sungai atau kanal baik buatan maupun alami.

“Makanya, banyak cerita bahwa sungai-sungai yang ada di Banjarmasin sejak era Belanda hingga tahun 1970-an atau 1980-an bisa lewati kapal besar dan masih banyak transaksi di tepian sungai menjadi kisah. Generasi sekarang, mungkin tak akan bisa menyaksikan hal itu,” ucap Adhi Surya Said.

Menurutnya, transformasi arsitektur atau perencanaan kota yang lebih menonjolkan aspek daratan, dibandingkan kembali ke basis sungai menjadi determinan dan membuat Banjarmasin seakan terkepung banjir, ketika curah hujan tinggi.

“Apa yang dirancang Thomas Karsten dengan pola kanalisasi di Banjarmasin sebetulnya bisa digali kembali. Namun, semua itu memang membutuhkan dana yang besar,” kata pegiat Lembaga Adat Kebudayaan Banjar (Lakban) Kalimantan Selatan.

Dia pun mengungkapkan 10 kanal peninggalan Belanda yang mengeliling Kota Banjarmasin justru banyak yang telah mati. Terlebih lagi, ada konsep blue green framework ala Balai Kota yang ingin mewujudkan kawasan kanal Banjarmasin lebih bagus dibandingkan Amsterdam, Belanda.

“Coba tengok, pola pembangunan yang ada di Banjarmasin seperti sistem urukan ini justru mematikan daerah tangkapan air (catchment area) dan kini berubah menjadi perumahan. Akhirnya, apa yang terjadi? Begitu hujan turun, air tak bisa lagi ditangkap, hingga menyerbu jalanan dan perumahan,” beber Adhi Surya.

Tak hanya itu, magister perencanaan wilayah dan urban ini mengungkapkan banyak regulasi yang ada di Banjarmasin seperti perda rumah panggung, pelebaran jalan yang memangkas kanal atau sungai, serta kebijakan lainnya justru bertolak belakang dengan kenyataan untuk mengembalikan kota ini menjadi kota kanal warisan Belanda.(jejakrekam)

 

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.