Tiru Bali, Desain Objek Wisata Harus Gandeng Konsultan

KALIMANTAN Selatan memiliki segudang destinasi wisata tak kalah dengan daerah lain. Ibarat wisata saujana, Banua ini dihiasi berbagai objek wisata dari pegunungan, pantai, sungai, danau, religi, sejarah, budaya, pertamanan hingga kuliner.

IRONISNYA hingga kini destinasi wisata daerah sangat sulit untuk dijual. Bahkan, terbilang kalah bersaing dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Padahal, sektor pariwisata diyakini mampu mendongkrak perekonomian daerah dan sangat menjanjikan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Sebuta saja, Pulau Samber Gelap di Kotabaru yang menyimpan keindahan bawah laut, maupun kerindangan alam Loksado yang juga dilengkapi dengan permainan bambu rafting. Belum lagi tempat-tempat wisata lainnya.

Lantas apa kendala destinasi wisata agar bisa dijual tak hanya berskala regional, namun mampu menembus pasar nasional bahkan internasional? Dari hasil penelitian, ternyata destinasi wisata yang dijual belum tertata secara komprehensif alias didesain berdasar selera sendiri. Padahal, standar internasional sudah sepatutnya diusung agar nilai jualnya menjadi tinggi.

Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, Ida Saptika Dewi mengurai salah satu kendala adalah banyak objek wisata yang ada di Kalsel belum melibatkan konsultan wisata dalam penataan atau pengelolaannya.

“Padahal, banyak konsultan wisata yang siap membantu, tak harus membayarnya dengan mahal. Sebab, tugas konsultan ini akan mendesain konsep destinasi wisata seperti bangunan apa yang diperlukan di kawasan itu dan sebagainya,” ucap Ida Saptika Dewi kepada jejakrekam.com, Jumat (30/6/2017).

Iklan Samping 300×250

Ia mengaku aparatur pemerintah yang ditempatkan di kawasan wisata, terkadang bukan ahli ilmu pariwisata, sehingga terkadang konsep yang ditawarkan tak sesuai dengan selera pasar. “Sudah sepatutnya kita mencontoh Bali yang telah lama menggandeng konsultan wisata untuk mendesain objek-objek wisata unggulannya,” ujar Ida Saptika Dewi.

Dia mengungkapkan dengan adanya desain dan rancang bangun dari para konsultan, tentu secara detail kawasan destinasi wisata akan lebih terarah dan terta, seperti di mana kawasan parkir, bangunan penunjang, akses jalan dan sebagainya. “Nah, yang memiliki keahlian itu adalah para konsultan yang sudah ahli di bidangnya,” cetus Ida lagi.

Apakah Pemprov Kalsel sudah mengajukan dana untuk menggaet konsultan wisata dalam APBD Perubahan 2017 ini untuk memoles destinasi wisata yang ada? Ida mengakui hal itu belum dilakukan Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel. “Kami justru mendorong agar pemerintah kota dan pemerintah kabupaten selaku pemilik destinasi wisata ini untuk melibatkan konsultan ahli wisata. Nanti, kalau sudah ada alokasi anggaran, baru Pemprov Kalsel siap membantu secara keroyokan. Tentunya, porsinya bisa dibedakan mana yang menjadi domain pemerintah kota dan kabupaten, dan mana jatah porsi pembangunan yang dilakukan pemerintah provinsi,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis : Wan Marley

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : Youtube.com

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.