Dirgahayu

Pangeran Tamjid Bukan Pengkhianat Kesultanan Banjar

Foto : Wan Marley

EPOS Perang Banjar yang menyuguhkan sisi kepahlawan para pejuang Banjar dengan tokoh sentralnya, Pangeran Antasari diangkat dan diabadikan dalam sebuah film. Hingga hari kelima pada Minggu (22/10/2017), lokasi syuting film bergenre aksi heroik ini sudah mengambil take beberapa lokasi seperti Kampung Dalam Pagar Martapura, Rumah Banjar Desa Teluk Selong Kabupaten Banjar, Makam Pangeran Antasari dan Gedung Mahligai Pancasila.

TERANYAR adalah lokasi pengambilan gambar adalah di kawasan Kiram Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Dalam film ini, ada beberapa adegan tokoh yang ditonjolkan. Yaitu, Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Pangeran Tamjidillah, Demang Lehman, Prabu Anom, Ratu Siti, dan lain sebagainya.

Di balik semua itu. Ada sedikit kekhawatiran dari keturunan Kesultanan Banjar tentang film tersebut. Kekhawatiran itu adalah melenceng dari pakem sejarah yang sebenarnya. Sebagaimana disampaikan oleh Johan Rangga, keturunan keempat dari Pangeran Hidayatullah yang dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (20/10/2017).
Menurutnya, dirinya sangat mendukung pembuatan film demi membangkitkan gelora semangat juang daerah untuk melawan aksi kolonialisme. Namun, kata Johan Rangga, jangan sampai lepas dari fakta sejarah yang sebenarnya.

“Kami menyambut baik penggarapan film ini. Asalkan jangan lepas dari sejarah sebenarnya. Hati-hati roh tentang perjalanan Perang Banjar justru hilang,” pesan pria yang akrab disapa Bonang ini.

Dikatakan Bonang, sejarah yang ada saat ini banyak melenceng dan tidak sesuai dengan fakta atau aslinya. Sebab, menurut dia, hanya merujuk pada tulisan versi Belanda dan profesor sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Idwar Saleh. Padahal, beber Bonang, masih banyak tulisan lainnya yang bisa dijadikan rujukan.

Dalam tulisan Belanda dan Prof Idwar Saleh, dikritik Bonang adalah peranan Pangeran Hidayatullah dikaburkan dari yang sebenarnya. “Hati-hati pencetus Perang Banjar itu adalah Pangeran Hidayatullah. Pangeran Antasari dan lainnya hanya pasukan perang kerajaan,” beber Bonang.

Begitu pula, menurut dia, dengan peranan Pangeran Tamjidillah II, saudara Pangeran Hidayatullah yang banyak dibelokkan sebagai figur antagonis. Selama ini, Pangeran Tamjid II dianggap pengkhianat, orang yang bengis dan kaki tangan Belanda. Padahal, kata Bonang, sejarah sebenarnya tidak demikian.

“Pangeran Tamjid sengaja dibuat skenario oleh Sultan Adam untuk mendekati Belanda. Dengan begitu, maka Pangeran Tamjid bisa membantu persenjataan kepada Pangeran Hidayatullah dalam melawan Belanda. Pangeran Tamjid sangat hormat dengan adiknya Pangeran Hidayatullah. Beliau mendekati Belanda hanya untuk urusan politik. Buktinya, Pangeran Tamjid membantu pasokan persenjataan perang bagi pasukan Pangeran Hidayatullah. Dan juga, tidak pernah mau ke Martapura untuk menangkap Pangeran Hidayatullah. Dia terus-terusan berada di Sungai Mesa Banjarmasin sampai akhirnya dibuang ke Bogor,” beber Bonang.

Walhasil, Antara Pangeran Tamjid dan Hidayat bertemu ketika sama-sama dibuang ke Pulau Jawa. “Di sana mereka berpelukan. Mereka bukan musuh seperti dalam catatan sejarah,” tegasnya.Celakanya, menurut Bonang lagi, dalam film ini Pangeran Tamjid  justru digambarkan sebagai musuh dan pengkhianat. Bonang berharap jika memang demikian, maka pembuat film bisa menjelaskan di akhir cerita.

