Revolusi Hijau Jawaban Mengatasi Krisis Lahan

TAK bisa dipungkiri akibat pertambangan yang tidak bertanggung jawab dan juga kebakaran hutan dan lahan, provinsi Kalsel semakin minim memiliki lahan. Sebab, dari seluruh lahan yang ada, 640.709 diantaranya masuk dalam kategori kritis. Untuk menanggulangi itu, perlu langkah kongkrit dari semua pihak.

SALAH satu upaya pemulihan lahan kritis adalah melalui gerakan revolusi hijau sebagaimana dicanangkan Pemerintah Provinsi Kalsel. “Target Gerakan Revolusi Hijau tersebut adalah 35 ribu hektar per tahun. Saat ini, lahan kritis di Kalsel mencapai 640.709 hektar dan hal itu sudah dianggap mengkhawatirkan,” ujar Asisten III Administrasi Umum Setdaprov Kalsel membacakan sambutan tertulis Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor disela seminar Nasional silvikuktur Indonesia ke 4 di Hotel Novotel, Rabu (23/8), kepaka jejakrekam.com.
Senada, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Prof Yudi Firmanul Arif juga mengakui hal itu. Menurutnya,  tantangan di bidang kehutanan saat ini adalah rehabilitasi lahan kritis dan cara memberdayakan hasil kehutanan.
“Tantangan di bidang kehutanan saat ini diantaranya adalah memulihkan kembali lahan kritis, misalnya lahan pasca tambang agar dapat kembali produktif. Untuk itu perlu peran ahli silvikultur untuk berinovasi dalam memulihkan fungsi hutan kita,” paparnya.
Menurut Yudi, hasil hutan selain kayu sangat dibutuhkan pasar dunia. Sehingga hal itu menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia . Saat ini, tukasnya, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan kayu sebanyak 8,7 juta kubik dari kebutuhan 350 juta kubik. Kemudian hasil hutan bukan kayu juga berpotensi untuk dikembangkan. Misalnya madu, pasak bumi dan sebagainya. Sehingga upaya pemulihan dan pengelolaan hasil hutan harus segera dilaksanakan melalui peran ahli silvikultur. “Kami sangat mendukung program revolusi hijau Pemprov, karena itu salah satu bagian pemulihan hutan dan lahan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Nasional Silvikuktur, Dr Hamdani Fauzi menambahkan, ada beberapa tipe hutan. Dan saat ini sudah hampir seluruh tipe hutan itu mengalami kerusakan berbagai macam faktor yang terus berlangsung. “Pemulihan fungsi hutan memerlukan penerapan sistem dan teknik silviktur yang tepat dalam rangka mewujudkan kelestarian produksi hutan,” ujarnya.
Karena itu, menurut Hamdani, dalam seminar yang juga dihadiri beberapa perguruan tinggi lainnya menjadi faktor penting pengembalian fungsi hutan. Sebab, dalam seminar tersebut dibeberkan tentang perkembangan penelitian dan teknik teknik silviktur. “Dalam seminar ini juga dipublikasikan hasil penelitian, pemikiran dan pengalaman berkaitan silviktur. Jadi perlu diingat untuk pengembalian hutan tidak sembarangan asal tanam, tapi ada teknik tekniknya,” urai Hamdani.(jejakrekam)

 

Penulis    : Wan Marley

Editor      : Wan Marley

Foto         : Times nusantara