“Kalau misal seperti itu, di akhir cerita harus diceritakan. Kenapa Pangeran Tamjid jadi tangan kanan Belanda? Kalau tidak diceritakan itu tidak sesuai sejarah. Di balik sesuatu pasti ada sesuatu, lihat dari sisi kita, bukan dari sisi Belanda,” cetus Bonang.

Di sisi lain, penggagas Film Sejarah Perang Banjar, Yadi Maryadi mengatakan, cerita di film tersebut diambil dari karya H Adjim Arijadi dengan naskah berjudul Banua Kita. Dikatakan Yadi, sebenarnya ada beberapa versi naskah yang ditulis oleh almarhum budayawan dan seniman film Adjim.

Namun, menurut dia, oleh keluarga yang bersangkutan hanya dikasih satu markah, sehingga, yang dipakai dalam adegan film ini dari satu naskah tersebut. “Sebenarnya karya almarhun Adjim, ada beberapa versi. Kita minta  semuanya dan rencana dirangkum oleh tim untuk diambil yang paling mendekati sebenarnya. Tapi, dikasih satu saja jadi dipakai naskah yang ini,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Yadi, tidak jadi masalah jika film berjudul Pangeran Antasari ini ada kekurangan di sana-sini. Sebab, penggarapan perdana ini sebagai tonggak awal film sejarah Banua. Ke depan, bisa diperbaiki dan disempurnakan kembali.

“Nanti ke depan kita perbaiki, yang penting film ini selesai dulu. Bisa saja ke depan kita bikin lagi untuk versi yang paling mendekati benar. Ini kita jadikan momentum dulu untuk penggarapan film sejarah. Terlebih ada semangat dari Pemprov Kalsel bersama Gubernur H Sahbirin Noor,” tuturnya.

Yadi menyebut, setelah film selesai digarap dan ditayangkan di layar kaca, pihaknya tidak menutup diri dari kritik dan masukan demi menyempurnakan sebuah film yang mendekati sejarah sejatinya. Begitu pula, jika ada masukan dari kerabat Keraton Banjar.

“Setelah film nanti tayang silahkan bagi yang ada masukan, itu jadi catatan kita untuk perbaikan ke depan. Mudah-mudahan ke depan bisa digarap lagi dengan versi yang paling mendekati sejarah sebenarnya. Apalagi kita tahu gubernur punya semangat untuk menggarap film sejarah sebagai pembelajaran bagi generasi muda. Jadi bisa digarap lagi versi yang lebih bagus,” urai Yadi.

Masih menurut dia, rencana penggarapan film ini sudah tercetus dari tahun 1969. Kemudian, dilanjutkan lagi pada tahun 1980-an di masa kepemimpinan HM Muhammad Sa’id sampai dengan Gusti Hasan Aman. Namun, tetap tidak terlaksana. “Begitupula saat kepemimpinan Rudy Ariffin dan HM Rosehan juga tidak terlaksana. Baru pada kepemimpinan Sahbirin Noor dan Rudy Resnawan bisa diwujudkan,” jelasnya.

Sementara itu, Gusti Raden, penulis naskah film ini menambahkan, jalan cerita diilhami dari karangan H Adjim Arjadi. Namun, lanjut dia, disatukan dengan hasil riset dan seminar bersama ahli sejarah.
“Sebagian segmennya diambil dari karya H Adjim, bukan seluruhnya. Sebelumnya, saya juga melakukan riset selama 6 bulan. Riset yang didapat sama dengan naskah Pak Adjim, jadi nyambung,” ujarnya.

Raden menyebut, dalam film ini poin yang disampaikan adalah tentang semangat memperjuangkan bangsa Indonesia. Tidak ada pemain yang dikhususkan. “Yang diambil semangat perjuangan Pangeran Antasari dalam mencintai bangsa. Bukan yang diutamakan perangnya. Dan juga, bukan hanya semangat Pangeran Antasari, tapi semangat semua pejuang dalam perang Banjar,” ujarnya, seraya menambahkan jika ingin membuat film Pangeran Hidayatullah sangat bisa cerita tersendiri dengan melakukan riset ulang.(jejakrekam)

 

Penulis Wan Marley
Editor Didi G Sanusi